Liputan6.com, Jakarta - Di lantai dua bangunan sederhana bercat hijau, suara Ipda Yunus Labba mengalun pelan memimpin doa. Puluhan anak duduk bersila di depannya, tangan terlipat rapi, mata tertutup dalam kekhusyukan. Malam 28 Desember 2025 itu, suasana di Panti Asuhan Generasi Pengubah terasa hangat dan tenang.
Usai doa, mereka bergeser ke ruang makan. Yunus duduk di antara anak-anak, membaur tanpa sekat. Suara piring beradu dengan senda gurau kecil yang memecah sunyi di Jalan HR Koroh KM 8, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Malam belum usai. Setelah makan, Yunus dan anak-anak berkumpul kembali. Kali ini untuk belajar bersama. Di bawah cahaya lampu seadanya, satu jam terakhir sebelum tidur diisi dengan buku.
Advertisement
Sudah delapan tahun Yunus menjadi sosok ayah sekaligus pengayom di Panti Asuhan Generasi Pengubah. Tapi perjalanannya merawat anak-anak dalam kesulitan dimulai jauh sebelum bangunan dua lantai itu berdiri kokoh.
Semua berawal tahun 2006. Setelah menikahi Marselina Wunda Laba, Yunus menemukan tujuh anak hidup dalam kemiskinan yang memilukan. Mereka tak punya tempat tinggal layak, apalagi akses pendidikan. Hatinya tergerak. Bersama istrinya, Yunus mengajak mereka tinggal bersama, menyekolahkan, dan merawat layaknya anak sendiri.
Delapan tahun kemudian, jumlah anak asuh bertambah menjadi 24 orang. Sebagai seorang polisi berpangkat Brigadir Polisi, Yunus kala itu tahu penghasilannya tak akan cukup. Namun menyerah bukan pilihan. Dia memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Di luar jam dinas, dia menjadi chief security di Lippo Plaza Kupang.
Hari-hari Yunus nyaris tanpa jeda. Pagi bertugas sebagai polisi, malam menjaga keamanan mal, dan pulang sebagai ayah dari puluhan anak yang menanti di rumah. Namun, meski sudah bekerja siang malam, pemasukan tetap belum mencukupi. Beban ekonomi makin berat. Yunus pun mulai menceritakan kondisinya kepada rekan-rekannya.
"Teman-teman bilang, ‘Bro, kalau tidak bikin wadah sosial, nanti kamu akan setengah mati. Kalau ada wadah dapat bantuan pemerintah dan swasta',” kenangnya sambil tersenyum saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (28/12/2025).
Dari titik itulah Yunus semakin mantap melangkah. Pada akhir 2016, dia mengajukan permohonan pendirian panti asuhan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Butuh waktu satu tahun hingga permohonan itu akhirnya disetujui.
Sejak panti asuhan resmi berdiri, jumlah anak asuh yang dirawat Yunus terus bertambah tanpa henti. Hingga tahun 2025, jumlah mereka telah mencapai 121 anak. Sekitar 40 persen dari mereka adalah anak yatim piatu, sementara sisanya terdiri dari anak-anak yatim, piatu, terlantar, dan keluarga kurang mampu.
Gadaikan SK dan Sertifikat Rumah
Tak ada perjuangan yang berjalan mulus, begitu pula Yunus. Sejak panti asuhannya berdiri, dia terus berjuang keras mencari bantuan demi memenuhi kebutuhan anak-anak asuhnya.
Bantuan memang mengalir, datang dari pimpinannya di korps Bhayangkara, kepala daerah di NTT, hingga kenalan-kenalannya. Namun, semua itu belum cukup untuk menutup biaya makan dan pendidikan anak-anak yang terus bertambah.
Nyaris setiap tahun, Yunus harus mengajukan pinjaman ke bank. Bahkan, demi meyakinkan bank, dia rela menggadaikan Surat Keputusan (SK) sebagai anggota Polri dan sertifikat rumahnya.
Pinjaman pertamanya mencapai sekitar Rp 920 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun panti, menyediakan makan, serta biaya sekolah anak-anak dari SD hingga perguruan tinggi. Dari pinjaman itu pula, dia memulai usaha peternakan dan pertanian sebagai sumber penghasilan tambahan.
Total pinjaman yang diambil Yunus sudah melampaui Rp 1 miliar. Setiap bulan, dia harus menyisihkan sekitar Rp 8 juta untuk membayar angsuran.
“Saya ibaratnya tidak menerima gaji. Semua penghasilan saya habiskan untuk membayar angsuran dan kebutuhan anak-anak di panti,” ucap Yunus.
Kini, kebutuhan sehari-hari anak-anak di panti terus dipenuhi lewat bantuan rutin dari kepala daerah, dukungan rekan-rekan, dan hasil usaha peternakan serta pertanian yang dia kelola sendiri.
Advertisement
Kuliahkan 44 Anak Asuh
Yunus merasa bangga mampu memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan anak-anak asuhnya. Hingga kini, 13 anak asuhnya telah berhasil menyandang gelar sarjana, sementara 31 lainnya masih menapaki perjalanan di bangku perguruan tinggi.
