Metode Ini Pastikan Sidik Jari di Lakban Kuning Milik Diplomat Muda Kemlu

Misteri kematian Arya Daru Pangayunan atau ADP (39), diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya, perlahan mulai terkuak.

Diterbitkan 29 Juli 2025, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Misteri kematian Arya Daru Pangayunan atau ADP (39), diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya, perlahan mulai terkuak.

Salah satu bukti penting dijawab oleh tim Pusat Identifikasi (Pusident) Bareskrim Polri yaitu mengenai sidik jari yang tertinggal di lakban. Anggota Tim Penyelidik, Aipda Sigit Kusdiyanto, memastikan sidik jari itu adalah milik ADP.

"Jadi hasil dari tim identifikasi terkait pencarian sidik jari bahwa dilakban yang diperoleh yaitu sidik jari dari ADP," kata Aipda Sigit saat menyampaikan kesimpulan proses penyelidikan di Polda Metro Jaya, Senin (28/7/2025).

Lakban tersebut adalah benda yang digunakan untuk melilit kepala korban. Menurut Aipda Sigit, lakban warna kuning merek Daimaru diteliti lebih lanjut dengan metode keilmuan daktiloskopi.

"Kita lakukan treatment yaitu melalui kimia basah, melalui kristal violet, diperoleh sidik jari di mana ada beberapa sidik jari," jelas Sigit.

Dari hasil pemeriksaan itu, beberapa sidik jari sempat terlihat. Namun hanya satu yang layak untuk dianalisis, diperiksa atau dibaca lebih lanjut sesuai kaidah dan karakterisitik yang ada.

Sidik jari tersebut kemudian dibandingkan dengan data milik Arya Daru Pangayunan. Hasilnya, cocok di 12 titik karakteristik.

"Hasil dari pengembangan yang ada di lakban dengan sidik jari yang kita ambil dari saudara ADP memenuhi kriteria persyaratan 12 titik yang sama," ungkap Sigit.

Temuan Psikologi Forensik: Isu Kesehatan Mental di Balik Kematian Arya Daru

Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor), Nathanael E. J. Sumampouw menguak temuan lain. Sebelum tewas, Arya Daru Pangayunan (ADP) sempat mengakses layanan kesehatan mental secara daring. Hal itu dilakukan pada 2021 lalu.

"Kami menemukan bahwa pada almarhum ada upaya di mana almarhum berusaha mengakses layanan kesehatan mental secara daring. Terakhir kali dari data-data yang dihimpun kami melihat sekitar tahun 2021. Awalnya dari data yang dihimpun di tahun 2013," jelas Nathanael dalam konferensi pers, Selasa (29/7/2025).

Nathanael menjelaskan, ADP memiliki karakter positif seperti pekerja keras, suportif, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungannya. Namun, Arya Daru kesulitan mengekspresikan emosi negatif, terutama dalam situasi tekanan yang tinggi.

"Tekanan tersebut dihayati secara mendalam sehingga mempengaruhi bagaimana almarhum memandang dirinya, memandang lingkungan, dan memandang masa depan," kata Nathanael.

Menurut dia, Arya Daru selalu berusaha menginternalisasi berbagai emosi yang dirasakan dan berupaya untuk tidak menunjukkannya di depan orang lain. Beban itu dipikul Arya Daru di tengah beratnya tanggung jawab sebagai pekerja kemanusiaan.

Metode Berlapis untuk Ungkap Kepribadian Arya Daru

Nathanael menjelaskan, temuan kondisi Arya Daru tersebut ditelusuri oleh tim khusus yang terdiri dari tujuh psikolog berpengalaman dalam pemeriksaan forensik, khususnya menggunakan pendekatan autopsi psikologis.

"Autopsi psikologis adalah proses evaluasi terhadap individu yang telah meninggal untuk memahami dinamika psikososial yang mungkin berkontribusi pada kematiannya," ujar Nathanael.

Tim Apsifor menggunakan metode berlapis, mulai dari wawancara mendalam dengan keluarga, kolega, hingga atasan almarhum. Kemudian, penelaahan dokumen pribadi dan profesional, hingga sinkronisasi informasi dengan temuan kepolisian. Tujuannya membangun gambaran utuh soal kondisi psikologis almarhum.

Nathanael menyebut, proses ini dilakukan dengan menjunjung pendekatan trauma informed care penuh empati dan kesadaran bahwa para informan tengah berduka.

"Kami sangat berhati-hati dan menjunjung tinggi etika profesi," tegas Nathanael.

Kronologi Penemuan Mayat Diplomat Muda Kemlu, Kepala Terlilit Lakban

Jenazah Arya Daru Pangayunan ditemukan di dalam kamar kos Guest House Gondia, Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025).

Penemuan jasad diplomat muda Kemlu itu berawal dari kecurigaan istrinya yang tak kunjung mendapatkan kabar sang suami. Istri Arya Daru lalu meminta penjaga kos untuk memeriksa kamar korban.

"Ada permintaan istri korban, dari malam harinya kepada penjaga kos untuk mengecek ke kamar korban karena istri korban tidak dapat menghubungi korban, karena handphone korban mati," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Kamis (24/7/2025).

"Setelah dimintai tolong oleh istri korban, penjaga kos melaporkan kepada pemilik kos untuk membuka pintu. Dan penjaga kos mengajak salah satu penghuni lain FM untuk membuka atau mengecek kondisi kamar," sambung dia.

Dia menjelaskan, kamar korban bernomor 105 di Guest House Gondia. Saat itu, kamar korban dalam kondisi terkunci dari dalam baik melalui kunci manual, slot, maupun akses kunci pribadi yang hanya dipegang oleh korban.

Untuk masuk ke dalam, penjaga kos dan penghuni lain berinisial FM mencongkel jendela terlebih dulu, lalu membuka slot pengaman dan kunci manual dari dalam.

"Jadi, penjaga kos dan saksi penghuni kos lainnya, FM, berupaya masuk ke dalam kamar korban dengan mencongkel jendela, kemudian membuka slot dari dalam, membuka kunci manual, akhirnya pintu berhasil dibuka," ucap dia.

Saat ditemukan, korban dalam posisi terbaring di atas tempat tidur dengan kepala dililit lakban warna kuning.

"Korban ditemukan dalam kondisi wajah tertutup plastik, kemudian terlilit lakban berwarna kuning di tempat tidurnya. Kemudian tertutup selimut, korban di atas tempat tidurnya ditemukan dengan keadaan menggunakan kaos dan celana pendek," ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6