Sukses

Varian Delta India Dominasi Lonjakan Covid-19 Indonesia, Pengendaliannya?

Liputan6.com, Jakarta Virus Corona varian Delta tengah menghantui masyarakat Indonesia karena varian virus Covid-19 asal India ini sudah ada di Kudus, Jawa Tengah.

Varian Delta dari virus Covid-19, pertama kali diidentifikasi di India. Hingga saat ini telah terdeteksi di 74 negara dan terus menyebar dengan cepat di tengah kekhawatiran bahwa virus tersebut akan menjadi dominan di seluruh dunia.

Wabah varian Delta telah dikonfirmasi di Cina, AS, Afrika, Skandinavia, dan negara-negara lingkar Pasifik, termasuk di Indonesia. Para ilmuwan melaporkan bahwa virus varian ini lebih menular serta menyebabkan penyakit yang lebih serius. Lantas, bagaimana Indonesia harus menghadapinya?

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane mengatakan, apa pun jenis variannya, cara pengendalian dalam pandemi Covid-19 tetap sama.

"Sebenarnya, apa pun jenis variannya (varian virus Corona), intervensinya tetap sama yakni tracing, testing, dan containment (isolasi/karantina) tetapi ketika ada Permenkes yang melepaskan mereka di hari kelima (karantina) itu kesalahan," kata Masdalina saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (15/6/2021).

Masdalina menjelaskan bahwa dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan Dan Pengendalian Covid-19 disebutkan bahwa karantina di komunitas hanya lima hari. Lalu, pemeriksaan orang yang kontak erat dilakukan di hari pertama.

"Itu salah, harusnya diperiksa di hari kelima atau keenam," katanya. "Ini sama sekali menyalahi dalam pengendalian."

Masdalina juga menyorot aturan Surat Edaran dari Satgas Covid-19 tentang protokol kesehatan perjalanan internasional di masa pandemi Covid-19 yang terbit Februari 2021. Di surat itu disebutkan bahwa karantina orang yang datang dari luar negeri dilakukan selama lima hari.

"Padahal WHO mengatakan 14 hari, bahkan beberapa negara mengkarantina 14 hari. Di beberapa negara malah tidak diperbolehkan masuk negaranya, seperti Amerika Serikat yang tidak mengizinkan warga Asia Selatan termasuk India masuk wilayahnya," kata Masdalina.

"Nah, kita malah membuka lebar pintu masuk hanya dengan karantina 5 hari," katanya tegas.

Dengan cara protokol pengendalian Covid-19 yang seperti ini Masdalina tidak heran bila melihat ada kenaikan kasus di DKI Jakarta seperti saat ini. Ia juga tidak heran varian baru Corona termasuk Delta yang menyebar di Jakarta.

Soal kenaikan di Kudus dan Bangkalan, disebutkan bahwa hal itu terjadi karena kedatangan pekerja migran Indonesia dari luar negeri lewat jalur laut.

"Nah, itu yang harus jadi perhatian. Apakah mereka melewati (proses) karantina atau tidak," Masdalina menandaskan.

Infografis Covid-19 Varian Delta India Hantui Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)

Sementara itu, epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Syahrizal Syarif mengatakan, ada enam hal yang harus diamati dalam varian Delta ini.

Pertama, apakah varian Delta lebih mudah menular? Jawabannya iya.

"Kedua, apakah varian ini lebih ganas? Jawabannya tidak! Ketiga, bagaimana gejala klinis varian itu? Sebenarnya tidak berbeda, cuma orang cenderung menambah-nambahkan gejalanya, padahal menurut saya gejalanya sama saja," ujar Syahrizal kepada Liputan6.com, Selasa (15/6/2021).

Keempat, lanjut dia, apakah bisa dideteksi dengan alat PCR yang sekarang? WHO yakin masih bisa.

Kelima, apakah bisa diobati dengan metode yang sekarang? Bisa. 

"Keenam, efektifkah vaksin yang sekarang untuk melindungi? Jawabnya masih. Jadi sebetulnya persoalan varian Delta ini tidak usah dilebihkan, namun harus diwaspadai karena memang lebih menular," jelas Syahrizal.

