Dorong Pemberdayaan Masyarakat, Kemensos Bangun Kampung Berdaya di Banyumas

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengharapkan Kampung Berdaya Kemensos di Desa Kalisalak menjadi desa percontohan program pemberdayaan untuk daerah-daerah lainnya.

Diterbitkan 31 Agustus 2025, 21:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kemensos mengubah fokus dari bansos ke pemberdayaan melalui Kampung Berdaya.
  • Kampung Berdaya Kalisalak melatih KPM produksi keranjang ekspor ke Amerika.
  • Program ini meningkatkan penghasilan KPM dan jadi percontohan nasional.

Liputan6.com, Banyumas Kementerian Sosial menegaskan komitmennya untuk mengubah paradigma dari perlindungan sosial menuju pemberdayaan masyarakat. Salah satu inisiatifnya melalui pembangunan Kampung Berdaya di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Melalui kemitraan dengan Roemah Pemberdayaan Masyarakat (RPM), Kemensos melatih keluarga penerima manfaat (KPM) memproduksi keranjang tempat sampah berbahan tanaman mendong dan pelepah pisang.

"Di Kemensos itu ada konsep baru, bantuan sosial itu sementara, berdaya itu selamanya. Sekarang, Kemensos membangun kampung-kampung pemberdayaan, salah satunya di Desa Kalisalak ini," ujar Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat meninjau Kampung Berdaya Kemensos di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Minggu (31/8/2025).

Pada kesempatan ini, Agus Jabo menyapa dan berbincang dengan 20 KPM yang tergabung dalam satu kelompok di Desa Kalisalak. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang aktif dalam pembuatan kerajinan anyaman, selain Kabupaten Gunung Kidul, Lumajang, Kulon Progo, dan Wonosobo.

Dari membuat produk anyaman keranjang sampah ini, per hari para KPM bisa memproduksi 2 hingga 3 keranjang dengan harga satu keranjang bervariatif mulai dari Rp12.000 sampai Rp20.000. Kurang lebih setiap kelompok bisa memproduksi hingga 200 keranjang per dua minggu.

"Produk anyaman dari mendong, dari pelepah pisang, menjadi tempat-tempat sampah. Ini diekspor ke Amerika, kita bekerja sama dengan pihak swasta," ujarnya.

Produk Anyaman Keranjang Diekspor ke Amerika

Kelompok Kampung Berdaya Kemensos di Desa Kalisalak bekerjasama dengan Roemah Pemberdayaan Masyarakat (RPM) di bawah naungan PT. Out Of Asia, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang ekspor handicraft.

"Mereka menyuplai bahan-bahannya, kemudian diproduksi oleh ibu-ibu yang ada di sini. Hasil produksinya kemudian dibeli, ya, dan diekspor ke Amerika," jelas Agus Jabo.

Produk kerajinan berbahan dasar organik seperti ini banyak diminati di mancanegara. 

"Dan ini kenapa negara-negara (seperti) Amerika suka dengan tempat sampah seperti ini, karena ini ramah lingkungan," ujarnya.

Percontohan Program Pemberdayaan Masyarakat

Agus Jabo mengharapkan Kampung Berdaya Kemensos di Desa Kalisalak menjadi desa percontohan program pemberdayaan untuk daerah-daerah lainnya. 

"Sehingga perintah Pak Presiden di tahun 2026, kemiskinan ekstrem harus nol. Di tahun 2029, kemiskinan itu harus turun menjadi di bawah 5 persen, dengan program-program pemberdayaan seperti ini bisa terwujud ya," pungkasnya.

Eni Kurniawati, salah satu KPM turut merasakan manfaat Kampung Berdaya Kemensos adalah Ia merupakan KPM Program Keluarga Harapan (PKH) dari RT 01/RW 07 Desa Kalisalak. Ia mengikuti program ini dari Maret 2025. Hasilnya, Eni mampu memproduksi 2 sampai 3 keranjang sampah setiap hari, sehingga mendapatkan penghasilan tambahan sekitar Rp36.000/hari.

"Alhamdulillah, menambah penghasilan saya, dari yang tadinya minim, sekarang agak meningkat untuk kehidupan sehari-hari," kata Eni.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6