Penanaman 100.000 Mangrove di Pantai Utara Bekasi, Kurangi Emisi Karbon

Penanaman mangrove pada 2025 difokuskan di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Diperbarui 06 Agustus 2025, 20:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai upaya keberlanjutan dalam menjaga lingkungan masyarakat terus dilakukan oleh sejumlah pihak. Salah satunya seperti yang dilakukan PT Jababeka Tbk.

Dikenal sebagai pelopor kawasan industri modern dan berwawasan lingkungan di Indonesia, pihaknya terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kawasan industri yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekologis.

"Melalui program tahunan Jababeka Ecoweek 2025, yang merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Jababeka Ecoweek sebelumnya, Jababeka kembali menggandeng berbagai pihak untuk mendorong aksi kolektif dalam menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan Industri Jababeka," ujar Direktur PT Jababeka Infrastruktur Vega Violetta melalui keterangan tertulis, Selasa (5/8/2025).

Dia mengatakan, pada tahun lalu, kegiatan Jababeka Ecoweek 2024 berhasil merealisasikan penanaman 50.000 bibit pohon mangrove jenis Rhizophora secara bertahap di Pantai Bahagia sebagai bentuk perlindungan pesisir dari abrasi, banjir rob, serta penciptaan green belt yang mendukung kualitas lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.

"Melanjutkan lokasi yang sama dengan tahun sebelumnya, penanaman mangrove tahun ini kembali difokuskan di Pantai Bahagia, Muara Gembong, namun dengan skala kolaborasi dan target penyerapan karbon yang lebih besar," ucap Vega.

"Dengan tema 'Green Coasts, Stronger Future: Empowering Communities through Mangrove Conservation', kegiatan tahun ini bertujuan memperkuat green belt pesisir sebagai pelindung alami dari abrasi, peredam angin kencang, serta benteng terhadap dampak perubahan iklim," sambung dia.

 

Dukung Target Nasional Indonesia

Menurut Vega, inisiatif ini juga mendukung target nasional Indonesia Carbon Neutral 2060, yaitu komitmen pemerintah untuk mencapai keseimbangan antara emisi karbon yang dilepaskan dan yang diserap oleh ekosistem pada tahun 2060 demi mengatasi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

"Penanaman mangrove ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami dalam membangun kawasan industri yang resilien terhadap perubahan iklim," kata dia.

"Kami ingin membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan. Melalui kolaborasi dengan para tenant, komunitas lokal, dan pemerintah, kami berharap green belt pesisir yang kami bangun ini bisa menjadi warisan ekologis yang melindungi wilayah pesisir sekaligus memberdayakan masyarakat," sambung Vega.

Dia mengatakan, sebagai bagian dari rangkaian Jababeka Ecoweek 2025, Jababeka menggandeng Preserve Foundation sebuah komunitas peduli lingkungan yang dibentuk oleh mahasiswa aktif President University, untuk menghadirkan dua program yang melibatkan peran generasi muda dalam isu lingkungan.

Vega memaparkan, kegiatan tersebut meliputi penanaman 1.000 pohon di kawasan Jababeka Botanical Garden pada 20 Juni 2025, serta seminar bertajuk 'Exploration in Environment for Better Future' pada 22 Juli 2025.

Seminar tersebut, kata dia, menjadi forum kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, komunitas, dan praktisi lingkungan untuk berbagi wawasan dan mendorong aksi nyata demi keberlanjutan.

 

Kontribusi Nyata Upaya Pelestarian Lingkungan

Sementara itu, pada tahun ini, Preserve Foundation turut menghadiri Seremonial Penanaman Mangrove Jababeka Ecoweek 2025. Hal itu disampaikan Ketua Preserve Foundation I Gusti Ngurah P. Prayata Anom atau Pray.

"Preserve Foundation menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini yang memiliki arti penting tidak hanya sebagai upaya pelestarian lingkungan. Tetapi juga sebagai kontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta habitat alami fauna domestik," kata Pray.

Menurut dia, Preserve Foundation melihat potensi besar dari hutan mangrove sebagai penopang ekonomi kreatif berbasis pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.

"Kami berkomitmen untuk terus menjalin kolaborasi strategis bersama Jababeka dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan peran aktif generasi muda sebagai agen perubahan lingkungan," ucap Pray.

"Melalui sinergi yang kuat, kami optimis gerakan pelestarian ini dapat menjadi gerakan kolektif yang tumbuh secara berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat dan lingkungan," sambung dia.

