UGM Siap Hadapi Gugatan Komarudin Senilai Rp69 Triliun soal Ijazah Jokowi

Dalam dokumen gugatan, Komardin menuding UGM melakukan perbuatan melawan hukum karena dianggap membiarkan kegaduhan publik soal keaslian ijazah Presiden ke-7 RI tanpa klarifikasi secara terbuka.

Diperbarui 16 Mei 2025, 11:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku siap menghadapi gugatan perdata senilai Rp69 triliun yang dilayangkan ke Pengadilan Negeri Sleman. Gugatan ini terkait polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), yang dituding tidak ditanggapi secara terbuka oleh pihak kampus.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi UGM, Veri Antoni, menyebutkan bahwa pihaknya menghormati proses hukum yang diajukan oleh penggugat, seorang warga bernama Komardin.

“Mengajukan gugatan merupakan hak setiap warga negara dan UGM menghormati hak tersebut,” kata Veri seperti dikutip dari Antara. 

Dalam dokumen gugatan, Komardin menuding UGM melakukan perbuatan melawan hukum karena dianggap membiarkan kegaduhan publik soal keaslian ijazah Presiden ke-7 RI tanpa klarifikasi secara terbuka. Bahkan, ia mengaitkan isu ini dengan potensi gangguan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menanggapi hal itu, Veri menilai klaim kerugian sebesar Rp69 triliun harus dibuktikan secara hukum, termasuk juga kejelasan legal standing penggugat.

“Besaran nilai kerugian yang diklaim merupakan hak penggugat, tapi jadi kewajiban penggugat juga untuk membuktikannya, termasuk kedudukan hukumnya secara jelas,” tegas Veri.

Pelajari Gugatan

Pihak UGM saat ini tengah mempelajari isi gugatan sebelum memutuskan langkah hukum lanjutan. Veri memastikan kampus tersebut siap menghadapi perkara ini di pengadilan.

“UGM mempelajari dan mencermati gugatan penggugat secara saksama dan siap menghadapi gugatan tersebut,” ujarnya.

Saat disinggung soal kemungkinan menempuh gugatan balik (rekonvensi), Veri menyebut opsi itu terbuka, namun untuk sementara UGM memilih fokus pada inti perkara yang diajukan penggugat.

“Gugatan balik bisa saja dilakukan, tapi saat ini UGM masih fokus terhadap substansi gugatan yang telah diajukan,” pungkasnya.

 

UGM Tegaskan Ijazah dan Skripsi Jokowi Asli

Universitas Gajah Mada (UGM) membantah tudingan seorang mantan dosen Universitas Mataram, Rismon Hasiholan Sianipar, yang meragukan keaslian ijazah dan skripsi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat berkuliah di UGM.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menyesalkan beredarnya informasi menyesatkan tersebut. Ia menegaskan bahwa sebagai akademisi, Rismon seharusnya menyajikan informasi berdasarkan fakta dan metode penelitian yang valid.\

"Kita sangat menyesalkan informasi menyesatkan yang disampaikan oleh seorang dosen yang seharusnya bisa mencerahkan dan mendidik masyarakat dengan informasi yang bermanfaat," ujar Sigit yang dilansir dari situs UGM.

Rismon menyoroti penggunaan font Times New Roman pada lembar pengesahan dan sampul skripsi Jokowi, yang menurutnya belum ada pada era 1980-an hingga 1990-an.

Tudingan Ijazah Palsu Tak Berdasar

Sigit menjelaskan bahwa di era 1980-an, penggunaan font serupa Times New Roman untuk mencetak sampul dan lembar pengesahan skripsi sudah lazim. Mahasiswa kala itu sering mencetak dokumen mereka di percetakan sekitar kampus, seperti Prima dan Sanur.

"Fakta adanya mesin percetakan di Sanur dan Prima juga seharusnya diketahui oleh yang bersangkutan karena dia juga kuliah di UGM," tegasnya.

Lebih lanjut, Sigit juga menanggapi tuduhan terkait nomor seri ijazah Jokowi yang hanya berupa angka tanpa klaster. Menurutnya, Fakultas Kehutanan UGM pada masa itu memang memiliki kebijakan sendiri dalam sistem penomoran ijazah, yang berlaku bagi semua lulusan, termasuk Jokowi.

Sementara San Afri Awang, Ketua Senat Fakultas Kehutanan UGM, turut memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tuduhan yang dilontarkan terhadap keaslian ijazah dan skripsi Jokowi sangat tidak berdasar.

"Saya masih ingat waktu saya buat cover (skripsi), lari ke Prima. Di zaman itu sudah ada tempat cetak sampul yang terkenal, Prima dan Sanur," ungkap San Afri.

Sementara itu, Frono Jiwo, teman seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM, juga membantah tuduhan tersebut. Menurutnya, tampilan ijazahnya serupa dengan milik Jokowi, termasuk font dan tanda tangan pejabat universitas kala itu.

"Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6