Ketegangan Soeharto dan Yusril Jelang Mundur: Drama di Balik Pidato Lengsernya Sang Presiden

Yusril, yang kala itu dikenal sebagai penulis tetap pidato-pidato Presiden Soeharto, mengungkap momen-momen genting jelang lengsernya pemimpin Orde Baru tersebut.

Diperbarui 21 Mei 2025, 10:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kejatuhan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 menyimpan cerita ketegangan di balik layar. Salah satu saksi mata yang berada tepat di pusat pusaran kekuasaan saat itu adalah Yusril Ihza Mahendra, mantan penulis pidato presiden yang dipercaya merumuskan pidato pengunduran diri Soeharto.

Yusril, yang kala itu dikenal sebagai penulis tetap pidato-pidato Presiden Soeharto, mengungkap momen-momen genting jelang lengsernya pemimpin Orde Baru tersebut. Ia bahkan menyebut pidato terakhir Soeharto sebagai pidato paling bersejarah yang pernah ditulisnya.

Pada malam 20 Mei 1998, Yusril menginap di rumah Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Suasana begitu tegang. Soeharto tampak gelisah, menyadari situasi politik semakin tak terkendali.

"Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti," kata Soeharto kepada Yusril, seperti ditirukan Yusril dalam wawancara.

Malam itu juga, Yusril dan sejumlah orang kepercayaan Soeharto mengadakan rapat untuk menyusun skenario pengunduran diri. Yusril-lah yang menulis langsung naskah pidato yang akan dibacakan Soeharto keesokan harinya.

Namun, persoalan muncul. Soeharto keberatan dengan istilah "mengundurkan diri" yang dipakai dalam naskah. Ia memilih kata "berhenti", karena menurutnya, jika ia menyatakan mundur ke MPR dan MPR menolaknya, bisa timbul polemik konstitusional.

"Kondisi selanjutnya tak terprediksi," ujar Yusril.

Perdebatan Kalimat 'Kabinet Dinyatakan Demisioner'

Ketegangan makin memuncak saat pagi menjelang 21 Mei 1998. Dalam perjalanan dari Cendana ke Istana Negara, Soeharto meminta Yusril untuk menambahkan satu kalimat penting dalam naskah pidato: "Kabinet dinyatakan demisioner."

Permintaan ini membuat Yusril ragu. Menurutnya, saat itu BJ Habibie sebagai Wakil Presiden memiliki wewenang untuk meneruskan pemerintahan tanpa harus membubarkan kabinet.

Namun Soeharto bersikeras. Ia ingin menegaskan bahwa kabinet di bawahnya sudah selesai masa tugasnya. Ketegangan sempat memuncak saat Yusril enggan menuliskan kalimat itu.

"Kalau tak mau tulis 'demisioner', sini saya sendiri yang tulis," ucap Soeharto seperti ditirukan Yusril.

Rebut Pulpen Yusril

Soeharto lalu merebut pulpen dari tangan Yusril dan menambahkan sendiri kalimat tersebut ke dalam naskah pidatonya.

Pidato itu akhirnya dibacakan di Istana Merdeka, menandai berakhirnya kekuasaan 32 tahun Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6