Walking Tour Malaysia: Jejak Jalan Jawa di Jantung Kuala Lumpur

Jejak kedatangan suku Jawa di Tanah Malaya terlacak di tahun 1800-an. Mereka membuka permukiman dan berniaga di jantung Kota Kuala Lumpur. Komunitas Jawa berkembang pesat di sana.

Diterbitkan 10 Oktober 2025, 05:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Dataran Merdeka adalah lokasi proklamasi kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus 1957.
  • Titik 0 Kuala Lumpur penanda pusat dan awal semua jalan sejak masa penjajahan.
  • Jalan Tun Perak, dulunya Jalan Jawa, pusat perniagaan tertua dengan sejarah panjang.

Liputan6.com, Jakarta Siang terik menyambut langkah kaki saat pertama kali menapak di titik 0 Kuala Lumpur, Malaysia. Terdapat tanah lapang luas yang disebut Dataran Merdeka.

Di area sini sejarah kemerdekaan Malaysia tercetus. Ketika Bendera Union Jack milik Britania Raya diturunkan dan diganti dengan pengibaran Bendera Federasi Malaya di tengah malam tanggal 31 Agustus 1957.

Jurnalis Liputan6.com berdiri di antara dua tempat sakral nan bersejarah bangsa Malaysia. Di sebelah kanan, terdapat Gedung Sultan Abdul Samad. Sedangkan di sisi kiri, Dataran Merdeka.

Dalam sejarahnya, titik 0 merupakan penanda pusat dan awal dari semua jalan di Kuala Lumpur. Titik ini berasal dari masa penjajahan Britania Raya ketika dimulainya pembangunan jaringan rel kereta api. Selain itu juga berfungsi sebagai pusat pengukuran jarak dan titik awal bagi semua jalan yang menghubungkan ibu kota dengan daerah lain di Malaysia.

Saya kemudian melanjutkan langkah kaki di trotoar Jalan Raja. Menuju ujung dari Dataran Merdeka, lalu menyeberangi sungai Gombak melalui jembatan The River of Life hingga sampai di pelatan Masjid Jamek.

Di seberang Masjid Jamek, terdapat kompleks perniagaan terkenal. Kedua tempat ini dipisahkan oleh Jalan Tun Perak, jalur perniagaan paling sibuk di Kuala Lumpur.

Jalan ini memiliki sejarah panjang, dan merupakan jalan tertua di Kuala Lumpur. Awal mula jalan ini bernama Jalan Jawa.

"Ini Jalan Jawa. Orang Bugis, Serawak, Jawa menetap di sini," kata pemandu walking tour Maharani kepada Liputan6.com, Kamis (02/10/2025).

Dahulu kala, tempat di sana masih berupa hutan. Para pendatang dari Jawa, Bugis dan lainnya kemudian menghidupkan wilayah dengan cara menetap dan berdagang.

"Jadi orang Jawa di sini sudah lama. Orang yang bercocok menanam, padi, sayur, kemungkinan orang Jawa. Sebab mereka datang sekira 1840," kata wanita yang masih memiliki keturunan Jawa ini.

Jalan ini resmi disebut Jalan Jawa di tahun 1889. Kondisi ini berlangsung selama 57 tahun. Hingga akirnya di tahun 1946 berganti nama menjadi Jalan Mountbatten.

Nama ini diambil dari perwira angkatan laut Britania Raya Laksamana Armada Louis Francis Albert Victor Nicholas Mountbatten.

Jalan Jawa terus menjadi magnet bagi investor kala itu. Denyut perekonomian di sana berkembang pesat. Kawasan semakin ramai. Orang-orang dari latar belakang beragam berdatangan.

Kedai-kedai mewah bermunculan untuk memenuhi standar hidup kala itu. Ketika Natal tiba, Jalan Mountbatten dihiasi dengan lampu berwarna-warni dengan bermacam aksesoris.

Namun, lama kelamaan, popularitas pusat perniagaan di Jalan Mountbatten mulai merosot dan berganti di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Beberapa tahun setelah Malaysia merdeka, tepatnya di tahun 1981, Jalan Mountbatten berganti menjadi Jalan Tun Perak. Nama ini diambil dari Tun Perak yang merupakan bendahara Kesultanan Melayu Melaka.

Perubahan nama jalan ini sebagai usaha Malaysia mengganti segala sesuatu yang berbau Inggris.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6