Banjir Sibolga, Tiga Hari Penuh Kegelisahan

Bencana banjir bandang dan longsor di Sibolga, bukan hanya merusak rumah dan lingkungan, melainkan juga mengguncang batin keluarga yang menanti kabar dari kejauhan.

Diterbitkan 28 November 2025, 16:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara porak poranda dihantam banjir bandang pada Senin (24/11/2025). Bencana besar yang tak pernah terbayangkan. Menyimpan cerita duka, kekhawatiran dan ketakutan.

Eva Sanas Bondar, perempuan asal Sibolga, Tapanuli Tengah, yang saat ini merantau di Jakarta, menjalani tiga hari yang penuh kecemasan. Sejak mengetahui adanya bencana melalui kabar rekan dan informasi yang beredar di media sosial, hatinya langsung tertuju pada keluarga di kampung halaman.Orang tua dan kakaknya tinggal di Sibuluan Nalambok. Salah satu wilayah yang menjadi zona terdampak paling parah.

Sejak hari Selasa (25/11/2025), setiap menit Eva lalui untuk mencari informasi dan kabar keluarganya. Komunikasi terakhir dengan ibunya terjadi pada Senin 24 November 2025, malam. Saat itu, sang ibu mengabarkan kondisi cuaca ekstrem yang sudah berlangsung beberapa hari. Hujan tak kunjung reda, angin bertiup kencang, dan listrik yang padam. 

“Terakhir di tanggal 24 November itu, di tanggal 24 November malam memang mama saya bilang di sini hujan deras, angin kencang, sudah beberapa hari tidak berhenti”, jelas Eva menahan tangisnya, saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat (28/11/2025). 

Bagi Eva, setiap hari harus dilalui dengan berkomunikasi dan berbagi kabar dengan keluarganya. Tapi sejak cuaca ekstrem di kampung halamannya, komunikasi dengan keluarga terputus.

Upaya pertama yang dia lakukan adalah menghubungi orang tua dan kakaknya melalui panggilan telepon seluler hingga WhatsApp dengan harapan jaringan data masih dapat diakses. Namun hasilnya sama, tidak ada tanda-tanda  aktivitas dari ponsel keluarganya di kampung halaman tersebut. 

“Saya hubungi semuanya, tapi tidak ada yang aktif. Dari WA juga tidak aktif,” kata Eva.

Kondisi terputusnya akses komunikasi, listrik yang padam, di tempat keluarganya berada, menjadi tiga hari paling menegangkan dan penuh cemas dalam hidupnya. Apalagi, saat komunikasi terakir, ada pesan mengiris dari sang ibu di ujung telepon.

“Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa cari mama ya”, jelas Eva dengan nada lirih.

Dua Hari Tak Bisa Tidur

Di tengah kecemasan yang mendera, Eva berusaha keras mencari tahu kondisi keluarganya. Selama dua hari, 25-26 November 2025, Eva berpikir berbagai cara. Apapun akan dilakukan untuk bisa mengetahui kabar keluarga. Kegelisahan menggelayuti Eva selama dua hari.

Rasa cemas perlahan berubah menjadi kepanikan. Setiap menit terasa panjang, terlebih ketika berbagai pemberitaan yang memperlihatkan kondisi wilayah di Sibolga terdampak banjir. Eva menghabiskan waktu dengan terus memantau media sosial, menghubungi kerabat, dan mencari informasi dari berbagai pihak, namun tak satu pun memberikan kepastian. 

Dia bahkan menghubungi Basarnas, kepolisian, dan sejumlah kerabat yang tinggal lebih dekat dengan lokasi bencana. Hanya satu harapannya, kabar mengenai kondisi keluarganya maupun perkembangan situasi di Sibuluan Nalambok. Namun, seluruh upaya itu berakhir tanpa kejelasan.  

“Tidak ada satu info pun yang valid dari sana, bahkan tidak ada bantuan,” ujarnya.

Tak mampu berbuat banyak dari jauh, Eva melewati dua hari pertama dalam kondisi psikologis yang berat. Dia sulit tidur, kehilangan fokus, dan tidak mampu menjalankan aktivitas kerjanya. 

“Tanggal 25-26 saya enggak bisa tidur, enggak bisa kerja,” ungkapnya. 

Informasi yang beredar di media sosial kerap simpang siur, sementara laporan resmi dari lapangan masih sangat terbatas akibat buruknya akses komunikasi. 

Di tengah ketidakpastian informasi, secercah harapan datang dari sebuah perusahaan swasta di Sibolga yang masih memiliki akses internet melalui jaringan Starlink. Eva segera menghubungi temannya yang bekerja di perusahaan tersebut, meminta tolong untuk mengecek kondisi rumah keluarganya. 

“Saya minta tolong ke teman saya yang di sana untuk ke rumah saya melihat, tapi ternyata tidak bisa karena jalanan di sana ada yang putus,” jelas Eva.

Bagi Eva, dua itu terasa sangat panjang. Namun dia tak boleh menyerah. Dia terus berusaha mencari cara agar dapat mengetahui kondisi keluarganya, namun di sisi lain keterbatasan informasi di lokasi bencana membuat setiap upaya seakan tak menemui jalan keluarnya. 

