Liputan6.com, Jakarta: Bermain mobil-mobilan yang dikendalikan lewat sinyal radio atau mobil radio kontrol (MRK) adalah permainan yang menarik. Apalagi mobil balap formula satu. Raungan suara knalpot dan lari MRK pun tak kalah menarik dengan balapan sesungguhnya. Tambah mengasyikkan lagi ketika MRK menikung tajam dengan mulus. Suasana di Jakarta International Twin Circuit (JITC) di Pintu V Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta Selatan, yang menjadikan penggemar RMK semakin kecanduan. Bagi mereka, mengeluarkan uang jutaan rupiah bukanlah kendala. Para penggemar otomotif mini ini rela merogoh kocek hingga Rp 10 juta untuk memiliki MRK berkecepatan tinggi.
Raungan mesin balap MRK melaju di sirkuit sepanjang 400 meter di JITC. Suasana kompetisi bak balap mobil formula satu menjadi pemandangan yang tidak kalah menantang. Pe-hobi MRK, setiap hari libur berkumpul di sirkuit yang kabarnya menelan biaya hingga Rp 1,5 miliar. Pit, sirkuit hingga paddock atau bengkel, dan istilah-istilah lain yang familiar di dunia balap F-1 juga diadaptasi dalam olah raga ini.
Sekilas MRK memang mirip mainan mobil remote control biasa. Namun jika diteliti lebih mendetail, mobil balap berukuran kecil ini tak ubahnya seperti mobil balap sebenarnya. Mulai dari mesin hingga sistem suspensinya dengan skala ukuran 1 banding 10. Tiap unsur atau komponen dibuat dengan teknologi tinggi agar sempurna presisinya. Mulai dari mesin, ban, sampai perlengkapan lain, dibuat dengan akurasi yang tinggi.
Mobil balap ini pun tak digerakkan dengan baterai melainkan bahan bakar metanol yang juga digunakan mobil F-1. Sedangkan bahan ban mobil terbuat dari karet dan busa (foam). Dengan perlengkapan semua itu, MRK mampu melaju dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam. Mesin MRK jenis ini berbeda dengan electric yang memakai dinamo dan batere untuk mengoperasikannya. Para pemain senang dengan ketenangan karena MRK tidak berisik dan tidak berknalpot.
Mobil radio kontrol sebetulnya sudah cukup lama hadir di Indonesia, sekitar 1980-an. Keberadaannya memang kurang gegap gempita sehingga yang mengetahui MRK masih sedikit. Faktor lain adalah harganya yang selangit. Jadi maklum jika penggemar MRK terbatas hanya kalangan tertentu yang berduit tebal. Bagi mereka, selain hobi, otomotif mini ini bisa untuk melepas stres. Seperti halnya Hadi Permana, manajer Pertamina.
Untuk merakit sebuah mobil beserta perangkat kontrol dan remote-nya dibutuhkan biaya Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Namun untuk membangun tim yang terdiri dari mekanik dan joki (orang yang mengemudikan radio kontrol) dibutuhkan dana puluhan juta lagi. Para mekanik ini berperan membantu sang racer saat mengendalikan mobil balap di sirkuit. Sementara untuk masuk menjadi anggota Asosiasi Radio Mobil Indonesia. Iuran tahunan anggota very important person atau pro mencapai Rp 3,5 juta dan untuk pemula Rp 1,5 juta per tahun. Penggemar pemula biasanya bermain untuk kesenangan dan bisa bertanding apabila sudah menguasai kontrol.
Namun tidak hanya uang yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan. Beberapa pakar MRK menyebutkan, harus ada keseimbangan antara kekuatan mesin, kemampuan pembalap, dan penanganannya. Pengetahuan otomotif pun wajib dimiliki bila ingin memodifikasi mobil agar melaju secepat Ferarri atau McLaren di F-1 [baca: Balapan Ala F-1 di Senayan].
