Bupati Ipuk Minta Maaf karena Masih Ada Lansia yang Hidup Terlantar

Mbah Waras, seorang kakek berusia 72 tahun itu hidup sebatang kara karena istri dan dua anaknya meninggal dunia.

Diperbarui 07 Juni 2022, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Banyuwangi Mbah Waras adalah salah satu warga lanjut usia (lansia) di Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi yang hidup sebatang kara. Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pun menyampaikan permintaan maaf karena masih terdapat warga lansia yang hidup telantar. 

"Saya sangat mohon maaf. Kejadian ini menjadi evaluasi, muhasabah, untuk perbaikan," kata Ipuk. 

Ipuk sangat menyesalkan apa yang dialami Mbah Waras. Kakek berusia 72 tahun itu hidup sebatang kara karena istri dan dua anaknya meninggal dunia. Mbah Waras juga menderita stroke yang membuatnya hanya terbaring.

Kini dibantu pihak kecamatan, Mbah Waras sudah dibawa ke panti untuk mendapat perawatan yang lebih baik mengingat hidupnya yang sebatang kara sehingga tidak memungkinkan ditinggal di rumah sendirian. 

 

Bupati Ipuk juga langsung menggelar rapat bersama camat, kepala Puskesmas, dan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Jumat (3/6). Ipuk juga mengajak semuanya instrospeksi.

"Kita lihat foto ini. Andai ini terjadi di keluarga bapak/ibu, apa yang bapak/ibu rasakan. Andaikan ini terjadi pada orang tua kita, apa rasanya. Tinggal di suatu daerah, bapaknya ditelantarkan, kita punya orang tua ditelantarkan oleh pemerintah, bagaimana rasanya,” kata Ipuk dalam video yang diunggah di akun Instagram-nya, @ipukfdani. Video tersebut juga diunggah di akun youtube Kabupaten Banyuwangi. 

Ipuk mengatakan bahwa pihaknya mendapat laporan bahwa Mbah Waras sudah mendapat bantuan sosial. Bahkan pihak puskesmas, katanya rajin turun periksa kesehatan Mbah Waras. 

"Tapi kok kondisinya masih seperti ini. Berarti bantuan, pemeriksaan, hanya sekadarnya saja. Hanya sekadar menjalankan tugas memberikan bantuan, setelah itu selesai," imbuh Ipuk.

Maka dari itu, Ipuk mengajak seluruh jajaran untuk peka dan responsif.

"Berbagai alasan yang saya dapat dari dinas, dari camat. Bahwa Dinas Sosial menyampaikan ini sudah dapat bantuannya, sudah dapat bantuannya. Oke bantuan sudah dapat, BPNT, bantuan pangan, PKH, bantuan uang, tapi bapak ini stroke, tidak bisa jalan, tidak bisa bangun. Mau belanja punya uang, siapa yang belanjain. Dapat bahan pangan, mau masak, siapa yang masakin," beber Ipuk kepada jajarannya.

"Jadi, mari bapak ibu semuanya bekerja bukan hanya sekedar kinerja saja. Bekerja bukan hanya karena bupati. Saya ini manusia biasa, bukan tuhan bukan malaikat, bukan nabi. Ayo bekerja untuk ibadah," papar Ipuk.

 

Penanganan warga miskin, menurut Ipuk, harus dilakukan secara simultan. Tidak sekadar kebutuhan makan yang dipenuhi, melainkan banyak hal lain yang juga perlu diperhatikan. Seperti, kelayakan tempat tinggal, kebersihan lingkungan, dan kesehatannya.

"Saya kembali tegaskan camat, kades/lurah, dan kepala puskesmas. Jika ada warga miskin, pastikan segera ditangani," tambahnya. 

Ipuk juga menegaskan, penanganan kemiskinan wajib dilakukan secara sinergis oleh lintas OPD. Terutama yang bersinggungan dengan masyarakat langsung seperti kecamatan dan Puskesmas. Baik Camat maupun Kepala Puskesmas wajib berkoordinasi dengan Kepala Desa atau Lurah untuk terjun langsung memantau warga miskin. 

"Penanganan kemiskinan adalah urusan wajib semua. Setelah didata, cek mana yang harus ditangani segera. Pokoknya, semua masalah kemiskinan harus tertangani dan harus ada solusinya. Kita semua harus peduli, kalau ada anak putus sekolah baik di tingkat desa, kecamatan langsung ditangani dan laporkan ke dinas terkait apabila tidak bisa mengatasi," ujar Ipuk.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6