 

Libatkan Berbagai Pihak

Penanaman mangrove kali ini melibatkan lebih dari 15 tenant di kawasan industri Jababeka, di antaranya PT Hanes Supply Chain Indonesia, PT KAO Indonesia, PT Sika Indonesia, PT Fukoku Tokai Rubber Indonesia, dan PT Nippon Steel Chemical & Material Indonesia.

Lalu PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Dexa Medica, PT Sari Takagi Elok Produk, PT Mane Indonesia, PT Komatsu Undercarriage Indonesia, PT Piaggio Indonesia Industrial, PT Bima Adikarya Persada, PT Nippon Indosari Corpindo, serta PT United Tractors Pandu Engineering.

Jenis tanaman yang ditanam adalah Rhizophora sp., yang memiliki kemampuan menyerap karbon dan logam berat, serta menjaga kualitas air dan ekosistem pesisir.

Tak hanya melibatkan tenant, kegiatan ini juga menggandeng masyarakat pesisir, terutama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) binaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi. Selain penanaman, masyarakat juga diberdayakan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif berbasis mangrove, seperti kerajinan tangan dan pangan olahan.

"Kami merasa bangga bisa terus dilibatkan dalam kegiatan Jababeka Ecoweek. Program ini bukan hanya soal menanam mangrove, tapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih peduli lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal," ucap Ketua Pokdarwis Alipbata Pantai Bahagia Sonhaji.

"Dengan adanya pendampingan dari Jababeka dan pemerintah, kami jadi lebih semangat mengolah hasil mangrove menjadi produk yang bernilai jual dan bisa dikenal lebih luas," sambung dia.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi Iyan Priyatna. Dia mengapresiasi penuh program yang sudah dilaksanakan oleh Jababeka dan Tenant ini sejak 2019 lalu.

"Saya sangat mengapresiasi dan bangga dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh Jababeka bersama Tenant ini sejak 2019 konsisten menanam ribuan bahkan sekarang sudah menuju 100.000 mangrove untuk wilayah disini. Semoga kedepannya Jababeka Ecoweek bisa mendapatkan Rekor Muri," kata Iyan Priyatna.

 

Apresiasi Kabupaten Bekasi

Apresiasi juga datang dari Kepala Bidang Perekonomian dan SDA, Bappeda Kabupaten Bekasi Vina Sari Nalurita yang juga menghadiri acara kali ini mewakili Plt Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi Didik Setiadi.

"Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Jababeka dan Tenant serta Cikarang Listrindo yang sudah banyak memberikan kontribusi disini, kami sangat mengapresiasi tentunya. Dan harapannya kedepan pemberdayaannya terus berlanjut," ucap Vina Sari Nalurita.

Direktur PT Jababeka Infrastruktur Vega Violetta kembali menambahkan, program ini sekaligus mempertegas posisi Jababeka sebagai kawasan industri pertama dan satu-satunya di Indonesia yang meraih PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK RI) untuk tahun 2023.

Menurut dia, capaian ini menunjukkan, Jababeka telah menjalankan pengelolaan lingkungan yang sejalan dengan program pemerintah, sekaligus menjadi bukti nyata atas komitmennya dalam mendorong inovasi berkelanjutan dan melampaui standar kepatuhan lingkungan.

"Capaian PROPER Hijau ini menjadi bukti bahwa langkah-langkah keberlanjutan yang kami lakukan, termasuk program penanaman mangrove di Muara Gembong, bukan hanya selaras dengan kebijakan nasional, tetapi juga memberikan dampak nyata di lapangan," kata dia.

"Ini adalah wujud komitmen kami untuk terus menghadirkan kawasan industri yang tak hanya produktif, tetapi juga peduli terhadap keberlangsungan ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitarnya," tambah Vega.

Dia menjabarkan, selain Jababeka Ecoweek, berbagai inisiatif sosial lainnya turut dijalankan seperti Gerakan Sehat Atasi Stunting (GETAS) dan Jababeka Scholarship Program, yang menyasar perbaikan gizi anak serta akses pendidikan untuk keluarga prasejahtera di sekitar kawasan Industri Jababeka.

"Melalui rangkaian program ini, Jababeka menegaskan dirinya bukan hanya sebagai pionir kawasan industri modern, tetapi juga sebagai katalisator transformasi hijau di Indonesia. Komitmen terhadap kolaborasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan menjadi landasan utama dalam menciptakan ekosistem industri yang adaptif terhadap masa depan," terang dia.

"Jababeka berharap, setiap langkah yang diambil, sekecil apapun, dapat memicu gelombang perubahan menuju Indonesia yang lebih hijau, tangguh, dan kompetitif secara global. Karena bagi Jababeka, industri masa depan adalah industri yang hidup berdampingan selaras dengan alam, tumbuh bersama masyarakat, dan berkontribusi nyata bagi bumi," jelas Vega.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6