Angkie Yudistia Bawa Pesan Inklusivitas, Keberanian hingga Empati

Staf Khusus Presiden periode 2019-2024 Angkie Yudistia merupakan sosok perempuan yang dikenal lewat dedikasinya dalam memperjuangkan hak dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas.

Diperbarui 09 Agustus 2025, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dunia mode Indonesia kembali disemarakkan oleh kehadiran sebuah karya yang bukan hanya mengedepankan estetika, tetapi juga menyuarakan nilai kemanusiaan.

Dia adalah Angkie Yudistia. Namanya sudah tak asing lagi didunia fashion. Angkie Yudistia kerap tampil modis disetiap kesempatan dengan hijab ciri khasnya tersebut.

Produk hijab terbaru hasil ide dari Staf Khusus Presiden periode 2019-2024 ini, yang juga merupakan Sociopreneur, membawa pesan Inklusif penuh makna.

Angkie Yudistia merupakan Finalis Abang None Jakarta Barat pada tahun 2008 ini, merupakan sosok perempuan yang dikenal lewat dedikasinya dalam memperjuangkan hak dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas. Untuk itu, dirinya kini resmi memperkenalkan produk terbarunya yang diberi nama Inclusive Scarves.

Founder dan CEO wirausaha sosial Inclusive Idn with Angkie Yudistia mencerminkan perubahan peran dari policy influencer menjadi social impact leader yang tetap membawa semangat perjuangan inklusi.

"Bagi saya, ini semua lebih dari sekadar fashion item, Inclusive Scarves adalah statement piece, sebuah karya yang membawa pesan inklusivitas, keberanian, dan empati," ujar Angkie, melalui keterangan tertulis, Jumat (8/8/2025).

"Berbeda dengan produk serupa lainnya, Inclusive Scarves dari mulai design hingga tahapan produksi semuanya hasil karya saya, untuk itu dengan memaksimalkan kreativitas juga social media platform," sambung dia.

Karena nantinya, lanjut Angkie, produk ini bisa menjadi cara untuk siapapun bisa berwirausaha menjadi affiliator dengan persiapan pelatihan vokasi, yang juga sudah dipersiapkan secara matang.

 

Bawa Misi Sosial

Angkie mengaku dirinya ingin produk tersebut dirancang untuk menjadi jembatan yang mempertemukan gaya dengan misi sosial. Dia menjelaskan, melalui Inclusive Scarves, dirinya ingin mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki peran untuk membawa perubahan.

"Karya ini bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi tentang makna, perwakilan, dan harapan bagi banyak orang," papar Angkie Yudistia.

Dengan dibalut dalam desain elegan dan warna penuh filosofi, Inclusive Scarves tak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menyuarakan pemberdayaan, khususnya bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya yang selama ini terpinggirkan.

Peluncuran resmi produk ini akan berlangsung pada 29 Agustus 2025, bertepatan dengan momen penting yang dirancang untuk menyatukan komunitas dan menginspirasi gerakan kebaikan.

"Harapannya produk ini bisa membawa banyak manfaat, bagi para reseller atau para penjual serta affiliator, serta siapapun yang membeli dan menggunakan hijab tersebut. Karena setiap karya bisa menjadi alat perubahan. Dan setiap orang berhak merasa dilihat, didengar, dan diberdayakan," tutur Angkie.

Perempuan yang kini sedang menyelesaikan program S3 Doktoral Ilmu Komunikasinya ini menekankan, sesungguhnya dalam setiap kain yang dikenakan, seseorang bisa menyematkan pesan kemanusiaan yang tak ternilai harganya.

"Inclusive Is Coming bukan hanya slogan tetapi panggilan untuk menyambut masa depan yang lebih inklusif dan penuh makna," papar Angkie.

Dia mengatakan, inclusive Scarves dirancang sebagai simbol keterbukaan, keberagaman, dan kekuatan komunitas dalam menciptakan ruang yang lebih adil dan setara.

"Inclusive Scarves lahir dari keyakinan bahwa setiap karya bisa menjadi jembatan untuk menghadirkan perubahan. Dalam setiap helai kain yang ditampilkan, tersimpan cerita tentang pemberdayaan, kolaborasi, dan solidaritas," terang Angkie.

"Proses kreatifnya melibatkan partisipasi aktif dari komunitas disabilitas dan kelompok rentan, mulai dari desain hingga produksi. Hal ini bukan hanya memberikan kesempatan kerja tetapi juga membuka ruang ekspresi dan apresiasi terhadap potensi yang sering kali terabaikan," jelas Angkie.

Baginya, menciptakan produk bukan hanya soal bisnis atau tren tetapi tentang bagaimana sebuah karya dapat menjadi media untuk menyuarakan hal yang lebih besar dari sekadar gaya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6