Kabar yang Ditunggu Selama Tiga Hari

Tiga hari tanpa kabar terasa seperti waktu yang tak bergerak bagi Eva. Setiap notifikasi yang muncul di ponselnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat, berharap di antara banyaknya pesan masuk, ada satu yang berasal dari keluarganya.  

Hingga akhirnya, pada Kamis, 27 November sekitar pukul 16.00 WIB, telepon genggam milik Eva berbunyi. Memberi tanda aktivitas dari nomor milik kakaknya. Lima menit yang sangat singkat itu menjadi titik terang setelah tiga hari Eva diselimuti rasa bimbang tanpa adanya kepastian.  

Pesan dari sang kakak menyebutkan bahwa mereka selamat dan berada di pengungsian. 

"Kami sehat, kami lagi di pengungsian", ucap Eva menirukan pesan dari sang kakak.

Meski komunikasi kembali terputus tak lama kemudian, kabar singkat itu cukup bagi Eva untuk bernapas lega setelah menahan kecemasan selama tiga hari.

"Langsung lega sih ya, saya langsung bisa beraktivitas dengan baik, saya bisa makan dengan teratur. Walaupun sampai detik ini setelah dari jam empat sore itu tidak ada kabar lagi sampai detik ini, tapi setidaknya saya tahu mereka aman di pengungsian," katanya penuh perasaan lega.

Menangis di Pengungsian

Dalam rentang waktu singkat tersebut, kakaknya sempat mengirimkan beberapa informasi tambahan mengenai kondisi di lokasi tempat mengungsi. Dia menceritakan, pengungsian dipadati warga. Banyak di antara mereka kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga. Situasinya penuh kepanikan dan tangis. 

“Semua orang nangis-nangis di sini,” jelas Eva berdasarkan informasi yang didapat dari kakaknya. 

Di balik rasa syukur setelah mendapat kabar dari keluarga, Eva masih menyimpan kekhawatiran mendalam terhadap warga lain di Sibolga dan Tapanuli Tengah yang belum mendapatkan kabar dari keluarga mereka. Dia aktif memantau berbagai grup komunikasi yang berisi para perantau asal daerah tersebut. Dari percakapan-percakapan itu, ia melihat banyak temannya yang masih mencari orang tua, saudara, atau kerabat yang hilang kontak sejak hari pertama bencana.  

“Saya bersyukur, sangat-sangat bersyukur. Walaupun sebenarnya banyak teman-teman saya yang lain juga menantikan kabar orang tuanya, cuma saya bisa dapat informasi itu di kemarin sore,” ucap Eva penuh syukur dan prihatin. 

Empati terhadap mereka yang masih menunggu kabar membuat rasa lega itu terasa belum sepenuhnya utuh. Eva berharap korban yang belum ditemukan segera mendapat pertolongan. Keluarga lain pun bisa mendapatkan kepastian yang sama seperti yang diterimanya, sekalipun hanya melalui pesan singkat yang muncul beberapa menit.

Harapan untuk Penanganan Bencana

Tiga hari yang penuh kecemasan ini membuat Eva menyadari, proses penanganan bencana di Sibolga dan Tapanuli Tengah masih jauh dari selesai. Dia berharap pemerintah dapat bergerak lebih sigap, terutama dalam melakukan evakuasi dan pendistribusian bantuan ke wilayah yang paling terdampak. 

Dari berbagai informasi yang dia terima melalui grup-grup komunikasi perantau, banyak area yang masih mengalami kesulitan akses, sehingga penyaluran bantuan berjalan lambat.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatiannya adalah Desa Hutanabolon di Kecamatan Tukka. Menurut laporan yang ia dengar dari warga setempat, daerah tersebut hingga beberapa hari setelah bencana masih minim penanganan. Banyak korban diduga masih berada di lokasi, sementara proses evakuasi belum dilakukan secara maksimal. 

“Tolong sangat didahulukan untuk evakuasi di sana. Mungkin masih ada nyawa yang bisa diselamatkan,” kata Eva dengan suara yang penuh harap. 

Kekhawatiran itu muncul bukan hanya karena besarnya dampak fisik banjir bandang, tetapi juga karena waktu yang terus berjalan, menipiskan peluang penyelamatan.

Selain evakuasi, Eva menyoroti kebutuhan mendesak yang dihadapi para keluarga yang terdampak bencana di pengungsian. Banyak warga yang tidak memiliki makanan, kehilangan pakaian serta kekurangan perlengkapan dasar untuk bertahan hidup. Situasi ini diperparah dengan terputusnya akses jalan di beberapa titik, sehingga bantuan sulit masuk.  

“Pakaian sudah tidak ada yang bisa dipakai, makanan tidak tahu dari mana. Saya sangat memohon bantuannya,” ujar Eva.

Bagi Eva, penanganan cepat dan terkoordinasi bukan hanya soal pemulihan fisik, tetapi juga memberikan ketenangan bagi ribuan warga yang masih menunggu kabar keluarganya. Seperti yang dijalaninya, tiga hari penuh kegelisahan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6