Kalau sekarang varian Delta dominan penyebarannya di beberapa kota di Indonesia, menurut dia itu hal yang wajar. Alasannya, karena pasien yang positif akibat varian yang lama sudah meninggal atau sudah sembuh, sehingga yang ada dan mewabah adalah varian-varian baru.

"Yang jelas, sekarang kita sudah tahu infonya bahwa varian baru ini lebih gampang menular. Artinya, prokes kita yang masih efektif harus diperketat, terutama soal kerumunan, pemerintah harus tegas dalam situasi apa pun lebih dari 5 orang dilarang berkumpul," papar Syahrizal.

Bahkan, lanjut dia, karena sekarang situasinya sedang genting, bisa saja memberlakukan larangan berkumpul lebih dari tiga orang.

"Jangan sampai ada pengemudi ojeg online berkumpul 5-10 orang atau restoran yang satu meja diduduki lima orang atau lebih, jadi pemerintah harus tegas," ujar Syahrizal.

 

2 dari 4 halaman

Pusat dan Daerah Siaga Delta

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa virus corona varian B1617.2 dari India atau varian Delta banyak ditemukan di Jakarta, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

"Beberapa daerah seperti Kudus, kemudian DKI Jakarta dan juga di Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B 1617.2 atau juga varian dari India ini yang mendominasi," katanya di Kantor Presiden Jakarta, Senin (14/6/2021).

Dengan perkembangan tersebut, Menkes berharap agar akselerasi vaksinasi dapat dipercepat sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo.

"Karena ini penularannya lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan. Akselerasi vaksinasi agar dipercepat, Presiden Jokowi meminta agar 700.000 vaksinasi per hari bulan ini bisa disentuh," katanya.

Selanjutnya target 1 juta vaksinasi per hari pada Juli 2021 juga diminta agar dapat dilaksanakan.

"Untuk itu beliau sudah menugaskan TNI dan Polri untuk mendampingi bersama-sama dengan vaksinasi program melalui pemerintah daerah untuk bisa melakukan vaksinasi sampai 400 ribu per hari sehingga 600 ribu per hari akan melalui jalur pemerintah daerah, sedangkan 400 ratus ribu per hari akan dilakukan melalui jalur TNI dan Polri," katanya.

Tak hanya pemerintah pusat, di daerah kesiagaan juga ditingkatkan. Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, misalnya, segera menelusuri kontak erat pasien corona yang ternyata strain virus baru COVID-19 dari India atau varin Delta, guna memastikan ada tidaknya penyebaran virus varian baru tersebut di masyarakat.

"Dari 34 sampel genome COVID-19, ternyata ada 28 sampel yang terpapar varian corona dari India alias varian Delta. Kami sedang melakukan penelusuran kontak erat dari 28 pasien tersebut," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Badai Ismoyo di Kudus, Selasa (15/6/2021).

Ia memperkirakan jika masing-masing satu pasien memiliki kontak erat 10 orang saja, maka yang akan ditelusuri bisa mencapai 280 orang. Dari 28 orang tersebut, kata dia, semuanya juga sudah sembuh dari serangan virus corona tersebut.

Pelacakan tersebut juga untuk mendeteksi apakah dari 28 orang yang terserang virus varian Delta tersebut, apakah pernah memiliki perjalanan luar kota ataupun kontak dengan orang luar negeri.

"Tunggu saja hasilnya nanti. Hal terpenting masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat," ujarnya seperti dikutip Antara.

Untuk mencegah kerumunan, Pemkab Kudus juga menutup semua objek wisata di Kabupaten Kudus dan membatasi kapasitas pengunjung di pusat perbelanjaan serta bisnis kuliner juga diminta hanya melayani pembelian dibungkus atau untuk dibawa pulang, bukan makan di tempat.

Sementara itu, Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) mengumumkan bahwa pihaknya menanangi 3 pasien dengan varian baru, yakni varian Delta.

