Kisah Perjuangan Fathan Putra Rifito: Anak Jenderal Bintang 2, Peraih Adhi Makayasa Akpol 2025

Kisah tentang Fathan begitu menarik. Ia tumbuh dalam keluarga yang penuh kehangatan. Tak ada jarak antar orangtua maupun anak, mereka mengibaratkan keluarga bak sebuah tim.

Diperbarui 24 Juli 2025, 10:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sore itu di Duren Sawit, matahari menggantung rendah di langit timur Jakarta. Suasana di Jalan Teratai Putih 1 Gang 11, Duren Sawit Jakarta Timur tampak ramai dengan anak-anak berlalu lalang dan ada beberapa pria sedang nongkrong di warung.

Jejak langkah berhenti ketika melihat sebuah rumah berlantai dua dengan pagar berwana putih. Tak ada patwal, tak ada papan nama. Dari luar, tak ada tanda bahwa seorang jenderal bintang dua tinggal di situ.

Di halaman rumah, seorang perempuan terlihat mengangkat jemuran. Tangannya cekatan, wajahnya ramah menyambut saat suara Assalamualaikum bergema. Wanita itu adalah Hening Fitricia, ibunda dari Fathan Putra Rifito, peraih bintang Adhi Makayasa Akademi Kepolisian 2025.

Saat sedang memperkenalkan diri, Hening mendengarkan dengan penuh keramahan. Tak lama, seorang pria bersarung dan berkaus muncul dari balik pintu. Ia membuka pagar, menyodorkan tangan menjabat hangat. Ia menyilakan masuk ke ruang tamu yang kecil tapi rapi.

Tak ada jarak, saat Jenderal Polisi itu menerima tamunya. Di tengah keheningan sore, duduk saling berhadapan. Keping demi keping cerita tentang Fathan Putra Rifito mengalir.

Dia merupakan anak kedua, dari dua bersaudara. Kakaknya, Aurelia Putri Rifito seorang akademisi yang sedang menimba ilmu S2 di Glasgow University. UK, jurusan Creative Industry.

 

Kisah Tentang Fathan

Kisah tentang Fathan begitu menarik. Ia tumbuh dalam keluarga yang penuh kehangatan. Tak ada jarak antar orangtua maupun anak, mereka mengibaratkan keluarga bak sebuah tim.

"Jadi kalau satu bersedih kita itu bersedih. Malah saya kalau panggil mereka bro, sist. Saya sama istri anggap anak-anak itu bagian dari tim kita. Prinsip kita satu jangan sampai ada yang memalukan keluarga. Terus yang kedua berprestasi Setinggi-tingginya," ujar Barito.

Ayah Fathan, Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono merupakan anggota aktif Polri. Di masa dinasnya, Barito pernah menjadi Kasat Intel di Singkawang, Kapolres di Konawe, dan pengasuh taruna di Akpol. Dia bercerita, Fathan sejak kecil sudah menunjukkan naluri sebagai kepolisian.

Suatu siang, saat masih duduk di kelas 4 SD, ia masuk ke ruang kerja ayahnya di Polres Konawe.Di meja ayahnya ada map bertuliskan “Rahasia”. Fathan menatap tulisan itu lama. “Ayah, ini surat Intel?” tanyanya.

Barito sempat terkejut. Anaknya itu rupanya bukan hanya membaca, tapi juga menangkap makna dari kata-kata.

"Saya langsung kaget ini anak jalan nalurinya," kata Barito.

Tapi saat itu ia belum mengaitkannya dengan Akademi Kepolisian. Yang ada di benaknya justru Fathan akan diarahkan menjadi ilmuwan. Betapa tidak, nilai IQ Fathan tergolong tinggi. UN matematikanya sempurna.

"Tadinya berharapnya dia sebenarnya Masuk kuliah aja gitu. Kan sudah tes IQ wah ini anak potensi," ucap Barito.

 

Masuk SMA Taruna

Tapi jalan cerita berubah saat Fathan masuk SMA Taruna Nusantara. Di tahun pertamanya, Barito bertanya.

"Kamu mau kemana," tanya Barito" Aku mau ke Akpol saja yah," jawab Fathan.

Dan sejak itu, Barito mempersiapkan matang-matang dan mengasah kemampuan anak dari pelbagai bidang. Barito tahu betul jalan menuju ke sana tidaklah mudah meksipun Fathan anak seorang Jenderal Polisi.

"Kita berjuang selama tiga tahun. Kita lakukan persiapan dari kelas 1," ucap Barito.

Saat Covid-19 menyerang Indonesia tahun 2019. Kegiatan belajar-mengajar diberlakukan secara daring. Namun, Barito memutuskan anaknya tetap tinggal di Semarang.

"Biar dapet auranya lah. Bagi saya tuh penting dapat aura. Dia persiapan di sana," ujar dia.

Di sana, ia tinggal bersama ibunya. Hening bukan hanya ibu, tapi lebih dari itu. Ia memperhatikan betul-betul kondisi anaknya. Sedangkan, Barito datang tiap akhir pekan, menyetir dari Jakarta ke Semarang, untuk mengecek kondisi anaknya.

"Gimana perkembangannya atau segala macam," ujar Barito.

Barito bahkan terus tanya perkembangan anaknya melalui gurunya.

"Gimana peluangnya," kata Barito"Oh pak masih punya potensi, bisa dikembangkan," jawab si guru.

