Menag Nasaruddin Soroti Dinamika di Internal NU Saat Harlah Ke-100

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti dinamika yang terjadi di internal Nahdlatul Ulama (NU) saat puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU.

Diterbitkan 31 Januari 2026, 13:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Menag menyoroti dinamika internal NU saat Harlah ke-100, namun keharmonisan tetap terjaga.
  • Dinamika dan perbedaan pandangan menjadi kekuatan NU dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.
  • NU menjaga keseimbangan dinamika dan keharmonisan, tetap menjadi kekuatan besar bangsa.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti dinamika yang terjadi di internal Nahdlatul Ulama (NU) saat puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, meski penuh dinamika, suasana kekeluargaan dan keharmonisan di NU tetap terjaga. Nasaruddin menilai perjalanan 100 tahun NU menunjukkan kematangan organisasi, meski diwarnai perbedaan pandangan yang intens di internalnya.

“NU itu seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah,” kata Nasaruddin.

Ia menggambarkan NU sebagai pesantren besar yang sejak awal terbiasa dengan perdebatan dan perbedaan pandangan, semisal dalam hal kajian keilmuan dan mazhab. Menurut dia, dinamika tersebut justru menjadi kekuatan NU dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.

“Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika, ada pembahasan-pembahasan antar madzhab; Madzhab Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, Ahmad bin Hambal. Dan kadang-kadang sangat panas diskusinya,” katanya.

 

Perbedaan Tak Rusak Tatanan Etika dan Akhlak

Meski demikian, Nasaruddin menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak pernah merusak tatanan etika dan akhlak dalam lingkungan NU. Ia mencontohkan ihwal tradisi santri yang tetap menjunjung tinggi adab kepada kiai, meskipun terjadi perbedaan pendapat.

“Sungguhpun antara mungkin santri dengan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai,” ucapnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menyebut NU memiliki kemampuan menjaga keseimbangan antara dinamika dan keharmonisan. Dia bilang, NU tidak menghapus perbedaan, tetapi juga tidak membiarkannya menjadi sumber perpecahan.

“Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dibangun oleh Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

 

Tetap Jadi Kekuatan Besar Bangsa

Dalam konteks masa depan, Menag menilai NU akan terus menjadi salah satu wadah kekuatan besar bangsa Indonesia, selama NU mampu mengelola dinamika internal secara dewasa dan kolektif.

“Insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini,” kata Nasaruddin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6