Bangkit dari Sakit dan Penolakan, Pengusaha Tangerang Ini Sukses Raup Omzet Ratusan Juta

Bangkit dari penyakit langka, bisa sembuh, hingga akhirnya sukses menjadi pemilik UMKM aksesoris rumah tangga dan souvenir pernikahan beromset ratusan juta rupiah perbulan, kisah Robby Tanuwiharja Putra (30) dan sang istri Claudia, bisa menjadi inspirasi bersama.

Diperbarui 24 Mei 2025, 06:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bangkit dari penyakit langka, bisa sembuh, hingga akhirnya sukses menjadi pemilik UMKM aksesoris rumah tangga dan souvenir pernikahan beromset ratusan juta rupiah per bulan, kisah Robby Tanuwiharja Putra (30) dan sang istri Claudia, bisa menjadi inspirasi bersama.

Bagaimana tidak, dari masa terpuruknya karena sakit harus terbaring di tempat tidur hingga 1 tahun, tapi tetap harus mencari nafkah, Robby mengandalkan jualan online di platform Shopee.

"Saya tadinya kerja di perusahaan swasta, yang mengharuskan mengendarai mobil jauh, Serang hingga Cirebon. Efek mengendarai mobil berjam-jam selama bertahun ini, membuat efek samping penyakit yang saya alami, hingga harus bedress di tempat tidur hingga 1 tahun,"katanya.

Saat itu, Robby yang terpaksa diputus kontrak akibat sakit berkelanjutan,tak ingin menyalahi perusahaan atas nasib yang dialaminya. Dia pun berusaha mencari peluang untuk berbisnis, menghasilkan uang untuk tetap bisa menafkahi keluarga, meski raganya sementara tak menunjang.

Robby mengincar penjualan dari platform online yang bisa dia lakukan, misalnya menjadi reseller penjualan tempat makan dari kardus dan kertas. Hingga akhirnya dia lihat di aplikasi Pinterst tentang apa yang tengah booming di luar negeri, yang kemudian bisa dia diciptakan dan dijual di dalam negeri.

Dapatlah kerajinan dari semen putih, seperti vas-vas mungil nan cantik, tatakan gelas dan tatakan meja, lilin aroma terapi, hingga tempat untuk cuci tangan.

"Awalnya jadi Istri sembari urus dan rawat saya, juga usul, gimana kalua kita buat sendiri. Secara margin bisa ditekan, sehingga harga untuk konsumen akan lebih murah dibanding kompetitor lain,"katanya.

 

Sempat Diusir Warga

Pada pada tahun 2022, Robby mulai sembuh dari penyakitnya, mulai merekrut karyawan untuk memulai produksi di rumah orang tuanya di bilangan Tangerang. 

Robby melakukan riset, bila semen putih milik dalam negeri yakni Tiga Roda, lebih baik dan bagus dibandingkan dengan merk Cina. Sehingga kualitas lebih baik, lebih mudah dibuat saat dicetak, hingga keuntungan lainnya.

"Saya pakai produk dari dalam negeri semua, produk dari Cina saya tolak, termasuk sifat semen putih yang terlalu encer, jadi beresiko gagal produksi,"katanya.

Saat dijajakan di Shopee, pembeli mulai berdatangan, hingga dia memberi nama barang jualannya 'ROCL.id'. Dimana nama tersebut adalah singkatan namanya dan sang istri, Robby dan Claudia. 

Namun sayang, sembuh dari sakit dan mencoba bangkit, bukanlah tanpa perjuangan lagi. Tempat produksinya di rumah orang tua dan di tengah pemukiman, tidak diterima oleh warga lainnya.

"Karena kotor, dianggap tidak layak rumah dijadikan tempat produksi, yasudah diusir. Terpaksa kami cari tempat baru,"katanya.

Tak lama, Robby mendapat ruko 3 lantai di bilangan Cimone, Kota Tangerang yang sudah 2 tahun belakangan dijadikannya tempat produksi.

Perlahan bangkit, Robby menargetkan setidaknya ada 5 desain baru setiap bulannya, hingga akhirnya dia bisa menciptakan lebih dari 100 model kekinian aksesoris percantik rumah.

Beromset Rp 500 Jutaan

Dari penjualan hanya 10 pics dalam sebulan, kini dia bisa menghasilkan omset hingga Rp 500 juta perbulannya, dan bisa mempekerjakan hingga 60 karyawan.

Robby pun menjual aksesoris rumah tangga dari semen tersebut terbilang murah, kisaran Rp 2.000 hingga Rp 14.000 saja perpicsnya. Dengan harga segitu murahnya, ROCL.id menjadi barang jualan termurah di Shopee.

"Dulu memang cuma 10 yang laku, sekarang sudah setahun belakangan ini karyawan saya harus membuat 5.000 pcs perhari. Itu menghabiskan sekitar 600Kg semen putih,"katanya.

Belum lagi pada saat menjelang lebaran atau hari raya lainnya, omset pun akan naik berkalinya. Semua pun dia kendalikan secara online, melalui platform dan sebagian secara offline.

"Kami juga melayani kebutuhan ekspor ke Jepang per tiga bulan sekali sebanyak seribu pcs. Beberapa ke Malaysia masih melalui Shopee, selebihnya kami penuhi permintaan dalam negeri," katanya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6