Mengikuti Jejak Penyuluh Agama Islam Pulau Samosir dari Pintu ke Pintu

Ia mendatangi dari satu pintu ke pintu lainnya rumah jamaah, meskipun harus melintasi perkebunan hingga menaiki bukit.

Diterbitkan 26 November 2025, 12:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menggunakan peci hitam dan kemeja batik, Penyuluh Agama Islam Pulau Samosir, Muhammad Syaban bersiap melakukan tugasnya memberikan bimbingan kepada masyarakat Pulau Samosir, Sumatera Utara. Berbekal sepeda motor, pria yang akrab disapa Ustad Syaban akan memberikan bimbingan agama kepada masyarakat muslim di Pulau Samosir.

Sinar matahari dari timur yang menyinari pulau di tengah Danau Toba, menjadi penanda dimulainya tugas Syaban memberikan pembekalan pembelajaran agama Islam. Aspal jalanan yang mulai terasa panas, tidak menyurutkan niatnya membelah dari satu kampung ke kampung lain, hingga memasuki rumah penduduk yang berada di dalam Perkebunan dan diatas bukit.

Syaban kerap mendatangi rumah warga muslim di Pulau Samosir, tepatnya di Kecamatan Nainggolan, Palipi, dan Onan Runggu. Sudah delapan tahun hidupnya didedikasikan untuk masyarakat muslim Pulau Samosir untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Syaban menyadari, masyarakat muslim di Pulau Samosir menjadi minoritas, namun bersyukur masyarakat Pulau Samosir yang beragama Nasrani tidak menyulitkannya memberikan bimbingan kepada masyarakat muslim. Bahkan, Pulau Samosir menjadi salah satu daerah menjunjung toleransi dalam beragama.

“Toleransinya baik sekali, saling menghargai,” ujar Syaban kepada Liputan6.com, Rabu (25/11/2025).

Pria lulusan UIN Sumatera Utara kerap memberikan pembelajaran agama, mulai dari mengaji hingga ceramah keagamaan. Syaban turut memberikan tuntunan salat wajib maupun sunnah kepada masyarakat muslim Pulau Samosir.

“Kami mengajarkan mengaji dan tata cara salat yang baik dan benar,” ucap Syaban yang berasal dari Deli Serdang.

Syaban telah membuat jadwal rutin pengajian untuk masyarakat muslim Pulau Samosir. Memanfaatkan Masjid Nurul Islam, masyarakat Pulau Samosir berdatangan untuk mengikuti pengajian yang dibimbing Syaban.

“Masjid Nurul Islam kami manfaatkan untuk ibadah, pengajian, hingga wirid,” jelas Syaban.

Pria yang memiliki dua anak tersebut, membentuk pengajian untuk kaum perempuan pada Kamis sore. Orang tua atau kaum pria pada malam jumat, dan untuk anak kecil hingga dewasa pada Kamis hingga Sabtu.

“Pengajian rutin kami laksanakan setiap minggunya,” ungkap Syaban

Meskipun begitu, terkadang terdapat masyarakat muslim Pulau Samosir tidak dapat mendatangi Masjid Nurul Islam. Hal itu dikarenakan kendala transportasi dan jarak yang cukup jauh dari rumah warga.

“Untuk menyiasatinya, saya mendatangi rumah warga untuk bersilaturahmi dan memberikan pengajaran,” tutur Syaban.

 

Lintasi Perkebunan hingga Naiki Bukti Demi Jamaah

Syaban memiliki jamaah sebanyak 300 kepala keluarga dari tiga kecamatan di Pulau Samosir. Secara bergiliran, Syaban mendatangi dari satu pintu ke pintu lainnya rumah jamaah, meskipun harus melintasi perkebunan hingga menaiki bukit.

“Saya harus masuk ke kebun jagung maupun ladang menuju rumah warga, bahkan ada warga rumahnya di atas bukit, itu harus saya tempuh demi pengetahuan warga tentang agama,” ujar Syaban.

