Langkah Strategis Indonesia jadi Perancang Bersama World Economic Forum 2026

Kehadiran aktif Indonesia di WEF 2026 menegaskan peran negara ini bukan sekadar sebagai pasar investasi, melainkan sebagai mitra strategis yang turut merumuskan solusi atas tantangan global melalui dialog dan kolaborasi jangka panjang.

Diterbitkan 23 Januari 2026, 09:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - World Economic Forum (WEF) 2026 dilaksanakan di Davos, Swiss pada 19-23 Januari 2026. Kota pegunungan yang terletak dibagian timur Swiss itu kembali ramai oleh gagasan-gagasan besar, janji kerja sama, serta apungan optimisme.

Indonesia turut hadir di WEF pada tahun ini, kehadirannya bukan kebetulan, melinkan Indonesia dengan kebiasaannya yang sengaja dirawat.

Menjadikan WEF 2026 di Davos menjadi penanda bahwa konsistensi Indonesia dalam memakai diplomasi ekonomi dengan proses jangka panjang, bukan hanya agenda musiman, dilansir dari Antara, Jumat (23/1/2026).

Indonesia hadir ke WEF bukan hanya untuk memastikan namanya tercantuk sebagai daftar peserta. Tetapi, ada pesan yang ingin disampaikan bahwa Indonesia ingin dilihat, didengar dan juga dilibatkan.

Ditengah dunia yang semakin terfragmentasi, konsistensi menjadi salah satu nilai tambah. Banyak negara yang hadir saat kondisi sedang menguntungkan, lalu menghinlang saat situasi tidak ramah. Tetapi Indonesia tetap hadir, tetap bicara, dan tetap membuka ruang dialog.

Selama ini tidak sedikit negara berkembang terjebak dalam peran klasik, yaitu menjadi tujuan modal, lalu setelah itu selesai. Investor datang, bangun pabrik, panen keuntungan, dan hubungan berhenti.

Indonesia tidak ingin terjebak ditempat yang sama, investasi tetap penting, tetapi perannya tidak ingin pasif. Ada juga kehendak untuk ikut menyusun agenda dengan bersama, bukan hanya sekedar menjadi penerima keputusan semata.

Momentum yang Tepat

Tahun ini, tema WEF bertajuk A Spirit of Dialogue. Tema tersebut datang dengan momentum yang pas.

Saat dunia sedang penuh kecurigaan, geopolitik sedang saling sikut, dan juga ekonomi global yang memasuki jalan berkabut, dalam situasi ini, dialog bukan lasi hanya basa-basi, melainkan sebuah kebutuhan.

Indonesia membaca momentum dengan cukup jernih dan memilih untuk hadir secara aktif di Davos. Pada titik inilah istilah mitra strategis mendapat maknanya, yaitu bukan hanya soal uang yang masuk, tetapi juga peran yang diakui.

Kehadiran Indonesia dalam pendekatan Indonesia Incroporated menjadi penegasan, negara dan juga dunia usaha bergerak bersama-sama. Yang ditawarkan bukan hanya suara satu lembaga, tetapi sikap bersama sebagai sebuah bangsa.

Disaat yang sama, keberadaan Indonesia Pavilion dengan tema Endless Horizons bukan hanya tanpa maksud. tetapi keinginan menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekedar cerita satu bab. Melainkan ada banyak pintu yang bisa dibuka, dari hilirisasi sampai ekonomi hijau.

Salah satu modal utama Indonesia adalah stabilitas, di dunia yang rawan gaduh, stabilitas justru menjadi hal yang langka. Dan Indonesia punya reputasi tersebut, meskipun sering tidak disadari sendiri.

Disinilah makna menjadi co-creator solusi globaal dalam menemukan konteksnya. Indonesia tidak hanya menawarkan keamanan, melainkan juga kesiapan untuk ikut memikul beban bersama.

Mulai dari transisi energi, ketahanan pangan, hingga pembenahan rantai pasok yang lebih manusiawi. Peran tersebut memang tidak mudah, tetapi justru nilainya berada didalamnya.

Yang Paling Dipercayai

Joseph Nye, yaitu pakar politik dan hubungan internasional dari Harvard University, dan juga penulis buku dengan judul The Future of Power (2011), disebutkan konsep soft power sebagai kemampuan dalam mempengaruhi daya tarik, bukan tekanan.

Dan WEF Davos sebuah panggung soft power yang sangat-sangat nyata. Yang kuat bukan berarti keras, tetapi yang paling bisa dipercaya.

Indonesia berusaha menjadi peran tersebut dengan caranya sendiri, lewat dialog, sikap moderat, dan pendekatan konfrontatif. Tidak selalu spektakuler, tetapi relatif konsisten.

Di acara Indonesia Night yang digelar disela WEF Davos menjadi sebagian dari strategi soft power tersebut. Acara tersebut diposisikan sekedar sebagai jamuan seremonial, dirancang sebagai ruang perjumpaan yang lebih cair, tempat percakapannya juga bisa mengalir tanpa tekanan dari agenda resmi. Dilansir dari Antara.

Dalam ruang tersebut, relasi sering tumbuh secara lebih alami, tidak semua hal dibicarakan lewat podiom dan naskah pidato, tetapi justru di sela musik dan obrolan santai, kepercayaan kerap mulai terbentuk.

Lewat pendekatan tersebut, Indonesia ingin tampil lebih manusiawi, bukan negara yang hanya berbicara soal angka, insentif, dan regulasi. Tetapi, mitra yang bisa diajak untuk memahami konteks, nilai, dan arah kerja sama untuk jangka panjang.

WEF memberikan panggung untuk melakukan peran tersebut. Bukan untuk memihak, tetapi menjembatani, bukan untuk menggurui, tetapi menawarkan sebuah pengalaman.

Forum seperti Davos pada dasarnya hanyaalah titik temu. Nilainya tidak berhenti di bangku diskusi dan pertemuan, tetapi tantangan sesungguhnya justru terletak pada tindak lanjutannya, ketika komitmennya diuji lewat pelaksanaan nyata dan dampaknya bagi ekonomi sekaligus lingkungan juga.

Bila konsistensi dijaga terus-menerus, Indonesia memiliki peluang untuk dipandang lebih dari sekedar pasar besar, tetapi juga bisa dilihat sebagai mitra strategis yang mampu untuk berfikir bersama dalam mencari solusi global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6