Upaya Transjakarta Sediakan 300 Bus Listrik, Kurangi Emisi di Jakarta

Direktur Operasional dan Keamanan PT Transjakarta Daud Joseph mengatakan, pihaknya berupaya mencapai target menyediakan sebanyak 300 bus listrik.

Diperbarui 25 Agustus 2025, 23:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Transportasi berkelanjutan dan inklusif menjadi kebutuhan bersama, terlebih bagi kawasan perkotaan. Isu ini tak sebatas mewujudkan mobilitas yang rendah emisi tetapi juga menyediakan energi bersih.

Salah pelaku industri yang mendukung penyediaan energi bersih adalah Grup Barito Pacific. Sebagai bagian dari komitmen Grup Barito Pacific dalam mendukung transisi energi, anak usaha Barito Pacific, Chandra Asri Group, turut berperan dalam penyediaan energi bersih.

"Salah satu pilar usaha Chandra Asri adalah sektor energi terbarukan, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Chandra Asri memiliki fokus utama bisnis di sektor kimia, infrastruktur dan energi," ujar Manajer Ekonomi Sirkular dan Kemitraan Chandra Asri Group Nicko Setyabudi melalui keterangan tertulis, Sabtu (23/8/2025).

Dia menjelaskan, dalam konteks energi baru terbarukan (EBT), terdapat anak usaha Krakatau Chandra Energy di Cilegon, Banten.

"Di sana kami ingin menghadirkan listrik yg lebih hijau memakai solar panel," papar Nicko dalam talkshow Green Collabs yang diadakan Katadata Green di Jakarta.

Ia mengungkapkan, EBT seperti panel surya akan menjadi tren di masa depan untuk pengadaan listrik yang lebih hijau mengingat selama ini masih ada ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

"Listrik hijau ini akan jadi tren kedepan. Adapun, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi berbahan bakar fosil menjadikan sektor transportasi sebagai salah satu penyumbang utama polusi udara di kawasan perkotaan," papar Nicko.

Oleh karena itu, lanjut dia, topik energi bersih menjadi bagian dari pembahasan dalam sesi bertajuk Mewujudkan Kota Hijau Melalui Transportasi Berkelanjutan dan Inklusif.

Kemudian, Direktur Operasional dan Keamanan PT Transjakarta Daud Joseph yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan, Transjakarta berupaya mencapai target menyediakan sebanyak 300 bus listrik.

 

Layanan Angkutan Umum Tak Lagi Keluarkan Emosi

Menurut Daud, pihaknya ingin semua layanan angkutan umum yang disediakan tidak lagi mengeluarkan emisi. Oleh karena itu, pihaknya menargetkan semua bus yang beroperasi per 2030 adalah kendaraan listrik.

"Bus-bus kami semua akan beralih ke bus listrik. Sekarang, kami mengoperasikan 570 bus listrik dan akan bertambah terus 1.000 unit setiap tahun menjadi 10.000 unit pada 2030," terang dia.

Namun demikian, lanjut Daud, tantangan inklusivitas di dalam sistem transportasi di tanah air masih besar.

"Rilis Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) pada Maret 2024 menyebutkan, warga Jabodetabek menempuh jarak rata-rata 10,5 km setiap hari untuk beraktivitas di Jakarta," kata Daud.

"Pada saat yang sama, cakupan transportasi publik yang terintegrasi di Jabodetabek masih sangat timpang. Jakarta menjangkau 78 persen wilayahnya, sedangkan kota-kota satelit di Bodetabek baru menjangkau antara delapan hingga 29 persen," sambung dia.

 

Kemacetan Semakin Parah

Terbatasnya akses terhadap transportasi umum yang layak dan terjangkau memaksa banyak orang untuk terus bergantung pada kendaraan pribadi. Akibatnya, kemacetan semakin parah dan kesenjangan mobilitas kian melebar.

Menjawab tantangan itu, Southeast Asia Director ITDP Gonggomtua E. Sitanggang menilai, penggunaan energi bersih merupakan kunci menuju transportasi ramah lingkungan dan inklusif. Penerapannya, imbuh dia, melalui penggunaan kendaraan listrik.

"Kalau ingin kota kita lebih compact maka yang dibutuhkan adalah sisa kendaraan (selain kendaraan umum) yang ada adalah kendaraan listrik," ucap dia.

"Dampak dari sistem transportasi yang tidak berkelanjutan ini langsung terasa dalam kehidupan masyarakat perkotaan baik dari segi kesehatan, kualitas lingkungan, hingga produktivitas," tandas Gonggomtua.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6