Pria lulusan Madrasah Aliyah Negeri di Deli Serdang, mengaku cukup ekstra waspada apabila hari telah gelap. Menurutnya akses penerangan jalan menuju rumah warga masih minim.

“Ini salah satu kendala yang harus saya hadapi,” ucap Syaban.

Meski demikian, tidak menyurutkan langkah kaki Syaban membantu warga mengenal lebih dalam ajaran agama Islam. Atas semangat yang dimilikinya, Syaban kerap mendapatkan bantuan dukungan dari sejumlah yayasan maupun instansi, salah satunya Dompet Dhuafa.

“Apa yang saya lakukan selain kewajiban dari Kementerian Agama, kami mendapatkan dukungan dari Dompet Dhuafa,” terang Syaban.

Memberikan penyuluhan agama kepada masyarakat muslim Pulau Samosir tidak selamanya berjalan dengan mulus. Terkadang jadwal pengajian yang sudah tersusun dapat tertunda apabila masyarakat muslim sedang ada kegiatan.

“Kalau ada kegiatan adat atau kedukaan, maka pembelajaran keagamaan ditunda, jamaah akan membantu warga yang sedang berduka atau kegiatan adat, itu sudah menjadi tradisi,” kata Syaban.

Niat tulusnya membantu pembekalan agama kepada masyarakat muslim, dapat dimaklumi keluarganya. Bahkan, Syaban harus rela menyisihkan pendapatannya demi mendukung pembekalan agama kepada jamaah yang dibimbingnya.

“Kalau materi pasti ada, tapi semua itu saya ikhlaskan untuk membantu masyarakat muslim Pulau Samosir, memperdalam ilmu agama,” tutur Syaban.

Syaban bersyukur, aktivitasnya mendapatkan dukungan dari Dompet Dhuafa membantu mensyiarkan agama Islam. Terlebih, Dompet Dhuafa turut membantu masyarakat muslim di Pulau Samosir, khususnya di tempatnya memberikan penyuluhan agama.

“Alhamdulillah, sangat senang sekali, karena selama ini kita ketahui Dompet Dhuafa peduli dengan masyarakat muslim,” ucap Syaban.

Syaban berharap, dukungan yang diberikan kepada Dompet Dhuafa pada masyarakat Muslim Pulau Samosir dapat ditingkatkan kembali, baik berupa sembako maupun dukungan lainnya.

“Alhamdulillah, perhatian dari donatur melalui Dompet Dhuafa dapat membantu masyarakat mulai dari anak hingga lansia,” tutur Syaban dengan tersenyum.

 

Bersyukur di Hari Tua dapat Bimbingan Keagamaan

Di sisi lain, salah seorang jamaah, Rohima Boru Harianja (95) mengaku bersyukur di hari tuanya masih mendapatkan bimbingan keagamaan dari Ustad Syaban. Meskipun usianya sudah lansia, namun semangat untuk mengaji layaknya remaja.

"Masih semangat ikut pengajian, walaupun penglihatan sudah berkurang," ujar Rohima.

Rohima merasa senang, Syaban sesekali mendatangi rumahnya yang berada di atas bukit dan melintasi perkebunan jagung. Usianya yang tidak lagi muda, sudah tidak sanggup untuk mengikuti kajian di Masjid Nurul Iman yang berada di bibir Danau Toba.

"Keinginan mengaji masih tinggi, tapi untuk ke sana agak sulit untuk jalan, bersyukur ustad mau datang ke rumah," ucap Rohima.

Rohima ingin, bimbingan keagamaan dan ibadah dapat terus berjalan untuk masyarakat muslim di Pulau Samosir. Para pembimbing keagamaan untuk tidak bosan mendatangi rumah warga yang ingin mendapatkan ilmu keagamaan.

"Harus dilanjutkan, dukungan Dompet Dhuafa untuk membantu ustad, sangat membantu sekali bagi kami warga muslim yang ada di sini," pungkas Rohima.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6