Pramono: Tak Ada Bullying di SMAN 72, Pelaku Terpengaruh Medsos

Menurut Pramono, kesimpulan itu diperoleh usai pihak sekolah dan siswa lainnya di SMAN 72 memberikan keterangan.

Diterbitkan 13 November 2025, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tidak ada indikasi bullying dalam kasus ledakan SMAN 72.
  • Pelaku punya masalah pribadi dan terpengaruh konten media sosial.
  • Pentingnya peran sekolah dan orang tua awasi aktivitas digital anak.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut tidak ditemukan indikasi perundungan (bullying) dalam kasus ledakan yang dilakukan oleh Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di SMAN 72, Jakarta Utara.

Menurut Pramono, kesimpulan itu diperoleh usai pihak sekolah dan siswa lainnya di SMAN 72 memberikan keterangan.

“Teman-teman atau anak-anak kita yang dari SMA 72 semuanya menyampaikan bahwa tidak ada bullying,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Pramono menjelaskan, kendati tidak ada unsur perundungan di lingkungan sekolah, pelaku diduga memiliki masalah pribadi di luar sekolah.

“Pelakunya ini keluarganya antara bapak ibunya terpisah. Selama ini dia hidup dengan ayahnya. Ayahnya pun kan chef, sibuk,” kata Pramono.

 

Pengaruh Medsos

Ia menjelaskan, perilaku pelaku yang sampai merakit bom sendiri menunjukkan adanya pengaruh kuat dari media sosial dan konten daring yang ditonton.

“Kalau melihat dari tujuh bom yang dipersiapkan dan kemudian cara dia membawa, kemudian pakaian kayak Rambo dan sebagainya, ya mungkin ini pengaruh dari YouTube, media sosial,” ucapnya.

 

Peran Sekolah dan Orang Tua

Pramono menegaskan, kasus ledakan ini menjadi pengingat pentingnya peran sekolah dan orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak. Ia menyebut, telah meminta Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta untuk melakukan langkah penanganan dan pembinaan lebih lanjut.

“Saya sudah minta kepada Ibu Kepala Dinas segera ditangani. Bahwa anak-anak di pelajar itu tidak semudah itu untuk bisa kemudian menginspirasi dia melakukan seperti yang ada di media sosial,” kata Pramono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6