Mendagri Ingatkan Pemda: Jangan Biarkan Inflasi Ganggu Daya Beli

Mendagri menekankan agar pemda dengan inflasi tinggi segera duduk bersama dengan BPS, Bulog, Kadin, Apindo, serta asosiasi pengusaha lainnya untuk mencari solusi.

Diperbarui 24 September 2025, 20:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Mendagri ingatkan pemda agar inflasi tidak tinggi karena berdampak pada daya beli masyarakat.
  • Inflasi nasional terkendali, namun beberapa daerah masih mencatat inflasi di atas 3,5%.
  • Pemda diminta berkoordinasi dengan BPS, Bulog, dan pengusaha untuk mencari solusi inflasi.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian mengingatkan kepada pemerintah daerah (pemda), untuk tidak membiarkan inflasi tinggi terus terjadi, karena akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi yang tidak terkendali dapat membuat harga kebutuhan pokok melambung dan sulit dijangkau konsumen.

Tito mengatakan, inflasi nasional tahunan berada di kisaran 2,3 persen, sesuai target pemerintah di level 2,5 persen ± 1 persen. Capaian ini tergolong baik, namun Mendagri menegaskan bahwa inflasi tidak boleh terlalu rendah maupun terlalu tinggi.

Tito menerangkan, jika inflasi terlalu rendah di bawah 1 persen, dapat merugikan produsen seperti petani, nelayan, dan pelaku industri karena harga tidak menutup biaya produksi. Sebaliknya, apabila inflasi terlalu tinggi justru menyulitkan konsumen karena harga barang pokok menjadi tidak terjangkau.

Meski secara nasional terkendali, Tito mengungkapkan masih ada sejumlah daerah yang mencatat inflasi di atas 3,5 peraen. Adapun daerah tersebut, yakni Provinsi Sulawesi Barat, Riau, Aceh, Papua Pegunungan, Sulawesi Utara, Papua Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara.

Mendagri menekankan agar pemda dengan inflasi tinggi segera duduk bersama dengan BPS, Bulog, Kadin, Apindo, serta asosiasi pengusaha lainnya untuk mencari solusi. Menurutnya, kenaikan harga di daerah bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan distribusi akibat cuaca, kenaikan tarif angkutan, hingga praktik penimbunan pangan oleh oknum tertentu.

“Tolong kepala daerah yang inflasinya masih tinggi untuk duduk bersama dengan BPS, Bulog, dan asosiasi pengusaha. Cari penyebabnya, bisa karena suplai pangan kurang, tarif angkutan naik, atau distribusi terganggu akibat cuaca,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kemendagri, Selasa (23/9/2025).

 

Siap Tindaklanjuti

Sementara, Provinsi Kalimantan Barat melalui Sekda, Harisson menyatakan siap menindaklanjuti arahan Mendagri. Harisson menyoroti komoditas strategis seperti cabai merah, bawang merah, dan daging ayam ras sebagai penyumbang utama inflasi, serta menekankan pentingnya koordinasi dengan kabupaten/kota, Bulog, Satgas Pangan, hingga pelaku usaha.

Harisson akan memanfaatkan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) untuk mengantisipasi kenaikan harga sejak awal.

“Kami di Kalbar berkomitmen menjaga stabilitas harga agar inflasi daerah tetap terkendali dan sejalan dengan target nasional,” trerang Harisson.

Dengan langkah-langkah strategis seperti pemantauan harga di lapangan, pemerataan distribusi pangan, serta koordinasi erat antara pusat dan daerah, dia meyakini stabilitas harga terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, dan inflasi daerah tetap sejalan dengan target nasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6