Mereka tersebar di berbagai kampus ternama di Jakarta, Surabaya, dan Kupang. Dengan total 44 anak yang merasakan bangku kuliah, prestasi ini menjadi bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi Yunus dalam membimbing mereka menuju masa depan yang lebih cerah.
Namun, tak semua anak asuhnya memilih jalur perguruan tinggi. Beberapa memutuskan cukup menyelesaikan pendidikan hingga SMA.
“Kalau ada yang sudah tamat SMA dan tidak ingin lanjut kuliah, saya bilang mereka harus keluar dari panti. Karena sudah saatnya mandiri, mencari pekerjaan, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri,” ujarnya tegas.
Saat ini, Panti Asuhan Generasi Pengubah masih merawat sekitar 77 anak, mulai dari jenjang SD hingga SMA. Setiap anak yang tinggal di panti bukan hanya sekadar diasuh, tapi juga dibekali makna kehidupan dan semangat perjuangan.
“Saya selalu tekankan pada mereka, bahwa keberhasilan itu bukan hadiah yang datang begitu saja. Hidup itu adalah perjalanan panjang yang diawali dengan perjuangan,” ucap Yunus.
Kata-katanya menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk terus berjuang meraih impian di tengah keterbatasan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458670/original/043234600_1767087253-_Aipda_Yunus_Labba_Bersama_Anak-Anak_di_Panti_Asuhan_Generasi_Pengubah.jpeg)
Ketulusan Lahir dari Kekurangan
Ketulusan Yunus membesarkan puluhan anak di Panti Asuhan Generasi Pengubah tak tumbuh dalam semalam. Dia lahir dari luka, ditempa oleh kerasnya hidup sejak usia belia.
Lahir di Pantar, Alor, Nusa Tenggara Timur, pada 12 Januari 1984, Yunus kecil tumbuh dalam pelukan kemiskinan. Di bangku kelas 4 SD, dia terpaksa berhenti sekolah karena orang tuanya tak lagi mampu membiayai. Tapi hidup tak berhenti di sana.
Juli 1994, saat usia 10 tahun, dia memberanikan diri meninggalkan kampung halaman. Menumpang kapal laut menuju Kupang, Yunus membawa niat mencari pekerjaan. Di kota itu, dia dipertemukan dengan pasangan pendeta, Johanis Blegur dan Asnat Labba, yang kemudian menjadi orang tua rohaninya.
Dari merekalah Yunus mendapat kesempatan berharga untuk kembali duduk di bangku sekolah, hingga akhirnya lulus SMA. Langkahnya terus menanjak. Yunus mengikuti seleksi masuk kepolisian dan langsung diterima dalam sekali percobaan. Dari sana, hidupnya beralih, dari anak kampung miskin menjadi abdi negara.
Namun, jejak masa lalu tak pernah hilang. Kepedihannya menjadi bara yang menyalakan empatinya. Yunus mendirikan panti asuhan untuk anak-anak yatim, piatu, dan terlantar. Kerja kerasnya tak luput dari perhatian.
Pada 2020, dia diganjar pin emas dari Kapolri Jenderal Idham Azis. Dua tahun kemudian, Kapolda NTT Irjen Setyo Budianto memberikan piagam penghargaan atas dedikasinya. Dan pada 2023, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberinya penghargaan berupa kesempatan mengikuti pendidikan Sekolah Inspektur Polisi (SIP), sebuah tiket emas bagi bintara menuju kursi perwira.
Namun bagi Yunus, bukan penghargaan yang membuatnya bangga. Kebahagiaan terbesarnya datang saat melihat anak-anak yang diasuhnya menembus batas keterbatasan, menjemput masa depan.
"Kebanggaan saya adalah ketika kita menolong orang dan mengeluarkan mereka dari kesulitan. Dan itu adalah pekerjaan yang diinginkan Tuhan," ujar Kanit Binmas Polsek Maulafa ini.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458671/original/082946400_1767087253-Ipda_Ripal_Indrawata_Saat_Merazia_Sepatu_Siswa.jpeg)
Advertisement
Bantu Anak Miskin Lewat Razia Sepatu
Di pesisir timur Provinsi Riau, tepatnya di Tambilahan, anggota Bhayangkara juga menyalakan harapan dengan cara yang tak biasa. Ipda Ripal Indrawata, Kapolsek Tambilahan, membantu anak-anak dari keluarga tak mampu dengan razia sepatu.
Pagi itu, akhir November 2025, mentari bersinar hangat di langit Tambilahan. Di sebuah SMP, puluhan siswa berbaris rapi di halaman sekolah. Di depan mereka, Ripal berdiri sambil tersenyum.
“Hari ini saya razia sepatu. Siapa yang sepatunya sudah tak layak, nanti saya ganti dengan yang baru,” ucapnya lantang.