Hal ini disampaikan langsung oleh Penanggung Jawab RSLI bersama tim penanganan Covid-19, Laksamana I Gede Nalendra, di RSLI merawat sebanyak 219 orang dari hasil penyekatan dari Suramadu, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

"Dari 219 itu kami temukan 3 hasil dari sample yang didapat oleh Institude Tropical Diseases (ITD) yakni berasal dari varian Delta B.1.617.2 atau varian dari India," ujar Laksamana Nalendra, Selasa (15/6/2021).

Ketiga temuan baru yang didapat dari hasil penyekatan di Bangkalan, ketiganya merupakan laki-laki. Masing-masing pasien tersebut memiliki gejala sebagai berikut: 1. gejala ringan, batuk berdahak dan tanpa komorbid, 2. gejala ringan demam dan dengan komorbid, 3. tanpa gejala dan tanpa komorbid.

Saat ini, sebanyak 219 pasien dari penyekatan Bangkalan Madura, 9 pasien telah dirujuk ke daerah asal masing-masing, salah satunya adalah pasien dengan varian baru yang tanpa gejala dan tanpa komorbid.

"Salah satu dari pasien dengan varian baru Delta memang ada satu yang atas permintaan keluarga untuk dirujuk ke daerah asal yakni Bojonegoro, tapi kami sudah meminta fasilitas kesehatan yang ada disana untuk lebih aware dan serius menangani pasien dengan varian baru India agar tidak terjadi outbreak di sana," terang Laksamana Nalendra.

Dengan demikian, saat ini terdapat 200 pasien hasil dari penyekatan Bangkalan, Madura, yang dua di antaranya merupakan pasien dengan varian baru. RSLI juga telah menerapkan treatment yang dan ruang isolasi yang berbeda dengan pasien Covid-19 umum.

 

3 dari 4 halaman

Dari India Menjadi Delta

Virus Corona varian Delta tengah menghantui masyarakat Indonesia karena varian virus COVID-19 asal India ini sudah ada di Kudus, Jawa Tengah, dan menular lebih cepat. Apa itu varian Delta?

Sebelumnya warga dunia mengenal varian Delta dengan sebutan virus Corona varian B.1617.2 atau varian India. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak akhir Mei 2021 mencoret pemakaian nama tersebut.

Di penghujung bulan ke-5 tahun 2021, WHO resmi memberikan penamaan dengan huruf alfabet Yunani untuk empat varian virus Corona penyebab COVID-19 yang dinilai paling mendapatkan perhatian dunia, yaitu:

1. Varian B.117 = varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris disebut sebagai Alpha.

2. Varian B.135 = Pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan, dan disebut sebagai Beta.

3. Varian P.1 = Asal Brasil yang kemudian disebut dengan Gamma.

4. Varian B.1617 = Varian dari India dibagi menjadi dua sub-turunan, B.1617.2 disebut varian Delta dan B.1617.1 disebut Kappa.

Pakar Bakteriologi yang terlibat dalam diskusi WHO, Mark Pallen, seperti dikutip dari situs berita The Guardian, mengatakan, semula para pakar akan menggunakan nama lain, misalnya menggunakan nama-nama dewa Yunani.

Namun, setelah beberapa bulan pertimbangan, akhirnya WHO menyetujui penggunaan nama Yunani seperti Alpha, Beta, Kappa, dan varian Delta karena nama-nama ilmiah sulit untuk diucapkan, diingat, serta rentan terhadap kesalahan pelaporan.

Terkait perubahan dalam penyebutan nama varian Virus Corona, Kepala Teknis COVID-19 untuk WHO, Van Kerkhove, mengatakan, WHO tidak akan menggantikan nama ilmiah yang menggunakan huruf dan titik.

Alpha, Beta, Kappa, Gamma, dan varian Delta hanya untuk membantu dalam diskusi publik.

Menurut Van Kerkhove, menyebut nama varian virus Corona menggunakan nama negara rentan terhadap kesalahan dalam pelaporan dan dikhawatirkan akan menimbulkan stigmatisasi dan diskriminatif.

