Pantura Tak Seramai Dahulu

Dulu, setiap musim mudik, arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur memadati jalan. Kini, jalan itu lebih sering lengang.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 09:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Langit sudah menggelap di Jalan Yos Sudarso, Kota Tegal, Jawa Tengah. Deretan warung di tepi jalur Pantai Utara Jawa itu berdiri rapat, sebagian diterangi lampu sedikit redup.

Di salah satu warung nasi sederhana, Karyati duduk di kursi kayu sambil menunggu pembeli. Perempuan 63 tahun itu sesekali menatap jalan yang melintas di depan warungnya.

Hanya beberapa sepeda motor lewat. Ia sudah lama berjualan di jalur Pantura. Kini, tak ada deru panjang kendaraan seperti yang dulu biasa memenuhi Pantura menjelang Lebaran.

Di warung kecilnya, Karyati menjual nasi campur, sayur sop, tempe, tahu, serta lauk ikan dan ayam. Dia membuka warung sejak pukul enam pagi hingga malam. Tapi beberapa tahun terakhir, dagangannya sering tak banyak terjual.

“Sekarang dapat Rp 100 ribu sehari saja susah,” katanya saat ditemui, Rabu (11/3/2026).

Warung nasi sederhana milik Karyati (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Dia masih ingat suasana Pantura sebelum 2015. Setiap musim mudik, arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur memadati jalan. Macet bisa terjadi berjam-jam. Para pemudik berhenti untuk makan, minum kopi, atau sekadar beristirahat.

Warung-warung di sepanjang jalan ikut ramai. Dalam sehari, Karyati bisa mengantongi uang hingga Rp 1 juta. Bahkan pada hari-hari puncak mudik, pembeli datang bergantian tanpa henti.

“Dulu sampai kelimpungan. Orang pada mampir semua karena macet,” ujarnya.

Perubahan mulai terasa setelah jaringan jalan tol Trans Jawa tersambung. Banyak pemudik beralih ke jalan bebas hambatan yang memotong jalur lama Pantura. Arus kendaraan di jalan nasional itu perlahan berkurang.

Sejak sekitar 2015, Karyati mulai merasakan dampaknya. Warung yang dulu dipadati pemudik kini sering lengang. Kadang-kadang sehari penuh ia hanya mendapat beberapa pembeli.

“Buka dari pagi sampai sore, Rp 100 ribu saja belum tentu dapat,” ucap dia.

Karyati hanya mengangkat bahu ketika ditanya mengapa pembeli semakin jarang datang. "Kalau ada yang mampir, itu rezeki,” katanya.

Jalan Yos Sudarso, Kota Tegal, Jawa Tengah (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Situasi serupa dirasakan Sobari, penjual rokok yang berjualan tak jauh dari warung Karyati. Ia berdiri di depan lapak kecilnya sambil memandangi jalan yang relatif lancar.

“Dulu kan macet. Sekarang sudah enggak,” kata Sobari.

Dia bercerita, pada masa-masa mudik sebelum tol dibuka, pemudik yang terjebak kemacetan sering turun dari kendaraan untuk membeli minuman atau rokok. Warung-warung baru bahkan bermunculan hingga ke halaman rumah warga.

Banyak warga membuka lapak dadakan untuk melayani pemudik yang singgah. Kini arus kendaraan memang masih ada, tetapi hanya melintas.

"Ramai kendaraan saja. Tapi yang mampir sudah sedikit," ujar dia.

 

Tak Lagi Bertumpu pada 1 Jalur

Arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan tidak lagi bertumpu pada satu jalur. Pemudik kini memiliki lebih banyak pilihan rute perjalanan menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga distribusi kendaraan diprediksi lebih tersebar.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta-Jawa Barat, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Rina Kumala Sari, mengatakan pemerintah menyiapkan seluruh jaringan jalan nasional agar siap dilalui pemudik.

“Melalui BBPJN DKI Jakarta–Jawa Barat, kami berkomitmen menyiapkan jalur mudik Lebaran yang aman dan nyaman bagi para pemudik,” kata Rina di Cirebon, Rabu (11/3/2026).

Di Provinsi Jawa Barat, panjang jalan nasional mencapai 1.782,65 kilometer yang terbagi dalam 256 ruas. Infrastruktur tersebut juga didukung 804 jembatan dengan total panjang sekitar 32,8 kilometer.

Berdasarkan hasil survei semester II 2025, tingkat kemantapan jalan nasional di Jawa Barat mencapai 97,77 persen.

Menurut Rina, terdapat tiga jalur utama yang biasa digunakan pemudik saat Lebaran. Jalur pertama adalah Pantai Utara atau Pantura yang membentang dari Bekasi hingga Cirebon.

Ruas ini melewati sejumlah kota seperti Karawang, Cikampek, Pamanukan, Indramayu, hingga Cirebon dengan total panjang sekitar 326 kilometer.

Selain Pantura, pemudik juga dapat menggunakan jalur tengah. Rute ini dimulai dari Cikampek menuju Purwakarta, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis hingga perbatasan Jawa Tengah.

Pilihan lainnya adalah jalur Pantai Selatan atau Pansela yang membentang dari perbatasan Banten, melewati wilayah seperti Cipatujah dan Pangandaran hingga perbatasan Jawa Tengah.

“Jadi sebenarnya ada tiga alternatif jalur Lebaran yang bisa dimanfaatkan oleh para pemudik,” kata Rina.

Selama ini Pantura dikenal sebagai jalur favorit karena kapasitas jalannya besar dan fasilitas penunjang relatif lengkap. Namun kepadatan kendaraan di jalur tersebut juga kerap menimbulkan kemacetan di beberapa titik.

Beberapa lokasi yang sering menjadi titik perlambatan antara lain Simpang Jomin, Simpang Mutiara, Cikopo, serta kawasan pasar di wilayah Cirebon.

“Kalau waktu tempuh memang lebih cepat lewat Pantura,” ujar Rina.

Meski demikian, sebagian pemudik kini mulai mempertimbangkan jalur alternatif. Menurut Rina, pemilihan rute biasanya dipengaruhi sejumlah faktor seperti waktu tempuh, kapasitas jalan, kondisi lalu lintas, serta ketersediaan fasilitas pendukung.

 

Jalur Selatan Jadi Alternatif

Bagi pemudik yang tidak mengejar waktu perjalanan, jalur selatan menjadi salah satu pilihan.

Di jalur Pansela, arus lalu lintas relatif lebih rendah dibandingkan Pantura. Selain itu, terdapat sejumlah objek wisata pantai yang dapat dimanfaatkan pemudik untuk beristirahat.

“Pemudik bisa berhenti sambil menikmati pemandangan laut atau objek wisata di sepanjang jalur selatan,” katanya.

Perubahan pola perjalanan juga dipengaruhi berkembangnya jaringan jalan tol. Sejumlah ruas baru seperti Jakarta-Cikampek II Selatan serta Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) mulai dimanfaatkan sebagai alternatif perjalanan.

Meski demikian, Rina menegaskan Pantura belum ditinggalkan pemudik. Jalur tersebut masih menjadi rute utama terutama bagi kendaraan roda dua.

Menurut dia, kondisi infrastruktur di jalur utara maupun selatan sama-sama mantap. Perbedaan pilihan jalur lebih dipengaruhi preferensi pemudik terhadap waktu tempuh dan kenyamanan perjalanan.

“Sekarang pemudik punya banyak pilihan jalur,” ujar Rina.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6