Liputan6.com, Jakarta - Cuaca cerah menyambut ketibaan saya di Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Tapanuli Tengah, Selasa 21 Oktober 2025, sekira pukul 1 siang waktu setempat. Ini adalah kali pertama, merasakan daerah selain Medan saat mengunjungi provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Bandaranya tidak besar, bukan kelas internasional. Pesawat yang saya tumpangi pun berjenis ATR dari maskapai berlogo singa.
Usia mendarat, saya dan rombongan peliput Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin langsung diminta bergegas masuk ke dalam mobil untuk menuju titik pertama yaitu Barus, tempat dimana Syekh Mahmud Bin Abdurrahman Bin Muadz Bin Jabal dimakamkan.
Advertisement
Sepanjang perjalanan, saya disuguhkan pemandangan luar biasa. Rute darat yang menyusuri tepian laut Mentawai, jalannya naik turun bukit dan meliuk. Habis perut ini dikocoknya. Tak jarang, jalanan rusak dan bergelombang terpaksa dihajar oleh roda mini bus berisi 10 kepala di dalamnya demi mengikuti kecepatan konvoi mobil tim kementerian yang jumlahnya belasan unit.
Tak kuasa rasa kantuk pun hinggap, bersamaan dengan naik turunnya sinyal ponsel karena mulai masuk ke area pelosok. Namun setelah terpejam, nyatanya kami belum kunjung tiba. Total, 2,5 jam lebih waktu tempuh dihabiskan untuk mencapai tempat persemayaman suci yang disebut warga setempat Makam Papan Tinggi.
Di sinilah, peradaban Islam Nusantara disebarluaskan pertama kali oleh Syekh Mahmud al-Hadrami. Menurut catatan sejarah, dia berasal dari sekitar abad ke-7 dan datang ke Nusantara dari Hadramaut, sebuah wilayah di Yaman yang sejak lama dikenal sebagai pusat ulama dan pedagang Muslim yang berlayar ke Asia Tenggara.
Sosoknya diyakini sebagai keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Maka tidak heran kawasan makamnya menjadi situs suci yang dilindungi oleh pemerintah di bawah balai pelestarian Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Mendaki Makam hingga ke Langit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390328/original/058209000_1761274098-IMG_3717.jpg)
Tak seperti ziarah kubur pada umumnya. Sebab untuk mencapai makam Syekh Mahmud dibutuhkan fisik prima serta niat yang ikhlas untuk mendaki ratusan anak tangga yang konon jika dihitung saat naik maka jumlahnya akan berbeda ketika turun.
Hal itu pun banyak dibuktikan oleh rombongan kami, namun sayangnya, saya terlalu sibuk untuk memperhatikan langkah Cak Imin yang mendaki tanpa henti bersama sang istri, Rustini Murtahdo.
Pendakian bersama Cak Imin dilakukan tanpa sekat, hal ini menjadi ciri khasnya kepada siapa pun. Mau jalan di depan boleh, di belakang silakan, kalau di samping tidak bisa karena ada sang istri mendampingi. Tidak seperti kebanyakan menteri yang selalu ditempel ketat para ajudan.
Menuju ke puncak, tangga semakin curam, sudutnya semakin vertikal, beruntung konstruksi anak tangganya kokoh dan ada pegangan besi berwarna hijau di sepanjang pijakannya.
Total ada tiga pos sebelum tiba di makam. Setiap pos ada warung kecil yang menjual minum dan camilan untuk menghela napas sejenak sambil melihat pemandangan alam Barus yang menghampar hingga lautan.
Terlihat, sesekali Cak Imin dan istri berfoto dengan pemandangan suasana langit menuju senja nan hangat, memberi efek sinar mentari terbenam yang indah.
Akhirnya, setelah nyaris 40 menit mendaki perlahan, rombongan pun tiba. Cak Imin langsung masuk ke dalam makam serta duduk bersimpuh. Dia langsung meminta sang rekan, Maman Imanul Haq memimpin doa. Sekira 30 menit berselang sampai akhirnya, rombongan turun kembali, meninggalkan makam suci.
Sepanjang jalan menuruni anak tangga, di benak ini bertanya, siapa yang memakamkannya di atas ketinggian lebih dari 200 mdpl tersebut? Wallahu a'lam bi showab!
Advertisement
Bermalam dengan Rombongan Sopir Truk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390344/original/030421200_1761274489-7fa7214b-96c3-40c8-b8d7-59672a1e31db.jpg)
Barus rupanya tidak berhenti mengukir pengalaman tak terlupa saat saya harus bermalam dengan rombongan sopir truk. Berada di wilayah terpencil, membuat orang tak berpikir untuk membuka usaha penginapan yang megah. Bahkan seorang menteri pun harus bermalam di hotel melati. Sayangnya tidak dengan saya. Seluruh kamar di tempat rombongan Cak Imin menginap sudah penuh. Awak media pun berpindah ke penginapan lain bernama Borneo.
Kesan seadanya menjadi pandangan pertama. Namun di tengah kebutuhan yang mendesak membuat tidak ada pilihan lain. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, saya harus bergegas tidur karena keesokan harinya ada apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.
