Liputan6.com, Jakarta - Kalender Jawa, atau Penanggalan Jawa, adalah sistem penanggalan yang memiliki sejarah panjang dan kaya di Indonesia. Sistem ini bukan hanya sekadar penanda waktu, tetapi juga cerminan dari perpaduan budaya dan agama yang telah berlangsung selama berabad-abad di tanah Jawa. Kalender ini dahulu digunakan secara luas di Kesultanan Mataram dan kerajaan-kerajaan pecahannya, serta daerah-daerah yang terpengaruh oleh budaya Jawa.
Keunikan Kalender Jawa terletak pada kemampuannya menggabungkan berbagai sistem penanggalan yang berbeda. Unsur-unsur Islam, Hindu, dan bahkan sedikit dari sistem Julian (Barat) berpadu harmonis dalam menciptakan sebuah sistem penanggalan yang khas. Perpaduan ini mencerminkan sejarah panjang interaksi budaya dan agama di Jawa.
Hingga saat ini, Kalender Jawa masih relevan dan digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa untuk berbagai keperluan. Mulai dari menentukan hari baik untuk acara-acara penting hingga meramal karakter seseorang berdasarkan weton kelahirannya, Kalender Jawa tetap memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Advertisement
Ciri Khas Utama Kalender Jawa
Salah satu ciri khas utama kalender jawa adalah penggunaan dua siklus hari, yaitu siklus mingguan (saptawara) yang terdiri dari tujuh hari (Ahad-Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Kombinasi kedua siklus ini menghasilkan kombinasi hari yang unik dan memiliki makna tersendiri.
Dalam kalender jawa, setiap hari dalam kalender Masehi memiliki dua nama hari, yaitu nama hari dalam seminggu (Senin-Minggu) dan nama hari pasaran. Kombinasi ini menciptakan sistem penamaan hari yang kompleks dan kaya akan makna simbolis.
Penggunaan Tahun Saka juga menjadi ciri khas penting kalender jawa. Meskipun sistem perhitungannya diubah oleh Sultan Agung pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka), angka tahun Saka tetap dipertahankan sebagai penanda kelanjutan sejarah dan tradisi.
Advertisement
Bulan dalam Kalender Jawa
Kalender jawa memiliki 12 bulan, yang sebagian besar namanya diambil dari kalender Hijriah (bahasa Arab). Beberapa nama bulan juga berasal dari bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa/Melayu. Nama-nama bulan tersebut adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar.
Lama setiap bulan dalam kalender jawa berselang-seling antara 29 dan 30 hari. Hal ini berbeda dengan kalender Masehi yang memiliki bulan dengan jumlah hari yang bervariasi.
Selain itu, kalender jawa juga mengenal istilah Windu dan Kurup. Windu adalah siklus 8 tahun, sedangkan Kurup adalah siklus 120 tahun (atau 15 windu) yang digunakan untuk penyesuaian siklus bulan. Setiap kurup, satu hari dihilangkan untuk penyesuaian.
Weton dan Neptu dalam Kalender Jawa
Weton adalah kombinasi hari dalam seminggu dan hari pasaran. Dalam tradisi Jawa, weton dipercaya memiliki makna khusus dan digunakan untuk menentukan hari baik untuk berbagai acara, seperti pernikahan, pindah rumah, dan lain-lain. Weton juga digunakan dalam primbon Jawa untuk meramal karakter seseorang.
Neptu adalah nilai numerik yang terkait dengan setiap hari dan pasaran. Neptu digunakan dalam perhitungan weton dan primbon untuk menentukan makna dan pengaruh dari kombinasi hari dan pasaran tertentu.
Secara keseluruhan, weton dan neptu merupakan bagian integral dari kalender jawa dan memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Keduanya digunakan untuk memahami waktu dan nasib, serta untuk mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai aspek kehidupan.
Advertisement
Penggunaan Kalender Jawa Saat Ini
Meskipun zaman terus berubah, kalender jawa tetap memiliki tempat istimewa di hati sebagian masyarakat Jawa. Kalender ini masih digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain menentukan hari baik untuk berbagai acara, meramal jodoh, rezeki, dan kesehatan melalui primbon Jawa, memahami karakter seseorang berdasarkan weton kelahirannya, serta menjaga dan melestarikan tradisi dan kepercayaan turun-temurun.
Kalender jawa bukan hanya sekadar sistem penanggalan, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya Jawa. Kalender ini mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa terhadap waktu, alam, dan kehidupan.
Sebagai warisan budaya yang kaya dan kompleks, kalender jawa patut dilestarikan dan dihargai. Dengan memahami sejarah, ciri khas, dan penggunaannya, kita dapat lebih mengapresiasi kekayaan budaya Indonesia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4044209/original/060370000_1654513925-Infografis_SQ_Kilas_Balik_Penyelamatan_dan_Pelestarian_Candi_Borobudur.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/146/original/027423100_1766886277-16128480287441.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3458183/original/032221600_1621307158-5006160.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8529068/original/035999300_1782460827-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519469/original/045941300_1782446317-Menhut_Konservasi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8490227/original/032200000_1782404178-Raja_Juli_Inggris.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8484279/original/013090500_1782396796-mail.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8477151/original/045829100_1782388030-LGE_04__Choi_Minho_bersama_Jaeseung_Kim_dan_Hyoeun_Kim_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8455681/original/009109900_1782353718-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459914/original/018350300_1782359142-BMKG_Gempa_Jepang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414226/original/064953200_1782298844-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_17.44.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617284/original/010929700_1635503741-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-1.jpg)