BRIN Kembangkan Kemasan Kertas Minyak Nabati, Solusi Ramah Lingkungan

Peneliti BRIN mengembangkan lapisan kertas berbahan lemak nabati sebagai alternatif kemasan makanan ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kemasan makanan berbahan kertas kini semakin sering digunakan, terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang (take-out-foods/drinks).

Saat ini, lapisan yang paling umum digunakan masih berbahan plastik, seperti polyethylene. Penggunaan lapisan plastik inilah yang kemudian menimbulkan persoalan lingkungan.

Kombinasi kertas dan plastik membuat kemasan sulit diproses kembali, baik melalui daur ulang maupun pengomposan. Selain itu, keberadaan plastik pada lapisan pelindung juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi kesehatan

Sejumlah komponen kimia dalam plastik, termasuk zat aditif seperti plasticizer, berpotensi berpindah ke makanan atau minuman yang dikemas. Jika terpapar dalam jangka panjang, zat-zat tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan konsumen.

Merespons masalah ini, Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zatil Afrah Athaillah, mengembangkan teknologi pelapisan kertas berbahan lemak nabati sebagai alternatif kemasan makanan yang ramah lingkungan.

“Lapisan ini berfungsi mencegah migrasi air dan minyak dari makanan, supaya tidak bocor atau merembes. Tapi karena bahannya plastik, ada persoalan keberlanjutan dan juga keamanan pangan,” kata Zatil, dilansir dari Antara, Rabu (21/1/2026). 

Dengan mempertimbangkan aspek kepraktisan, keberlanjutan, serta keamanan pangan, Zatil mengembangkan teknik pelapisan kertas menggunakan bahan lemak nabati. Penelitian ini mulai dikerjakan sejak awal 2025.

Minyak Nabati untuk Pelapis Kertas

Dalam penelitian tersebut, Zatil menguji beberapa jenis minyak nabati, seperti minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Berbagai minyak ini dipilih karena memiliki sifat yang mendukung pembentukan lapisan pelindung pada permukaan kertas.

Di sisi lain, minyak sawit dan minyak zaitun dicoba dalam pengujian. Namun, hasilnya belum sesuai harapan karena kertas yang dilapisi kedua minyak tersebut masih dapat ditembus air dan minyak.

Keberhasilan pelapisan diuji melalui metode sederhana dengan meneteskan air dan minyak di atas permukaan kertas. 

Pengamatan dilakukan hingga 60 menit untuk melihat apakah terjadi rembesan ke bagian bawah. Jika selama periode tersebut kertas tidak berubah tampilan dan tetap menahan air maupun minyak, maka pelapisan dinilai berhasil.

Penentuan batas pengujian selama 60 menit didasarkan pada pertimbangan teknis penelitian, bukan karena setelah melewati waktu tersebut kertas akan langsung tembus.

“Kalau diperlukan, sebenarnya pengujian bisa dilakukan lebih lama,” katanya.

Hasil Pengamatan Mikroskop

Selain uji tetes sederhana, tim peneliti juga melakukan pengamatan lanjutan dengan menggunakan mikroskop 3D. Melalui alat tersebut, bentuk tetesan air dapat diamati dari sisi samping permukaan kertas, sekaligus dilakukan pengukuran sudut kontak antara air dan kertas. 

Hasil pengamatan ini memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara kertas tanpa pelapis dan kertas yang telah dilapisi minyak nabati.

Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air terlihat mudah menyebar dan melebar di permukaan. Sebaliknya, pada kertas yang dilapisi minyak nabati, tetesan air cenderung mempertahankan bentuknya dan tampak lebih membulat. 

Pengukuran menunjukkan sudut kontak air mendekati 90 derajat, yang menandakan permukaan kertas memiliki ketahanan lebih baik terhadap air atau bersifat hidrofobik.

Pengembangan Riset Kemasan Kertas

Pengujian lanjutan juga dilakukan untuk menilai kualitas kertas berlapis minyak nabati. Sejumlah metode digunakan, antara lain uji kekuatan dan kelenturan kertas dengan texture analyzer, analisis gugus fungsi menggunakan fourier transform infrared (FTIR), serta uji kristalinitas melalui x-ray diffraction (XRD).

Selain itu, peneliti turut melakukan uji kekentalan minyak dan analisis komposisi asam lemak. Morfologi kertas diamati menggunakan berbagai teknik mikroskopi, termasuk scanning electron microscopy (SEM).

“Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis,” ujar Zatil.

Saat ini, lembaran kertas berlapis dan belum diaplikasikan dalam bentuk produk kemasan. Namun demikian, metode yang dikembangkan telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.

Zatil berharap riset ini dapat dikembangkan lebih lanjut, termasuk pengujian sensori untuk mengetahui pengaruh lapisan terhadap rasa dan aroma minuman. Ia juga tertarik memanfaatkan epicuticular lipid dari daun atau kulit buah sebagai bahan pelapis alternatif. 

“Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6