Polri Gagalkan Peredaran 214 Ton Narkoba, Pakar: Tantangannya Putus Alur Pasokan

Jaringan narkotika selalu berubah cepat, bahkan bisa menyusup ke lembaga penegak hukum sendiri.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 05:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam satu tahun terakhir, jajaran kepolisian berhasil menggagalkan peredaran 214,84 ton narkoba dari hasil 49.306 kasus dan 65.572 tersangka. Nilai barang haram itu mencapai Rp 29,37 triliun.

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi, menyebut capaian itu sebagai prestasi yang luar biasa di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo.

Ia menilai, langkah besar Polri tersebut tak hanya soal penegakan hukum, tapi juga berperan penting dalam menjaga masa depan bangsa

"Mengamankan barang bukti sebesar itu dalam setahun adalah pencapaian yang mengesankan," ujar Haidar Alwi dalam keterangan tertulis, Kamis (30/10/2025).

Menurut Haidar, skala operasi sebesar itu tak mungkin tercapai tanpa koordinasi intelijen yang matang, kerja lintas lembaga, dan komando operasional yang solid. Jumlah kasus dan tersangka menunjukkan bahwa Polri tak hanya memburu bandar besar, tetapi juga menindak jaringan kecil di lapangan.

"Penanganannya membutuhkan koordinasi, data intelijen yang akurat, dan kecepatan eksekusi yang baik," ucap dia.

Selain nilai ekonominya yang mencapai puluhan triliun, dampak sosial dari keberhasilan ini pun sangat besar. Penegakan hukum di sektor narkoba bukan hanya tentang menangkap pelaku, tapi juga mencegah hancurnya generasi muda akibat candu mematikan itu.

Haidar menilai keberhasilan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang menegaskan bahwa narkoba adalah ancaman utama terhadap masa depan bangsa. Karena itu, langkah Polri yang berani memusnahkan barang bukti di depan publik menjadi simbol keterbukaan dan akuntabilitas penegakan hukum.

"Sikap ini tampaknya direspons dengan baik oleh institusi Polri yang menunjukkan keberanian mengambil tindakan besar, sekaligus transparansi dalam publikasi hasil operasional," ucap Haidar Alwi.

Alur Pasokan Harus Diputus

Meski begitu, ia mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat institusi terlena. Jaringan narkotika selalu berubah cepat, bahkan bisa menyusup ke lembaga penegak hukum sendiri.

"Tantangan ke depan adalah bagaimana memutus alur pasokan, menghentikan permintaan, serta memastikan penguatan fungsi rehabilitasi dan pencegahan," jelas Haidar Alwi.

Dalam perspektif profesional, keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa Polri memiliki kapasitas operasional yang meningkat. Baik dari aspek intelijen, kerjasama antar lembaga, hingga eksekusi di lapangan.

"Pemusnahan di ruang terbuka seperti di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri menjadi simbol bahwa hasil operasional bukan sekadar laporan belaka, tetapi tindakan nyata yang dapat dilihat publik," sambung Haidar Alwi.

 

Perkuat Strategi Berikutnya

Namun demikian, apresiasi tidak berarti berpuas diri. Capaian besar ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat strategi berikutnya, memperluas pencegahan jaringan ke komunitas dan sekolah, memperkuat pemulihan penyalahguna narkoba agar tidak kembali ke jaringan, serta memastikan data operasi dan hasilnya tetap terbuka agar masyarakat dapat terus bersatu dan memberi dukungan.

Kombinasi antara penegakan hukum tegas, tindakan preventif, dan rehabilitasi yang menyeluruh akan memastikan bahwa keberhasilan Polri hari ini dapat dipertahankan dan dikembangkan di masa depan.

Secara keseluruhan, keberhasilan Polri dalam periode ini adalah bukti bahwa institusi penegak hukum kita telah bergerak secara serius, berani, dan sistematis dalam menghadapi ancaman narkoba.

"Masyarakat sepatutnya memberikan dukungan, baik melalui partisipasi aktif maupun kepercayaan kepada Polri agar upaya ini terus berjalan dan berkembang. Dengan demikian, yang diselamatkan bukan hanya "angka" tetapi generasi masa depan Indonesia," pungkas Haidar Alwi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6