Kabar Mbak Tutut Hari ini, Tetap Setia di Samping Pak Harto

Mba Tutut kembali datang ke Istana. di ruang yang sama, sejarah seakan berputar. Ayahnya, Soeharto, yang dulu turun di tengah badai kritik, kini diakui negara sebagai salah satu pahlawan bangsa.

Diterbitkan 11 November 2025, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di ruang megah Istana Negara, Senin pagi, 10 November 2025, sorotan muncul ketika nama Presiden Indonesia ke-2, Soeharto disebut sebagai salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional. Momen selama  lebih dari satu dekade itu akhirnya tiba tepat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November. 

Di antara barisan tamu undangan, Siti Hardijanti Rukmana, atau akrab disapa Mbak Tutut, tampak menunduk haru. Dengan tenang, ia menyeka sudut matanya, barangkali mengingat kembali begitu banyak kenangan bersama ayahnya, dari masa keemasan Orde Baru, hingga hari-hari ketika sang ayah mengumumkan pengunduran diri dari kursi kepresidenan 27 tahun silam. 

Kini, di ruang yang sama, sejarah seakan berputar. Soeharto, yang dulu turun di tengah badai kritik, kini diakui negara sebagai salah satu pahlawan bangsa.

Penganugerahan gelar pahlawan kepada Soeharto bukan tanpa perdebatan. Selama lebih dari 10 tahun, nama Soeharto selalu muncul dalam daftar usulan, namun urung ditetapkan karena perbedaan pandangan di masyarakat. Mbak Tutut, yang sejak muda menjadi tangan kanan sekaligus bayang-bayang setia ayahnya, menanggapi dinamika itu dengan bijak.

"Untuk yang kontra, kami keluarga tidak merasa dendam atau kecewa. Negara kita ini kan Bineka, banyak macamnya. Monggo-monggo saja,” ujarnya lembut usai upacara di Istana.

Ia memahami bahwa warisan sejarah tak pernah hitam putih. Bagi sebagian orang, Pak Harto, biasa Soeharto disapa, adalah Bapak Pembangunan yang menegakkan stabilitas dan swasembada pangan. Bagi yang lain, masa pemerintahannya diingat dengan luka dan pembatasan kebebasan.

Namun bagi Tutut, semuanya adalah bagian dari perjalanan bangsa yang harus diterima dengan lapang dada.

"Yang penting kita jaga persatuan dan kesatuan. Pro dan kontra itu wajar, yang penting jangan ekstrem,” katanya dengan nada teduh.

 

Kesetiaan yang Tak Pernah Pudar

 

Sejak muda, Tutut dikenal sebagai anak yang paling dekat dengan Soeharto. Ia selalu hadir di sisi ayahnya, dari saat Soeharto memimpin pembangunan nasional di era 1980-an, hingga ketika sang ayah lengser pada 1998.

Di hari pengunduran diri itulah, Tutut pula yang mendampingi sang ayah membacakan pidato terakhirnya di Istana Merdeka.

Kini, dua dekade lebih berlalu, Tutut kembali berdiri di istana, kali ini bukan untuk menyaksikan perpisahan, melainkan penghormatan. Di tangannya, ia menggenggam erat foto sang ayah yang sedang tersenyum. Foto itu menjadi simbol kehadiran Soeharto di hari pengakuan negara atas jasanya.

“Yang penting kita melihat apa yang telah dilakukan Bapak dari sejak muda sampai beliau mangkat. Semua perjuangannya untuk kepentingan negara dan masyarakat Indonesia,” ucapnya pelan, seolah berbicara langsung pada foto itu.

Ia lalu menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, yang dianggap memahami betul perjalanan Soeharto sebagai seorang prajurit dan pemimpin bangsa.

"Beliau juga tentara, jadi tahu apa yang telah dilakukan Bapak dari sejak muda,” ujarnya.

 

 

Akhir dari Penantian Panjang

Gelar pahlawan nasional untuk Soeharto ini menjadi hasil dari proses panjang sejak pertama kali diusulkan pada 2010. Selama itu pula, keluarga Soeharto memilih diam, menyerahkan semua keputusan kepada negara.

Kini, keputusan itu datang juga, membawa kelegaan sekaligus nostalgia bagi keluarga Cendana. Putra ketiga Soeharto, Bambang Trihatmodjo, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

"Kami sekeluarga merasa bersyukur. Terima kasih kepada Allah SWT, kepada Presiden Prabowo, dan kepada rakyat Indonesia,” katanya singkat namun penuh makna.

Bagi sebagian orang, langkah ini adalah bentuk keberanian bangsa untuk berdamai dengan sejarahnya sendiri. Di tengah perbedaan pandangan, Pemerintah  memilih untuk menghargai jasa, tanpa menghapus catatan masa lalu.

Soeharto dikenang karena membangun infrastruktur, memperkuat ketahanan pangan, dan membawa pertumbuhan ekonomi stabil selama dua dekade. Namun ia juga diingat karena masa pemerintahan panjang yang menimbulkan luka sosial dan politik.

Mbak Tutut menyadari sepenuhnya sisi-sisi itu. Namun baginya, cinta pada ayah tak pernah bersyarat. Ia tetap berdiri di samping sang ayah, bahkan ketika yang lain menjauh.

"Kami tidak perlu membela diri, semua sudah terlihat kok,” ucap Mbak Tutut tersenyum. 

Dan di matanya, tampak satu hal yang tak berubah sejak 1998, Kesetiaan  pada ayahnya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6