Densus Beberkan Pengakuan dan Rencana Ekstrem Anak Tergabung Grup True Crime Community

Seorang anak berniat melakukan kekerasan di sekolah dan mengunggah aksinya ke komunitas TCC. Rencana itu berhasil digagalkan berkat intervensi cepat bersama Polda Jawa Tengah.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 17:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Densus 88 temukan 70 anak di TCC, grup berisi konten kekerasan ekstrem.
  • Anak-anak ini merencanakan pengeboman kelas, pembantaian guru, dan bunuh diri.
  • Rencana kekerasan berhasil digagalkan, namun beberapa anak masih ingin melakukan kekerasan.

Liputan6.com, Jakarta - Densus 88 Antiteror mendapati 70 anak di berbagai daerah di Indonesia teridentifikasi tergabung dalam komunitas media sosial True Crime Community (TCC). Grup yang  sarat konten kekerasan ekstrem, mulai dari Neo Nazi, White Supremacy, hingga tutorial pembuatan bom. 

Hasil penyelidikan terungkap, sejumlah anak merancang pengeboman ruang kelas. Mereka menyasar siswa rekannya. Tak hanya itu, mereka juga berniat mencelakai guru, menyabotase CCTV, lalu mengakhiri hidup dengan bunuh diri. 

"Dari interview yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di dalam wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas. Lalu membantai guru, mensabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru," ujar Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana di Jakarta, Rabu (7/1/2026). 

Insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara tahun lalu menjadi salah satu contoh kasus. Sebelum insiden itu, ternyata Polisi sudah mendeteksi aksi serupa di Jepara. 

Seorang anak berniat melakukan kekerasan di sekolah dan mengunggah aksinya ke komunitas TCC. Rencana itu berhasil digagalkan berkat intervensi cepat bersama Polda Jawa Tengah. 

Pasca insiden Jakarta, upaya pencegahan terus dilakukan. Rencana kekerasan serupa berhasil digagalkan di Kalimantan Barat pada 8 Desember 2025 dan di Jawa Timur pada 17 Desember 2025. 

Hingga 22 Desember 2025, Mabes Polri bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan intervensi serentak terhadap puluhan anak lain yang teridentifikasi dalam jaringan ini. 

Dia melanjutkan, yang mengkhawatirkan, meski sudah ditangani dengan baik namun ada anak yang ternyata masih menunjukkan keinginan kuat untuk melakukan kekerasan. Mereka terhubung dengan jaringan ekstrem internasional berbasis daring. 

"Pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional, terdeteksi dengan REDA yaitu pendiri kelompok BNTG di Prancis, yaitu Barber Nationalist Third Positionist Group. Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis," jelasnya.

Bahaya Anak Masuk Jebakan Terorisme

Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono menuturkan, salah satu yang menjadi sorotan adalah paparan anak-anak melalui grup True Crime Community (TCC). Konten kekerasan yang dikonsumsi secara terus-menerus berpotensi membentuk pola pikir ekstrem, meski belum masuk pada tahap ideologi teror.

Anak-anak bisa terjebak dalam paham ekstremisme, kemudian radikalisme, dan terakhir terorisme. Ini bisa terjadi jika anak tidak ditangani dengan baik. 

“Sejak dini kalau tidak ditangani dengan serius dan tidak sinergi dan kolaborasi kementerian/lembaga, ini akan menjadi ancaman ke depannya, khususnya ancaman terorisme," papar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6