Sontak siswa bersorak, beberapa saling melihat ke bawah, memeriksa kondisi sepatu masing-masing. Ripal berjalan perlahan dari sudut kiri, menyisir satu per satu barisan siswa. Di tengah barisan, dia menemukan tiga siswa mengenakan sepatu yang sudah robek, sol menganga.
Salah satunya adalah anak yatim. Saat Ripal mengajak berbincang, bocah itu tak kuasa menahan air mata. Dengan suara parau, dia bercerita bahwa sang ayah telah meninggal empat bulan lalu karena sakit.
Kebaikan Ripal tak berhenti di sekolah. Di balik seragamnya, dia adalah seorang pekerja sosial yang tak pernah lelah melayani. Jauh sebelum menjabat Kapolsek Tambilahan, Ripal sudah terjun langsung membangun pondok belajar, merenovasi rumah warga tak mampu, hingga mendirikan tempat tinggal bagi kaum marjinal.
Belum lama ini, dia bahkan turun tangan memperbaiki sebuah jembatan yang rusak. Semua itu dilakukan tanpa mengandalkan anggaran negara.
“Kalau ditanya, ‘Pak, dananya dari mana?’ Alhamdulillah, saya selain polisi juga punya kebun sawit dikit,” ujarnya dengan senyum hangat.
Bagi Ripal, menjadi polisi bukan sekadar menjaga keamanan, tapi juga hadir saat warganya sedang kesulitan. Dia percaya, setiap tindakan kecil bisa memberi dampak besar.
“Kalau ada yang susah, harus dibantu. Mau itu soal pendidikan atau urusan sosial lainnya, saya akan bantu sebisanya,” tuturnya.
Atas pengabdian tulus itu, berbagai penghargaan pun berdatangan. Di tahun 2020, dia menerima penghargaan dari Kapolda Riau atas dedikasi sosial yang luar biasa di luar tugas dinas. Setahun kemudian, Mabes Polri memberikan penghargaan sebagai polisi inspiratif karena program bedah rumah dan dukungan pendidikan bagi warga kurang mampu.
Namanya kian dikenal luas. Di tahun 2022, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menganugerahkan penghargaan Sekolah Perwira karena aksi sosial Ripal dinilai mampu membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Tak berhenti di internal kepolisian, DPR RI juga turut mengapresiasi kerja kemanusiaan Ripal. Dalam sebuah forum nasional, dia diganjar penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Sosial Daerah.
Pada 2023, giliran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang memberi penghargaan atas dedikasinya menjaga nilai-nilai Pancasila melalui kerja nyata di bidang kemanusiaan.
Polisi Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa keberadaan polisi harus dirasakan nyata oleh masyarakat, terutama mereka yang tengah menghadapi kesulitan. Menurutnya, tugas kepolisian tak hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga menjadi wajah negara yang hadir dengan empati dan kepedulian.
"Kita harus memberikan pelayanan, serta menjalankan tugas utama kita yaitu melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat," kata Sigit.
Dia mendorong seluruh anggota Polri untuk meneladani sosok Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso, ikon integritas yang selalu dikenang karena kejujuran dan ketulusannya dalam mengabdi. Hoegeng bukan hanya simbol, tetapi contoh nyata bahwa tugas polisi bisa dijalankan dengan hati nurani.
"Setiap anggota memiliki peluang untuk memberi kontribusi positif dari manapun mereka bertugas," ujarnya.
Arahan Listyo bukan sekadar seruan bagi Ipda Yunus Labba dan Ipda Ripal Indrawata. Keduanya membuktikan bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum, tapi juga menjaga nurani.
Yunus membangun panti asuhan dari gaji pribadinya, merawat puluhan anak terlantar hingga menembus bangku kuliah. Sementara Ripal membangun rumah kaum marjinal, memperbaiki jembatan, dan membelikan sepatu untuk siswa tak mampu.
Mereka adalah wujud nyata polisi humanis. Di balik seragam dinas, mereka hadir sebagai pelita kemanusiaan, menyinari hidup masyarakat yang terpinggirkan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7675056/original/096398500_1780469939-1000436835.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709839/original/047593100_1782789385-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T101408.733.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458669/original/000512300_1767087253-Potret_Aipda_Yunus_Labba_Bersama_Anak-Anak_di_Panti_Asuhan_Generasi_Pengubah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884474/original/ACg8ocIVTLofSOnSx3v8CnmrqYqrSv2NM36rW_r4-0PmsiRM22XJWEms%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8703035/original/020989500_1782776197-IMG-20260630-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710247/original/079063300_1782790138-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.24.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8702541/original/028363500_1782775221-IMG_20260629_232706.v1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8669810/original/074257300_1782706469-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_11.12.12.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8669364/original/009639200_1782705678-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_10.52.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8664712/original/015140600_1782694886-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_07.58.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627491/original/040270700_1782623225-1001405720.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584648/original/056399300_1782547440-Sabu.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578455/original/065732200_1782536836-Polisi_Jaga_Jakarta.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8568446/original/058888600_1782520224-44123.jpg)