Sukses

BMKG: Berada di Wilayah Ekuator, Tidak Memungkinkan Terjadi Gelombang Panas

Liputan6.com, Jakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah Indonesia tengah mengalami gelombang panas. Meski, suhu di Tanah Air tengah panas. 

BMKG menjelaskan gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara, Indonesia tidak terletak pada area itu.

"Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas," tulis BMKG dalam siaran tertulisnya.

Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa. Fenomena ini biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO. Juga disertai oleh kelembapan udara yang tinggi.

"Untuk dianggap sebagai gelombang panas, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat Celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum, dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut. Apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas," jelas BMKG.

 

2 dari 2 halaman

Tekanan Atmosfer Tinggi

Gelombang panas, jelas BMKG, umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Pada sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat.

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini, lanjut Urip menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.