DPR: Pertamina Harus Kerja Ekstra Tangani Krisis BBM di Sumut

Bane menegaskan bahwa ketersediaan BBM merupakan faktor penting dalam percepatan penanganan darurat.

Diterbitkan 08 Desember 2025, 06:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • DPR kritik Pertamina atas kelangkaan BBM pascabencana di Sumut.
  • Distribusi BBM masih suboptimal, hambat bantuan dan aktivitas warga.
  • Antrean 5 jam, harga eceran BBM melonjak, kontradiksi klaim Pertamina.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, menyoroti kinerja Pertamina dalam menangani kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) pascabencana di sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara.

Hingga dua pekan setelah bencana terjadi, distribusi BBM dinilai masih belum optimal dan menghambat penanganan bantuan serta aktivitas warga.

“Sudah dua pekan sejak bencana terjadi, masalah kelangkaan BBM masih belum teratasi. Bantuan untuk korban bencana terhambat, aktivitas warga terhambat. Pertamina harus serius menangani agar kondisi tidak lebih memburuk,” ujar Bane, Senin (8/12/2025).

Bane menegaskan bahwa ketersediaan BBM merupakan faktor penting dalam percepatan penanganan darurat.

Ia meminta Pertamina bekerja ekstra dan mencari semua jalur distribusi alternatif untuk memastikan pasokan aman, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.

“Maka pengadaan BBM ke Sumut harus dilakukan dengan segala upaya. Susah lewat darat, lewat laut. Susah lewat laut, tempuh lewat udara. Ini bukan kondisi normal, harus kerja ekstra,” tegasnya.

 

Antrian 5 Jam dan Harga Melonjak

Menurut laporan lapangan yang diperoleh Bane, antrean kendaraan di sejumlah SPBU mencapai lebih dari lima jam hanya untuk mendapatkan BBM.

Di Kabupaten Dairi dan Kota Pematangsiantar, harga BBM eceran disebut melonjak tajam. Pertalite dijual pada kisaran Rp20.000–Rp25.000 per liter, sementara solar Rp12.000–Rp15.000 per liter, jauh di atas harga resmi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan pernyataan Pertamina yang sebelumnya mengklaim pasokan BBM telah terkendali.

“Dengan kondisi memprihatinkan ini, maka layak kita mempertanyakan kinerja Pertamina. Jika tak mampu kerja sebaiknya direksi Pertamina dievaluasi,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Menurut Bane, kelangkaan BBM berdampak langsung pada mobilitas warga dan potensi kenaikan harga sembako.

“Masalah BBM ini jangan diremehkan karena dampaknya akan mempengaruhi banyak hal, utamanya untuk penanganan di lokasi bencana, dan percepatan pemulihan dampaknya,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6