Prakiraan Cuaca Hari Ini Sabtu 10 Januari 2026: Mayoritas Jabodetabek Diguyur Hujan Seharian

Wilayah Jakarta dan sekitarnya diperkirakan masih akan didominasi hujan ringan hingga sedang pada Sabtu (10/1/2026). Demikian prakiraan cuaca hari ini.

Diterbitkan 10 Januari 2026, 06:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Jakarta dan sekitarnya diprakirakan masih akan didominasi hujan ringan hingga sedang pada Sabtu (10/1/2026). Demikian prakiraan cuaca hari ini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG melaporkan, pagi hari hujan ringan berpotensi turun merata di seluruh wilayah DKI Jakarta, mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, hingga Jakarta Utara.

Kondisi tersebut berlanjut hingga siang hari, meski intensitas hujan di beberapa wilayah diperkirakan meningkat.

Pada siang hari, Jakarta Timur berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang, sementara wilayah lain seperti Jakarta Selatan masih diguyur hujan ringan. Adapun Jakarta Barat dan Jakarta Utara diprakirakan berawan tebal pada siang hari.

Memasuki malam hari, hujan ringan kembali berpotensi turun di hampir seluruh wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Barat yang diperkirakan berawan tebal. Di Kepulauan Seribu, hujan ringan diprediksi terjadi sepanjang hari, mulai pagi hingga malam.

Untuk wilayah penyangga Jakarta, Bekasi, Jawa Barat diprakirakan mengalami hujan ringan pada pagi hari, kemudian meningkat menjadi hujan sedang pada siang hari, sebelum kembali hujan ringan pada malam hari.

Kota Depok, Jawa Barat diprakirakan mengalami udara kabur pada pagi hari, lalu hujan ringan pada siang hingga malam. Sementara Kota Bogor, Jawa Barat diprediksi berawan tebal pada pagi hari, disusul hujan sedang pada siang hari, dan hujan ringan pada malam hari.

Ada pun Tangerang, Banten, diperkirakan hujan ringan pada pagi hari, kemudian berawan tebal pada siang hingga malam hari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang, khususnya pada siang hari, yang dapat berdampak pada aktivitas dan kondisi lalu lintas di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Berikut informasi cuaca Jabodetabek selengkapnya dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:

 Kota  Pagi  Siang   Malam 
 Jakarta Barat  Hujan Ringan  Berawan Tebal  Berawan Tebal 
 Jakarta Pusat   Hujan Ringan  Berawan Tebal  Hujan Ringan 
 Jakarta Selatan  Hujan Ringan   Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Jakarta Timur   Hujan Ringan  Hujan Sedang  Hujan Ringan 
 Jakarta Utara   Hujan Ringan  Berawan Tebal  Hujan Ringan 
 Kepulauan Seribu   Hujan Ringan  Hujan Ringan  Hujan Ringan 
 Bekasi   Hujan Ringan  Hujan Sedang  Hujan Ringan 
 Depok   Udara Kabur  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Kota Bogor   Berawan Tebal  Hujan Sedang  Hujan Ringan
 Tangerang  Hujan Ringan  Berawan Tebal  Berawan Tebal

Waspada Cuaca Ekstrem, Harga Pangan Berpotensi Melonjak Jelang Ramadan 2026

Sebelumnya, cuaca ekstrem yang diprediksi hingga Maret 2026 turut membayangi kenaikan harga pangan nasional. Pasalnya, stok pangan bisa berkurang imbas gagal panen di sejumlah komoditas pangan.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah menilai ada kekhawatiran cuaca ekstrem membuat sektor pertanian gagal panen. Akhirnya, stok menipis dan mengerek harga di tingkat konsumen.

"Setiap momen hari raya permintaan pangan cenderung naik. Tahun lalu rata-rata naik hingga 7 persen. Kenaikan ini diikuti dengan kenaikan harga yang kerap berujung inflasi yang naik pula," kata Said saat dihubungi Liputan6.com, Rabu 7 Januari 2026.

Menurutnya, perlu ada antisipasi terhadap kondisi pertanian saat ini yang dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Said memandang ada beberapa komoditas yang memang rentan terhadap cuaca.

"Situasi sekarang yang banyak hujan tentu dapat mempertaruhkan produksi pertanian terutama pada tanaman hortikultura juga padi. Serangan hama penyakit yang meningkat, kegagalan panen menjadi situasi yang terjadi," tuturnya.

Mengingat lagi, produksi hortikultura misalnya yang hanya terkonsentrasi di beberapa wilayah saja. Alhasil, jika terdampak cuaca ekstrem, bisa berpengaruh ke pasokan di daerah lain.

"Kelangkaan pasok ini menyebabkan harga terkerek naik. Tentu ini bisa beresiko karena di momen permintaan tinggi stok harusnya juga tinggi. Situasi ini haruslah bisa diantisipasi dengan baik. Karena produksi pertanian kita terutama Horti dan padi terkonsentrasi pada wilayah tertentu saja," beber Said Abdullah.

Pasokan Cabai Aman Jelang Ramadan

Sebelumnya, pasokan cabai dipastikan mampu memenuhi kebutuhan ramadan meski kebun petani lokal dibayangi cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan ini. Namun, petani berharap ada bantuan biaya logistik agar harga bisa terkendali.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, memastikan produksi cabai bisa mencukupi kebutuhan pada hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti ramadan nanti. Tingkat produksi petani, diakuinya sesuai dengan hitungan pemerintah.

"Artinya data dari lapangan maupun yang dipegang pemerintah itu tidak terlalu jauh melesetnya, kami prudent, kami optimis untuk HBKN itu akan aman," kata Tunov saat dihubungi Liputan6.com, Selasa 6  Januari 2026.

Dia mengamini ada tantangan dari cuaca ekstrem selama proses produksi cabai di berbagai wilayah. Tekanan dari cuaca ini bisa mempengaruhi harga di pasaran nantinya, termasuk di tingkat petani.

Kendati begitu, dia kembali memastikan jumlah produksi cabai bisa memenuhi kebutuhan, menyusul proyeksi panen raya cabai di awal tahun 2026 ini.

"Memang cuaca nanti akan menentukan harga. Tapi kalau secara produksi, kami petani sudah menyiapkan lebih banyak daripada kebutuhan," sebutnya.

Tunov menyampaikan, meski produksi lokal bisa memenuhi kebutuhan nasional, petani cabai masih membutuhkan subsidi dari pemerintah. Terutama pada aspek biaya logistik pengiriman hasil panen dari sentra produksi.

"Pasti, kalau itu kami petani pasti butuh, karena bagaimanapun yang namanya biaya logistik dari Jawa ke Sumatera, dari Jawa Tengah, Jawa Timur ke Jakarta, Jabodetabek, itu kan harga logistik itu, biaya logistik itu kan dibebankan ke harga produk," tutur dia.

Atas skema itu, biaya pengiriman akan dibebankan kepada petani. Tunov ingin pemerintah memastikan subsidi logistik tidak dinikmati pengusaha besar. "Tapi bisa dinikmati oleh petani, nah monggo itu regulasi pemerintah yang akan mengatur itu agar tepat sasaran, karena yang butuh kami petani, para produsen," bebernya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6