Saya mendapat kamar nomor 8, nomor yang identik dengan Presiden Prabowo. Namun ternyata tidak berlaku sepenuhnya. Kamar tersebut terasa usang, tembok yang lembap dan berjamur, kasur yang lebih mirip alas dan kamar mandi dengan wc jongkok dengan ukuran 1x1.
Namun inilah kehidupan, harus dihadapi walau tanpa persiapan. Intinya, lekaslah beristirahat bagaimana pun caranya. Untungnya cuaca malam tidak terlalu gerah, jadi cukuplah kipas angin membuat sepoy udara kamar berukuran 3x2 tersebut.
Pagi pun tiba, setelah mandi dan bersiap, saya menuju warung untuk sarapan. Tampak terkejut, ternyata kiri kanan kamar dihuni rombongan sopir truk. Menurut mereka, penginapan di wilayah terpencil seperti Barus seperti surga.
Meski penuh keterbatasan, tetapi mampu menjadi tempat merebahkan badan setelah berjam-jam di perjalanan lintas kota dan provinsi. Rerata, mereka adalah pengirim logistik yang membawa stok sembako hingga rokok untuk didistribusikan ke warung setempat oleh para agen distributor.
Pagi yang Tenang, Terlempar ke Mesin Waktu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390343/original/031644000_1761274452-3349c4c1-6f60-45f5-a6d4-2c6b5a52af60.jpg)
Saya memesan menu nasi putih telur dadar. Hari ini, Rabu 22 Oktober 2025, Cak Imin akan memimpin apel 2.000 santri di Lapangan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara dalam momentum HSN 2025.
Sarapan dihabiskan dengan cepat, tak berkompromi dengan rasa. Semua seadanya, bahkan saat sudah ditambah kecap, juga tak terasa. Namun di ternyata rasa manisnya muncul saat saya bersentuhan langsung pertama kali dengan warga Barus.
Seorang pria paruh baya mengatakan jika kecap di nasi saat makan nasi telor adalah hal yang jarang terjadi di Barus. Dia pun langsung tahu kalau saya adalah pendatang. Kami pun bertukar tutur, sembari saya melihat becak motor berlalu-lalang memulai aktivitas. Termasuk juga para pelajar yang jalan bersama menuju sekolah.
Kawasan tersebut bernama Kampung Mudik, sederhana, tak banyak kendaraan bermotor.
Jujur, rasanya seperti terhempas ke dalam mesin waktu. Suasana yang mengingatkan situasi di tahun 90an, dari model rumah, kendaraan, dan jalan yang menampakkan ketimpangan jika dibandingkan dengan pusat kota.
Advertisement
Asa Bupati Bangkitkan Tapanuli Tengah dari Ketertinggalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390329/original/028748200_1761274136-9064cce5-05a0-4f88-bf1c-ecfbfae93001.jpg)
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu tak menampik saat kabupatennya dinilai tertinggal. Bahkan secara terbuka, di mengakui bahwa Barus menjadi percontohan wilayah 3T.
“Kami ini masuk daerah 3T, tertinggal, terlupa dan termiskin. Bahwa dulu wilayah Tapanuli khususnya di Tapanuli Tengah dan khususnya di Barus ini Pernah berjaya di masanya. Pernah menjadi bagian dari pusat peradaban, bagian dari peradaban dunia, bagian dari penyebaran Islam ke Nusantara,” kata Masinton di Barus, Rabu 22 Oktober 2025.
Politikus PDI Perjuangan ini pun menyinggung, Barus pernah terangkat derajatnya saat dikunjungi Presiden Jokowi di tahun 2017 saat menetapkan titik nol Islam Nusantara. Namun hal itu kini tinggal sebatas cerita. Barus seolah dilupa tak mendapat perhatian penuh dalam hal sosial ekonominya.
“Artinya bahwa sekarang kondisi kami seperti ini, sudah lihat kemarin dalam perjalanan kan? ya seperti inilah kondisinya. Jalanannya rusak, pembangunannya masih timpang,” ungkap Masinton.
Masinton mengatakan, selama ini di Sumatera Utara pembangunan bertumpu ke kawasan ke pantai timur. Sedangkan kawasan kabupaten/kota di kawasan pantai barat nyaris terlupakan.
“Kami berharap dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat,” harap dia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299087/original/053914000_1784192454-cek_fakta_-_Sherly_Tjoanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4691763/original/031604000_1702982141-Serangan_macan_tutul_melukai_tiga_orang_di_Guwahati-AP__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298603/original/082269600_1784175792-gsafss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298662/original/060228200_1784179310-cek_fakta_bantuan_alat_pertanian.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390342/original/079491600_1761274338-IMG_3588.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893064/original/098068400_1721122752-FotoJet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297435/original/065011900_1784091222-000_C27U8NQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298223/original/011449900_1784155410-063_2286282854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288267/original/024620600_1783308427-eng10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298567/original/084606300_1784174337-000_C2B89X9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298444/original/012761000_1784171006-Argentina_s_Leandro_Paredes__5__falls_as_he_battles_for_the_ball_with_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298306/original/004606900_1784166640-tuchel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298289/original/003845200_1784165599-063_2286277553.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298237/original/082194800_1784160981-England_head_coach_Thomas_Tuchel_talks_to_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298232/original/069179300_1784159975-England_s_Jude_Bellingham__10_.jpg)