Mensesneg: Presiden Prabowo Tak Bertemu Tokoh Oposisi, Tapi Tokoh Nasional

Sejumlah tokoh yang hadir yakni, Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji.

Diterbitkan 02 Februari 2026, 11:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi meluruskan pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh beberapa hari lalu. Prasetyo menekankan tokoh yang berbincang bersama Presiden bukanlah mereka yang berada di garis oposisi pemerintah.

"Bukan tokoh oposisi. Tapi beliau bertemu dengan tokoh-tokoh nasional yang memiliki kepedulian di bidangnya masing-masing," kata Prasetyo di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). 

Prasetyo menuturkan tidak ada tokoh partai politik yang hadir dalam pertemuan tersebut. Sejumlah tokoh yang hadir yakni, Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji. 

Mensesneg menjelaskan, pertemuan itu merupakan salah satu cara Prabowo berkomunikasi dengan sejumlah tokoh. Dalam pertemuan itu, Prabowo berdiskusi, menampung masukan, serta menjelaskan program-program yang dijalankan pemerintah. 

"Inilah cara Bapak Presiden selama ini berkomunikasi, ada yang terbuka, ada yang tertutup dalam rangka berdiskusi menerima masukan sekaligus memberikan penjelasan juga terhadap program-program yang sedang dijalankan pemerintah dan Bapak Presiden yang berorientasi kepada kepentingan bangsa dan negara, dan kepentingan masyarakat," jelas Prasetyo. 

Prabowo membuka kemungkinan kembali menggelar pertemuan dengan tokoh nasional lainnya. Menurut Prasetyo, semua elemen masyarakat harus duduk bersama demi kemajuan Indonesia.

"Ada beberapa, yang nanti juga akan terus kita lanjutkan dengan tokoh-tokoh yang lain, kan kita semua harus duduk bersama," ucap Prasetyo. 

Prasetyo memastikan tak ada pembicaraan spesifik soal pengembalian Undang-Undang (UU) KPK menjadi seperti sebelum direvisi. Namun, tdaik menampik adanya pembicaraan serius mengenai upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. 

"Jadi, beliau (Presiden) ingin mendapatkan penjelasan dan bagaimana ini sekali lagi, korupsi adalah pekerjaan rumah bagi kita semuanya," sambung Prasetyo.

Bahas Kebocoran Anggaran

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat bertemu dengan tokoh-tokoh yang dinilai sebagai oposisi pemerintah pada Jumat, 30 Januari 2026 malam.

"Tadi malam Bapak Presiden dan beberapa tokoh-tokoh nasional yang tanda kutip mengatakan oposisi," tutur Sjafrie saat memberikan materi kepada anggota Persatuan Wartawan Indonesia yang mengikuti retreat di fasilitas Pusat Kompetensi Bela Negara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan, Cibodas, Rumpiang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).

Sjafrie mengatakan, pertemuan itu membahas tentang pentingnya sebuah negara dikelola dengan baik oleh semua. Sementara, banyak pihak yang kerap membuat kondisi negara tidak diuntungkan, baik dari segi pemanfaatan sumber daya alam hingga perputaran keuangan.

Menurutnya, pihak-pihak yang dimaksud itu mulai dari swasta yang tidak mau mengikuti regulasi usaha demi keuntungan pribadi, hingga dugaan anggaran negara yang bocor.

"Bahkan saya menerima (laporan) kurang lebih Rp 5,777 triliun (dari) bank Himbara yang menyalurkan kepada korporasi. Padahal kita punya APBN Rp 300 sekian triliun. Ke mana kebocoran (anggaran) itu?," kata dia.

Sjafrie tidak menutup mata bahwa ada kemungkinan penyebab terjadinya kerugian negara itu berasal dari internal pemerintah sendiri. Sebab itu, dalam pertemuan dengan para tokoh oposisi, Prabowo ingin mengajak mereka membenahi negara secara ersama-sama.

"Oleh karena itulah saya ingin menyampaikan bahwa kita harus realistis melihat situasi. Kita jangan tutup tutupi keadaan yang bisa membuat negara kita itu kesulitan," jelas dia. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6