Sekolah Rakyat di Magelang Terapkan Kebijakan Tanpa Ponsel: Pacu Fokus Belajar Siswa

Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 15 Magelang, Jawa Tengah memberlakukan pembatasan penggunaan ponsel atau HP bagi siswa untuk meningkatkan fokus belajar dan mendukung kehidupan asrama.

Diterbitkan 20 Desember 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • SRMA 15 Magelang batasi penggunaan ponsel siswa di asrama.
  • Kebijakan disepakati orang tua, bertujuan tingkatkan fokus belajar siswa.
  • Pembatasan efektif tingkatkan minat baca, nilai akademik, dan aktivitas fisik.

Liputan6.com, Jakarta - Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 15 Magelang, Jawa Tengah memberlakukan pembatasan penggunaan ponsel atau HP bagi siswanya. 

Alhasil, tak ada siswa yang diperbolehkan menggunakan gawai pribadi selama tinggal di asrama.

Kepala Sekolah (Kepsek) SRMA 15 Magelang, Anisa mengatakan, kebijakan ini sepenuhnya sudah menjadi kesepakatan sekolah dan orang tua.

“Kalau di sini kan di awal, saya tekankan ke orang tua, kita tidak memperkenankan anak-anak itu menggunakan HP,” kata Anisa di SRMA 15, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (19/12/2025).

Anisa menyampaikan, pembatasan penggunaan ponsel bertujuan untuk memacu fokus belajar siswa selama berada di asrama.

Adapun siswa di SRMA 15 Magelang diajari 18 mata pelajaran atau mapel mulai dari antropologi, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), hingga kewirausahaan dengan pendampingan 17 guru mapel.

Selain itu, SRMA 15 Magelang memiliki lima wali asuh, dengan satu wali asuh membimbing 10 anak. Total, saat ini terdapat 50 anak yang belajar di SRMA 15 Magelang.

Tidak hanya itu, pembatasan penggunaan ponsel di SRMA 15 Magelang juga bertujuan mencegah miskomunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.

“Kalau mau komunikasi dengan orang tua, melalui wali asuh. Di awal itu seminggu sekali, sekarang dua minggu sekali,” kata Anisa.

 

Fokus Baca dan Kegiatan Fisik

Anisa mengaku, kebijakan ini ternyata efektif meningkatkan fokus dan kreativitas siswa.

Tidak hanya fokus mengikuti pelajaran, para peserta didik disebut juga jadi aktif membaca buku di perpustakaan.

“Saya pinjam satu kotak buku untuk satu bulan. Belum sampai satu bulan, sudah selesai baca semua. Kita kontak lagi, pinjam lagi. Jadi karena HP disita itu tadi, jadi mau tidak mau mereka tetap membaca,” kata Anisa.

Selain itu, evaluasi nilai akademik pada semester pertama siswa juga menunjukkan hasil yang memuaskan, bukan hanya bagi guru tapi juga untuk orang tua.

Anisa bilang, ada 60 persen siswa mendapatkan nilai yang jauh di atas rata-rata minimal kelulusan yang ditetapkan.

Selain itu, kegiatan non akademik di sekolah juga diperbanyak, seperti olahraga dan pramuka. Para siswa dinilai jadi lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut.

“Jadi setelah sore kan ada ekstrakurikuler. Nah itu anak-anak biasanya permainan fisik, olahraga, voli. Ternyata pintar voli, bulu tangkis, tennis meja. Jadi kegiatan fisik yang itu tetap jalan, jadinya nggak gabut,” ucap dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6