Syahdan Husein Disebut Lakukan Aksi Mogok Makan dibalik Jeruji Rutan Polda Metro Jaya

Syahdan Husein (SH), admin akun instagram @gejayanmemanggil, melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk perlawanan dari balik jeruji Polda Metro Jaya.

Diterbitkan 18 September 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Admin @gejayanmemanggil, Syahdan Husein, mogok makan di Polda Metro Jaya.
  • Aksi ini protes penangkapan aktivis dan menuntut pembebasan tahanan politik.
  • Keluarga tidak dikabari penangkapan dan akses bertemu Syahdan dipersulit.

Liputan6.com, Jakarta Syahdan Husein (SH), admin akun instagram @gejayanmemanggil, melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk perlawanan dari balik jeruji Polda Metro Jaya.

Aksi mogok makan itu disebut sudah dilakukan sejak 11 September 2025.

Kabar itu disampaikan Kakaknya, Sizigia Pikhansa, usai membesuk di Rutan Polda Metro Jaya, Rabu (17/9/2025). Dia mengatakan, Syahdan memilih berhenti makan sebagai bentuk protes.

"Sejak 11 September, Syahdan sudah mogok makan. Berarti, per hari ini, sudah seminggu. Ini sebagai bentuk protesnya dia atas penangkapan-penangkapan seluruh aktivis. Dia mengatakan akan mogok makan sampai seluruh tahanan politik dibebaskan," kata Sizigia.

Dia mengatakan, Syahdan tidak sendirian. Dukungan juga datang dari sesama penghuni rutan. Mereka ikut mogok makan.

"Total 16 orang juga ikut mogok makan sebagai bentuk aksi dari penangkapan ini," ujar Sizigia.

 

Pihak Keluarga Tak Dikabari Kepolisian

Di balik aksi itu, pihak keluarga juga menanggung beban tersendiri. Sejak awal penangkapan, mereka mengaku tidak pernah mendapat kabar apa pun.

“Tidak dikabari apapun, tapi tiba-tiba ditangkap dan jadi tersangka juga. Kemudian, mungkin dengan kondisi-kondisi seperti itu, itu mempengaruhi dari kondisi Syahdan sendiri, ujar Sizigia.

Terlebih, akses untuk bertemu Syahdan dipersulit. Baik keluarga maupun pendamping hukum kerap dihalangi

"Itu juga membuat psikis Syahdan terganggu, maksudnya dia tidak bisa mendapatkan pendampingan secara emosional atau psikologis juga. Karena, dia merasa, tidak mendapatkan pendampingan dari kuasa hukum atau keluarganya," ujar Sizigia.

"Padahal, semua sedang bekerja keras di luar. Tapi memang akses untuk bertemu Syahdan dihalang-halangi," sambung dia.

 

Menolak Disebut Provokator

Dalam kesempatan itu, Sizigia menegaskan pihak keluarga menolak Syahdan dicap sebagai provaktor.

"Karena memang, dengan situasi dan kondisi Indonesia saat ini, siapa yang butuh provokator untuk marah? Semua juga bisa merasakan amarahnya. Jadi, mereka hanya menyampaikan suara-suara kita," tandas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6