"Untuk menghindari hal ini dan menyederhanakan komunikasi publik, WHO mendorong otoritas nasional, media, dan lainnya untuk mengadopsi label baru ini," katanya.

Terlebih setelah Pemerintah India meminta media sosial menghapus konten yang merujuk pada 'varian India'.

WHO pada Kamis, 3 Juni 2021, menyebut bahwa varian Delta telah teridentifikasi di 62 negara per 1 Juni 2021.

Warga dunia pun diminta untuk waspada dan tidak mengendurkan protokol kesehatan lantaran varian Delta adalah Virus Corona yang menjadi variant of concern (VOC) dari WHO atau berbahaya dengan tingkat penularan yang lebih cepat.

"Kami tahu bahwa varian Delta tidak mengalami peningkatan tranmisis, yang berarti dapat menyebar lebih mudah antar manusia," kata Van Kerkhove dikutip dari situs Business Today.

Selain itu, Profesor Kedokteran di Rutgers New Jersey Medical School dan Profesor Biostatistik dan Epidemiologi di Rutgers School of Publik Health, Stanley Weiss MD, mengatakan, varian virus Corona seperti varian Delta dapat dengan cepat mengambil alih dan menjadi strain utama yang beredar di satu wilayah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa varian Virus Corona India tersebut memiliki keunggulan dalam hal bertahan hidup.

"Di tempat-tempat seperti India, di mana kita telah melihat begitu banyak orang terinfeksi, terbukti bahwa varian Delta dapat menyebar dengan cepat," ujarnya dikutip dari situs Health.

Sedangkan Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH menyebut bahwa virus Corona varian Delta memiliki kemampuan menular yang sangat cepat.

"Barusan lihat di website Gisaid untuk update kasus mutasi ternyata dalam 4 minggu terakhir terjadi peningkatan 51,4 persen dari varian Delta India di Indonesia," kata Ari dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 14 Mei 2021.

Ari juga menyebut bahwa varian Delta dapat menimbulkan gejala yang lebih parah. Yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual.

Pasien yang tertular virus Corona varian Delta pun harus dirawat di rumah sakit dan memerlukan suplementasi oksigen.

Tidak hanya itu, varian Delta India juga bisa menimbulkan berbagai komplikasi.

"Kemampuan varian Delta ini menginfeksi lebih mudah dan cepat. Jika kita berada dalam satu ruangan dengan orang dengan varian Delta ini, dan orang tersebut bersin atau berbicara, virus akan lebih cepat berpindah," katanya.

Ari lalu mengingatkan agar tidak mengendurkan protokol kesehatan COVID-19.

"Semoga kita terhindar dari varian Delta yang berbahaya ini," ujarnya.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Public Health England (PHE) melaporkan bahwa varian Delta ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa.

"Waktu penggandaannya (doubling time) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari. Akan baik kalau juga ada data tentang berapa besar (doubling time) dari varian Delta yang kini ada di negara kita, termasuk tentunya laporan terakhir dari Kudus ini," kata Prof Tjandra dalam tulisannya bertajuk "Varian Delta di Kudus dan di Inggris".

Laporan 11 Juni 2021 dari Inggris ini juga menunjukkan bahwa varian Delta berpengaruh menurunkan efektivitas vaksin COVID-19 dibandingkan varian Alfa. Pada mereka yang baru dapat vaksin satu kali, terjadi penurunan efektivitas perlindungan terhadap gejala sebesar 15 persen sampai 20 persen.

"Tentu saja efektifitas akan lebih membaik kalau vaksinasi sudah dilakukan dua kali, tetapi dilaporkan juga bahwa walaupun sudah dua kali maka tetap ada penurunan efektifitas akibat varian Delta dibandingkan dengan varian Alfa," jelasnya.

"Indonesia perlu pula mengamati kemungkinan dampak seperti ini, apalagi program vaksinasi COVID-19 memang sedang terus digalakkan. Hanya saja tentu kita tidak akan membandingkan varian Delta dengan varian Alfa seperti yang Inggris lakukan, karena varian Alfa bukanlan varian yang dominan di Indonesia sebelum ini," ujarnya.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: