PSI Ucapkan Selamat kepada 10 Tokoh Pahlawan Nasional: Tak Ada Manusia yang Sempurna

PSI percaya mereka yang dianugerahkan pahlawan itu adalah tokoh-tokoh terbaik bangsa dan mereka semua tidak ada yang sempurna.

Diterbitkan 10 November 2025, 20:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menyampaikan ucapan selamat kepada sepuluh tokoh yang menerima gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Ahmad Ali, mereka yang mendapat gelar tersebut merupakan tokoh besar yang memiliki jasa bagi bangsa dan negara.

“PSI mengucapkan selamat kepada semua para pahlawan, semua tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada hari ini,” kata Ali saat peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025).

Ali meyakini, pemberian gelar tersebut merupakan bentuk penghargaan atas jasa besar para tokoh dalam membangun bangsa dan negara. Meski demikian, PSI menyadari bahwa adanya pro kontra di masyarakat perihal mereka yang mendapatkan gelar tersebut.

"PSI sadar bahwa tidak ada yang sempurna dalam kehidupan. Kami tidak pernah akan melihat masa lalu, kami hanya akan selalu melihat sisi baik karena yang kurang adalah manusia, yang sempurna adalah Allah,” ujar Ali.

Oleh karena itu, Ali percaya, mereka yang dianugerahkan pahlawan itu adalah tokoh-tokoh terbaik bangsa dan mereka semua tidak ada yang sempurna.

"Karena sejatinya itulah manusia, manusia itu tempatnya khilaf, tempatnya salah, tempatnya kurang karena kesempurnaan hanya Allah,” dia menandasi.

 

10 Nama

Berikut 10 nama penerima gelar pahlawan berserta jasa-jasanya untuk Indonesia:

1. Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid dari Provinsi Jawa Timur (Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam)

Tokoh dari Provinsi Jawa Timur. K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.

2. Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah (Bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik)Jenderal Soeharto menonjol sejak masa kemerdekaan. Sebagai Wakil Komandan BKR Yogyakarta, ia memimpin pelucutan senjata di Jepang, Kota Baru 1945.

3. Almarhumah Marsinah dari Provinsi Jawa Timur (Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan)

Marsinah adalah simbol keberanian, moral, dan perjuangan Hak Asasi Manusia dari kalangan rakyat biasa. Lahir di Desa Ngunjo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia tumbuh dalam keluarga petani miskin yang menanamkan nilai kerja dan keadilan sosial.

4. Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dari Provinsi Jawa Barat (Bidang Perjuangan Hukum dan Politik)

Riwayat perjuangan dari Mochtar Kusumaatmadja yang paling menonjol adalah gagasannya dengan konsep negara kepulauan yang digunakan oleh Djuanda Kartawijaya dalam mendeklarasikan Djuanda tahun 1953.

5. Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah dari Provinsi Sumatera Barat (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)

Ia adalah ulama, pendidik, dan pejuang kemerdekaan yang dedikasinya paling menonjol dalam memelopori pendidikan perempuan Islam di Indonesia.

6.Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dari Provinsi Jawa Tengah (Bidang Perjuangan Bersenjata)

Perjuangan militer dari Sarwo Edhie dimulai sebagai komandan Kompi dalam TKR selama periode perang kemerdekaan 1945 sampai dengan 1949.

7. Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi)

Sultan Muhammad Salahuddin berperan besar di Bidang Pendidikan dengan mendirikan HIS di Rabah, 1921. Sekolah Kejuruan Wanita 1922, sekolah agama dan umum di setiap (kejenelian) 1922. 8. Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil dari Provinsi Jawa Timur (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)

Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama karismatik yang menempuh jalur pendidikan kultural, sosial, dan agama.

9. Almarhum Tuan Rondahaim Saragih dari Provinsi Sumatera Utara (Bidang Perjuangan Bersenjata)

Dikenal sebagai Napoleon dari Batak. Di bawah kepemimpinan Tuan Rondahaim Saragih, Pasukan Dayak di Simalungun mencatatkan riwayat perjuangan menonjol melawan kolonialisme Belanda dengan fokus pada pertahanan kemerdekaan yang berhasil. Kemenangan signifikan terutama setelah pertempuran Dolok Merawan dan Dolok Sagala.

10. Almarhum Zainal Abidin Syah dari Provinsi Maluku Utara (Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi)

Zainal Abidin Syah adalah Sultan Tidore ke-37 yang memimpin sejak tahun 1946 hingga wafatnya pada tahun 1967.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6