Ketua DPRD DKI Jakarta Ajak Dialog, Selesaikan Polemik RDF Rorotan

Ketua DPRD DKI Khoirudin dorong Pemprov dan warga duduk bersama cari solusi teknis soal keluhan bau & emisi RDF Rorotan, utamakan dialog.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin meminta semuah pihak untuk mencari solusi bersama tentang pengoperasian RDF Rorotan yang sampai saat ini masih dipermasalahkan oleh warga sekitar lokasi.

"Ini masalah kita bersama, saya berharap kita duduk bareng untuk memikirkan solusi bersama," katamya. Dikutip dari Antara, Selasa 3 Februari 2026.

Khoirudin mengatakan, RDF Plan Rorotan dibangun menggunakan dana yang lumayan besar, dan harapannya dapat mengurangi masalah sampah yang terjadi di Ibu Kota.

Menurutnya, permasalahan yang terjadi harus dicari solusinya secara bersama-sama, karena sampah sudah menjadi masalah berlarut, apalagi jika setiap hari bisa menghasilkan 8 ribu ton lebih.

"Untuk Rorotan tentu semua yang kita sediakan untuk masyarakat dan kita akan diskusi lagi dengan masyarakat, karena ini dana yang cukup besar yang kita gelontorkan," ucap Khoirudin.

Desakan untuk berdialog ini muncul seiring dengan upaya teknis yang sebenarnya tengah digenjot oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dilaporkan telah meningkatkan teknologi pengendalian pencemaran udara di lokasi tersebut sebagai respons cepat atas keluhan warga. 

Langkah konkret yang diambil meliputi penambahan unit deodorizer (penetral bau) dari yang semula tiga unit menjadi empat unit, serta optimalisasi perangkat pengendali polusi udara (air pollution control devices). 

Peningkatan teknologi ini ditujukan untuk meminimalkan potensi sebaran bau tidak sedap yang selama ini menjadi sumber ketidaknyamanan warga sekitar, terutama yang disebabkan oleh tercampurnya sampah organik dan anorganik dalam proses pengolahan.

Lebih jauh, Khoirudin menekankan, keberadaan RDF Plant Rorotan sangat vital sebagai salah satu solusi hulu untuk mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang kapasitasnya kian kritis. 

"Fasilitas ini dirancang untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara, yang memiliki nilai ekonomis dan lingkungan. Oleh karena itu, penutupan fasilitas bukanlah opsi yang bijak mengingat besarnya investasi dan urgensi penanganan sampah kota," terang dia.

Melalui forum diskusi yang inklusif antara warga, DPRD, dan Pemprov DKI, diharapkan tercapai titik temu di mana operasional pengolahan sampah tetap berjalan efektif tanpa mengorbankan kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah Rorotan. 

"Solusi win-win inilah yang kini tengah diupayakan agar transformasi pengelolaan sampah Jakarta tidak terhambat oleh kendala sosial," kata Khoirudin.

Upaya Mitigasi Melalui Peningkatan Teknologi APCD

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tidak hanya diam dalam menghadapi dinamika operasional pengolahan sampah modern di wilayah.

Sebagai langkah konkret dalam merespon tantangan teknis di lapangan, DLH DKI Jakarta secara proaktif meningkatkan standar teknologi pengendalian RDF Plan Rorotan.

Langkah ini diambil sebagai wujud komitmen serius pemerintah dalam menjalankan pengelolaan limbah yang tidak hanya efisien secara operasional, tetapi juga ramah terhadap ekosistem sekitar. 

Fokus utama dari pembaruan infrastruktur ini adalah pemasangan sejumlah peralatan canggih yang dirancang khusus untuk menetralisir dampak negatif operasional pabrik.

"Peningkatan teknologi ini kami lakukan untuk meminimalkan potensi dampak lingkungan, khususnya terkait bau dan emisi udara," kata Khoirudin.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kenyamanan lingkungan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar dalam proyek strategis ini. 

Menurut dia, RDF Plant Rorotan telah melakukan peningkatan pada sistem perangkat pengendali polusi udara (air pollution control devices/APCD) sebagai bagian dari komitmen pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. 

"Sistem APCD yang diperbarui ini berfungsi sebagai filter canggih yang menyaring partikel halus dan gas buang sisa pengolahan sebelum dilepaskan ke udara bebas," ucap Khoirudin.

Dengan adanya pembaruan ini, diharapkan operasional pabrik pengolah sampah menjadi energi ini dapat memenuhi baku mutu udara yang ketat, sekaligus membuktikan bahwa infrastruktur pengelolaan sampah skala besar dapat berdampingan dengan lingkungan jika dikelola dengan teknologi yang tepat dan adaptif.

Optimalisasi Deodorizer Jawab Keluhan Warga

Selain peningkatan pada sistem penyaringan udara secara umum, strategi pengendalian aroma tidak sedap juga menjadi fokus pembenahan utama. 

Bau menyengat seringkali menjadi isu paling sensitif yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang bermukim di radius terdekat dari fasilitas pengolahan sampah. 

Menyadari urgensi hal tersebut, pengelola fasilitas mengambil langkah taktis dengan menambah kapasitas alat pengendali bau di titik-titik krusial. 

Untuk itu, di RDF Rorotan saat ini telah terpasang empat unit alat penetral bau tak sedap (deodorizer), meningkat dari sebelumnya tiga unit, yang bekerja menekan bau sejak dari sumber proses sebelum berpotensi menyebar ke lingkungan sekitar. 

Penambahan unit ini dilakukan untuk menutup celah penyebaran aroma dari tumpukan material sampah basah yang baru masuk ke area homogenization pit.

Langkah perbaikan ini merupakan respons langsung dan cepat terhadap aspirasi sosial yang berkembang di masyarakat. Sebelumnya, warga sekitar masih mengeluhkan pengoperasian RDF Plant Rorotan yang dinilai mencemari lingkungan mereka, terutama terkait bau sampah dan membuat warga sekitar tidak nyaman. 

Keluhan tersebut menjadi catatan evaluasi penting bagi DLH untuk terus menyempurnakan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi. Dengan skema penyemprotan agen penetral bau yang lebih intensif dan merata melalui empat unit deodorizer tersebut, diharapkan durasi dan intensitas paparan bau ke pemukiman warga dapat diredam secara signifikan. 

Pemerintah berharap solusi teknis ini dapat mengembalikan kenyamanan hidup warga Rorotan, sehingga keberadaan fasilitas pengolahan sampah Jakarta ini tidak lagi dianggap sebagai ancaman kesehatan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6