Ahmad Luthfi Bakal Perluas Produksi Beras Rendah Karbon di Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi akan memperkuat kerja sama dengan negara-negara Uni Eropa untuk memperluas produksi beras rendah karbon di wilayahnya.

OlehFachri
Diterbitkan 30 Juni 2025, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gubernur Jateng perkuat kerja sama dengan Uni Eropa perluas beras rendah karbon.
  • Target produksi padi Jateng 2025 sebesar 11,8 juta ton, kontribusi 16,73%.
  • Konversi mesin penggiling padi ke tenaga surya jadi fokus utama.

Liputan6.com, Surakarta Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi akan memperkuat kerja sama dengan negara-negara Uni Eropa untuk memperluas produksi beras rendah karbon di wilayahnya. Ia menyebut, hal itu untuk memitigasi perubahan iklim yang mengancam ketahan pangan.

"Hari ini untuk menindaklanjuti hubungan yang saat ini sudah kita lakukan. Ke depan hubungan ini akan dilanjutkan kembali,” ujar Luthfi.

"Fokus dari kegiatan hari ini, dukungan Jawa Tengah dalam mewujudkan swasembada pangan melalui beras rendah karbon," jelasnya.

Luthfi pun membeberkan, luas tanam padi di Jawa Tengah pada tahun 2024 sekitar 1,5 juta hektare dengan hasil produksi mencapai 8,8 juta ton gabah kering giling.

"Jumlah itu berkontribusi untuk stok pangan nasional sebesar 16,73%, tahun 2025 ini target hasil produksi padi di Jateng adalah 11,8 juta ton," bebernya.

Sebagai infomrasi, program low carbon rice di Jawa Tengah sudah dilaksanakan sejak 2022 di Boyolali, Klaten, dan Sragen. Implementasinya melalui program SWITCH-Asia Low Carbon Rice, yaitu menghubungkan antara petani dengan penggilingan padi kecil, pasar atau konsumen seperti restoran, hotel, dan lainnya.

Di Klaten, total wilayah yang dipanen mencapai 100 hektare dengan potensi produksi sekitar 600 ton gabah. Panen ini jadi contoh keberhasilan program low carbon rice, karena berhasil menurunkan emisi karbon hingga 80%, mengurangi biaya giling hingga 30-40%, serta memperbaiki kualitas hasil panen.

Implementasi lainnya adalah mendorong transisi pertanian berkelanjutan. Transisi ini dilakukan dengan mengganti mesin penggilingan padi berbahan bakar solar menjadi mesin penggilingan padi listrik, mengurangi pupuk kimia, dan mengoptimalkan penggunaan air.

Perluas Program Low Carbon Rice

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Dyah Lukisari mengatakan, untuk memperluas program low carbon rice, salah satu caranya adalah menggandeng CSR dari perusahaan.

"Saat ini yang sudah melakukan intervensi terkait program ini adalah Bank Indonesia, ada enam kabupaten selain Klaten, Boyolali, dan Sragen," katanya.

Dyah pun mengungkapkan, nilai investasi untuk konversi mesin penggilingan padi dari bahan bakar solar ke listrik rata-rata sekitar Rp250 juta-Rp300 juta untuk satu titik.

"Jadi CSR Bank Indonesia di enam titik itu mencapai sekitar Rp1,8 miliar. Mesin penggilingan padi itu ditempatkan di Demak, Jepara, Kudus, Kota Semarang, Kabupaten Semarang," ungkapnya.

Dyah berharap, ke depan mesin yang digunakan tidak lagi listrik, sebab listrik masih memakai energi dari fosil.

"Hal itu sesuai dengan arahan dari Gubernur Ahmad Luthfi agar mengupayakan konversi mesin dengan sumber energi dari tenaga surya," ujarnya.

"Nanti akan dicoba 1-2 pilot mesin penggilingan dengan tenaga surya, masih kami bahas juga soal ini," jelas Dyah.

Seperti diketahui, Pemprov Jawa Tengah akan memperkuat kerja sama dengan 12 negara Uni Eropa antara lain Austria, Siprus, Jerman, Belanda, Spanyol, Swedia, Belgia, Denmark, Finlandia, Lithuania, dan Polandia.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6