Investigasi KKI: Galon Tua Banyak Beredar, Lepaskan Zat Kimia yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Galon tua masih beredar yang berisiko lepaskan BPA. Konsumen diminta cek kondisi galon dan produsen bertanggung jawab atas penarikannya.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 12:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Galon air minum tua beredar luas, berisiko larutkan BPA berbahaya.
  • Paparan BPA dari galon lama picu gangguan kesuburan, metabolisme, hingga kanker.
  • Produsen didesak tarik galon tua; konsumen harus periksa kondisi galon.

Liputan6.com, Jakarta - Galon air minum guna ulang yang sudah tua dan tidak layak pakai masih banyak beredar di pasaran. Kondisi ini memicu kekhawatiran larutnya zat kimia berbahaya BPA ke dalam air yang dikonsumsi jutaan keluarga setiap hari. Investigasi terbaru oleh Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menemukan galon berusia hingga 13 tahun masih dijual bebas di Bogor.

Data KKI menunjukkan, lebih dari separuh galon di Jabodetabek (57%) berusia lebih dari dua tahun, melebihi batas aman. Bahkan delapan dari sepuluh galon tampak buram dan kusam, tanda visual kemasan sudah rusak dan berisiko tinggi melepaskan BPA.

Ketua KKI David Tobing mengungkapkan bahwa temuan tersebut bisa menyebabkan masalah kesehatan serius. “Dari investigasi kami di 60 kios di Jabodetabek, 57 persen galon yang beredar berusia di atas dua tahun. Bahkan kami menemukan galon produksi tahun 2012. Ini menunjukkan adanya masalah sistemik dalam pengawasan dan penarikan produk air minum dalam kemasan.”

Batas Pakai Galon dan Risiko Kesehatan

Menurut Profesor Mohamad Chalid dari Universitas Indonesia, galon guna ulang memiliki batas usia pakai yang jelas.

“Kalau kita batasi 40 kali (pengisian ulang), itu artinya tidak sampai setahun. Itu batas amannya,” jelasnya dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, proses pencucian dan pengisian berulang dapat merusak struktur kimia plastik, menyebabkan molekul BPA terlepas ke air minum. Paparan BPA jangka panjang dikaitkan dengan gangguan kesuburan, masalah metabolisme seperti obesitas dan diabetes, gangguan perkembangan otak janin, hingga risiko kanker payudara dan prostat.

Seruan Produsen Bertanggung Jawab dan Tips Konsumen

Menanggapi temuan ini, BPKN mendesak produsen bertindak cepat. Anggota BPKN, Fitrah Bukhari, menegaskan agar produsen segera mengambil tindakan tanpa harus menunggu paksaan hukum.

“Kami meminta (produsen) untuk beritikad baik supaya galon-galon yang sudah lama, yang sudah berusia lanjut itu dapat ditarik kembali. Ini seruan moral walaupun secara hukum itu masih diberlakukan beberapa tahun lagi, tapi secara moral produsen punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatan, apalagi air minum ini kan termasuk hajat hidup.

BPKN berencana melakukan penelitian independen. Sementara itu, konsumen dianjurkan memeriksa kondisi fisik dan kode produksi galon sebelum membeli, serta menolak galon air minum yang sudah tua dan tidak layak pakai untuk melindungi kesehatan keluarga.

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6