Konflik Timur Tengah Memanas, KSPSI Ungkap Alasan Buruh Berpotensi Terdampak

Ketum KSPSI Jumhur Hidayat menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah. Dia menilai, peperangan tersebut dapat berdampak bagi buruh di Indonesia.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 11:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Konflik Timur Tengah berpotensi berdampak negatif pada buruh Indonesia.
  • Sektor ekspor otomotif ke Timur Tengah terancam, berisiko PHK massal.
  • Kenaikan dolar akibat konflik menghambat impor bahan baku industri.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah, antara Iran melawan Amerika dan Israel. Dia menilai, peperangan tersebut dapat berdampak bagi buruh di Indonesia.

"Suasana sekarang ini memang ngeri-ngeri sedap, Kaum buruh harus mengerti juga hari demi hari, minggu demi minggu apa yang akan terjadi, dan kalau terjadi dampaknya seperti apa kepada kita," kata Jumhur dalam diskusi forum urun rembug serikat buruh di Hotel Midtown Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa (10/3/2026).

Jumhur mengambil contoh sektor otomotif. Menurutnya, 65 persen produk otomotif Indonesia ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Dari jumlah itu, 50 persen ke Timur Tengah.

"Kalau 30 persen disetop, berapa lama jangka waktunya bisa ketahuan berapa ribu buruh yang bakal di-PHK dan sebagainya. Itu baru satu sektor," tutur Jumhur.

Bayang-bayang persoalan lainnya adalah pasokan bahan baku produk yang masih bergantung pada impor.

"Kalau dolar naik ke atas, kita kesulitan bahan baku, industri juga akan berhenti," terang Jumhur.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu pendiri Indef Fadhil Hasan memberi masukan agar Presiden Prabowo Subianto harus lebih berperan secara diplomatik dalam mencegah meluasnya dampak perang di Timur Tengah.

Menurutnya, hubungan Prabowo yang luas dengan pemimpin negara-negara sahabat membuat Indonesia memiliki kelenturan dalam menggalang diplomasi dengan negara-negara lain untuk meminimalisir dampak perang.

"Kita harus dorong Presiden Prabowo untuk lebih proaktif melakukan diplomasi mencegah meluasnya dampak perang di Timur Tengah," tuturnya.

Selain itu juga memantau perkembangan dan memberi masukan untuk pemerintah juga diperlukan untuk mengantisipasi dampak negatif bagi buruh.

"Kita minta harus dimonitor, observasi, kalau perlu memberikan masukan-masukan kepada pemerintah supaya dampaknya tidak negatif," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6