"oke" timpal Barito lagi.

 

Lulus dengan Nilai yang Baik

Singkatnya, Fathan lulus dari SMA Taruna Nusantara dengan nilai yang baik. Ia bahkan sempat diterima di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Diponegoro sebelum akhirnya memilih Akpol.

"Begitu tes dari Jawa Tengah Ranking 2," ujar Barito.

Saat sudah masuk Akpol, Barito kembali mengobrol dengan Fathan. Di situ, ia mengungkapkan kembali cita-cita setelah menjadi siswa di Akademi Kepolisian.

"Apa cita-cita kamu setelah jadi Taruna Akpol," tanya Barito.

"Aku pengen Adhi Makayasa," jawab Fathan.

Barito kebetulan pernah menjadi pengasuh di Taruna Akpol. Biasanya, siswa hanya ingin menjadi bagian dari drumband atau menjadi senar utama. Tapi, anaknya berbeda, justru mau mendapatkan Adhi Makayasa.

Barito mengaku bangga karena jarang sekali ada taruna yang sejak awal menetapkan cita-cita seperti itu. Tapi Barito tahu, butuh perjuangan yang keras untuk mewujudkan itu.

Barito yang punya latar belakang penugasan di bagian intelejen dan pendidikan menyampaikan penilian peraih Adhi Makayasa berdasarkan lima aspek antara lain pengetahuan, keterampilan, kesehatan, perilaku dan karakter.

"Dari lima ini, karena saya di intel saya analisis anak saya. Saya bilang gini waktu itu :Ada tiga kunci kamu jadi Adhi Makayasa," kata Barito.

"Apa yah," jawab Fathan.

"Pertama Kamu punya kemampuan, kedua kamu punya kemauan. Saya singkat menjadi 2K," jawab Barito

"Aku gimana yah?," tanya Fathan.

"Kamu punya dua-duanya. Tapi keduanya gak bisa sampai goal kalau gak tambah satu," jawab Barito.

"Apa yah?," tanya lagi Fathan.

"Petarung," tegas Barito.

 

Motivasi Dijalankan dengan Penuh Semangat

Motivasi Barito dijalankan dengan penuh semangat. Sejak itu, Barito tiap minggu sering berkunjung ke Semarang. Barito paham Akpol ibarat sebuah kompetisi tinju. Sehingga, kehadiran keluarga sangatlah berarti untuk taruna.

"Saya bagi tugas dengan istri. Istri saya yang bagian pijit, ajak makan menambah nutrisi. Saya dengar curhatan, jadi penasehat. Karena kita ini bagian dari tim," ujar Barito.

Di Akademi Kepolisian, Fathan menjelma bukan sekadar sebagai taruna cemerlang secara akademik, tapi dipercaya menjadi pemimpin forum aspirasi antartaruna.

"Di Akpol dari tingkat 1 dia jadi kayak DPR mendengarkan aspirasi teman-temannya entar temennya udah pada istirahat dia masih ngerjain tugas untuk kegiatan besok," ucap dia.

Pengumuman kelulusan terbaik itu datang dari Humas Akpol. Namun, Fathan juga memberi tahu lewat pesan WhatsApp yang Barito simpan sampai hari ini. Di layar, pesan dari anak keduanya masuk.

"Ayah, ibu Alhamdulillah aku sudah dapatkan Adhi Makayasa. Semua tidak bisa aku dapatkan kalau enggak berkat dukungan dan doa dari Ayah dan Ibu, termasuk Aurel," tulis pesan Fathan.

Melihat itu, isak tangis pecah tanpa aba-aba. Ia tahu, kalimat itu lahir dari perjalanan panjang, dan tekad yang tak pernah goyah.

"Kita berdua nangis karena saya tahu persis bagaimana perjuangan mendapatkan Adhi Makayasa. Dan saya sangat percaya dengan lembaga pendidikan Akpol semua berjalan secara fair apa adanya," ujar dia.

"Sekarang kontrol sosial sudah luar biasa dengan adanya media sosial kalau sampai ada penyimpangan sedikit aja langsung menyebar. Nah jadi kita langsung nangis, langsung kasih kabar ke kakaknya di Inggris gitu. Jadi kita tahunya setelah diumumkan," dia menambahkan.

 

Berharap Anaknya jadi Polisi yang Baik

Barito berharap kelak anaknya menjadi polisi yang baik dan menjadi polisi yang suka menolong.

"Dia di Jabatan apapun, dipangkat apapun, dalam kondisi apapun. Pokoknya buat jadi polisi yang baik dan penolong. Karena memang sejatinya polisi itu ya penolong gitu. Apapun, sekecil apapun. Saya selalu tekankan kamu harus punya karakter yang baik supaya nanti bisa mewarnai," ucap dia.

Sementara ibu Fatan, Hening Fitricia berharap anaknya bisa turut berkontribusi untuk memperbaiki citra Polri di masyarakat. "Saya pengen dia jadi make changing," ucap dia.

Di akhir perbincangan, Barito mengutip pepatah pernah dipopulerkan oleh presenter Najwa Shihab untuk memberikan semangat kepada generasi bangsa.

"Ketika ikhtiar sudah sampai garis batas. Artinya sudah maksimal. Maka setelah itu biarkan doa dan takdir bertarung di atas langit," dia mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6