BAM DPR Dorong Mediasi Polemik Lahan Bendungan Jenelata di Gowa

Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan (Aher) menegaskan, penyelesaian non-litigasi menjadi langkah yang paling tepat.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 20:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • BAM DPR RI dorong mediasi sengketa lahan Bendungan Jenelata di Gowa.
  • Lahan 39 hektar tidak memiliki status kepemilikan jelas dari pihak manapun.
  • Warga penggarap meminta penghargaan layak atas lahan yang telah diurus 20 tahun.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI mendorong penyelesaian melalui jalur mediasi dalam polemik lahan seluas 39 hektar di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan Bendungan Jenelata.

Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan (Aher) menegaskan, penyelesaian non-litigasi menjadi langkah yang paling tepat, mengingat lahan tersebut tidak memiliki status kepemilikan yang jelas, baik dari sisi warga penggarap maupun dari pihak perusahaan negara yang pernah mengelolanya.

“Ini situasi yang unik. Menurut pengakuan masyarakat, PTPN tidak memiliki HGU, Perum Kertas Gowa juga belum ada HGU. Di sisi lain, masyarakat penggarap juga belum punya hak milik. Jadi semuanya tidak ada alas hak milik,” ujar Aher usai menerima perwakilan warga di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Politikus PKS ini menegaskan, secara teknis lahan tersebut dapat dikategorikan sebagai tanah negara. Namun demikian, ia menekankan pentingnya penghargaan yang layak bagi warga yang telah menggarap dan menjadikan lahan itu produktif selama hampir dua dekade.

“Masyarakat tidak ada masalah kawasannya dijadikan Bendungan Jenelata, mereka rela. Tetapi wajar jika mereka ingin dihargai atas lahan yang selama ini telah mereka urus,” jelasnya.

Diketahui, lahan tersebut digarap oleh 22 kepala keluarga yang terbagi dalam 27 bidang tanah. Mereka mengelola lahan tersebut selama hampir 20 tahun.

 

Mediasi

Aher memastikan, BAM DPR akan mendorong persoalan ini ke Komisi VI DPR RI untuk ditindaklanjuti melalui mediasi yang adil dan mengedepankan solusi terbaik, khususnya bagi warga penggarap.

“Kita akan dorong Komisi VI untuk ada tindak lanjut. Tindak lanjutnya non-litigasi, mediasi yang wajar, yang baik, yang memuaskan semua pihak, khususnya masyarakat penggarap,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6