Asal tahu saja, negara yang gila MRK adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Italia. Maklum penggemar MRK di sana berjibun dan taraf hidupnya sudah tinggi. Hampir tiap pekan diadakan lomba tingkat lokal atau provinsi atau antarnegara bagian, bahkan tingkat dunia. Tak heran jika ketiga negara itu memiliki pabrik-pabrik MRK yang terdepan dibanding negara Eropa atau Asia lainnya.(DEN/Fransambudi)
Raungan mesin balap MRK melaju di sirkuit sepanjang 400 meter di JITC. Suasana kompetisi bak balap mobil formula satu menjadi pemandangan yang tidak kalah menantang. Pe-hobi MRK, setiap hari libur berkumpul di sirkuit yang kabarnya menelan biaya hingga Rp 1,5 miliar. Pit, sirkuit hingga paddock atau bengkel, dan istilah-istilah lain yang familiar di dunia balap F-1 juga diadaptasi dalam olah raga ini.
Sekilas MRK memang mirip mainan mobil remote control biasa. Namun jika diteliti lebih mendetail, mobil balap berukuran kecil ini tak ubahnya seperti mobil balap sebenarnya. Mulai dari mesin hingga sistem suspensinya dengan skala ukuran 1 banding 10. Tiap unsur atau komponen dibuat dengan teknologi tinggi agar sempurna presisinya. Mulai dari mesin, ban, sampai perlengkapan lain, dibuat dengan akurasi yang tinggi.
Mobil balap ini pun tak digerakkan dengan baterai melainkan bahan bakar metanol yang juga digunakan mobil F-1. Sedangkan bahan ban mobil terbuat dari karet dan busa (foam). Dengan perlengkapan semua itu, MRK mampu melaju dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam. Mesin MRK jenis ini berbeda dengan electric yang memakai dinamo dan batere untuk mengoperasikannya. Para pemain senang dengan ketenangan karena MRK tidak berisik dan tidak berknalpot.
Mobil radio kontrol sebetulnya sudah cukup lama hadir di Indonesia, sekitar 1980-an. Keberadaannya memang kurang gegap gempita sehingga yang mengetahui MRK masih sedikit. Faktor lain adalah harganya yang selangit. Jadi maklum jika penggemar MRK terbatas hanya kalangan tertentu yang berduit tebal. Bagi mereka, selain hobi, otomotif mini ini bisa untuk melepas stres. Seperti halnya Hadi Permana, manajer Pertamina.
Untuk merakit sebuah mobil beserta perangkat kontrol dan remote-nya dibutuhkan biaya Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Namun untuk membangun tim yang terdiri dari mekanik dan joki (orang yang mengemudikan radio kontrol) dibutuhkan dana puluhan juta lagi. Para mekanik ini berperan membantu sang racer saat mengendalikan mobil balap di sirkuit. Sementara untuk masuk menjadi anggota Asosiasi Radio Mobil Indonesia. Iuran tahunan anggota very important person atau pro mencapai Rp 3,5 juta dan untuk pemula Rp 1,5 juta per tahun. Penggemar pemula biasanya bermain untuk kesenangan dan bisa bertanding apabila sudah menguasai kontrol.
Namun tidak hanya uang yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan. Beberapa pakar MRK menyebutkan, harus ada keseimbangan antara kekuatan mesin, kemampuan pembalap, dan penanganannya. Pengetahuan otomotif pun wajib dimiliki bila ingin memodifikasi mobil agar melaju secepat Ferarri atau McLaren di F-1 [baca: Balapan Ala F-1 di Senayan].
Asal tahu saja, negara yang gila MRK adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Italia. Maklum penggemar MRK di sana berjibun dan taraf hidupnya sudah tinggi. Hampir tiap pekan diadakan lomba tingkat lokal atau provinsi atau antarnegara bagian, bahkan tingkat dunia. Tak heran jika ketiga negara itu memiliki pabrik-pabrik MRK yang terdepan dibanding negara Eropa atau Asia lainnya.(DEN/Fransambudi)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253059/original/096793100_1749987049-WhatsApp_Image_2025-06-13_at_18.37.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371619/original/004076100_1791795972-FALSE__9_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348624/original/061599100_1789451727-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-15T125442.652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371648/original/023919200_1791798014-Cek_fakta_-_Lesti_kejora_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/393919/original/100603aMobilBalap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)