Sukses

Masjid Jami Kali Pasir Berusia 445 Tahun, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Tangerang

Liputan6.com, Tangerang Aktivitas menunggu berbuka puasa atau ngabuburit tidak hanya diisi dengan berburu kuliner, melainkan juga berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Terlebih lagi bila itu tempat bersejarah yang bernafaskan islam, tentu bisa menambah wawasan keislaman Anda.

Bila berada di Kota Tangerang, Anda bisa mengunjungi Masjid Jami Kali Pasir yang berada di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang. Masjid ini bisa dibilang saksi bisu penyebaran Islam pertama kali di wilayah Tangerang.

Tidak ada yang tahu pasti, kapan masjid tua ini berdiri. Sebab dulunya, masjid tersebut hanyalah gubuk atau surau sederhana saja, tempat orang bersinggah, sholat, kemudian akhirnya menetap. Oleh ulama asli Tangerang diputuskan masjid berdiri pada tahun 1576.

"KH Tobari Ashajili, ulama asli Kota Tangerang yang juga punya pesantren di Periuk yang akhirnya memutuskan kapan masjid ini berdiri, yakni tahun 1576. Alhamdulillah, sampai sekarang orangnya masih ada," tutur pengurus DKM Masjid Jami Kali Pasir, Ahmad Sjahrodji (71), baru-baru ini.

Kisah Awal Masjid Berdiri

Ahmad Sjairodji pun menceritakan, masjid tersebut berawal dari kedatangan Ki Tengger Jati dari kerajaan Galuh Kawali pada tahun 1412. Konon, setelah mendapatkan ilmu agama dari sang guru yang bernama Syekh Syubakhir, Ki Tengger Jati diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah nusantara.

Setiba di Tangerang yang dahulu masih belantara, Ki Tengger membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggal dan beribadah. Keberadaan Masjid Jami Kali semakin tersohor ketika kedatangan ulama besar atau syekh asal Persia yaitu Said Hasan Ali Al Husaini. Padahal saat itu sang ulama besar tidak sengaja mampir, hanya singgah sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Banten.

 

2 dari 3 halaman

Tiang Masjid dari Sunan Kalijaga

Bagian lain dari sejarah adalah, empat tiang yang ada di dalam bangunan masjid. Ahmad Sjairodji mengungkapkan, bila salah satu tiangnya merupakan pemberian Sunan Kalijaga.

"Ini, empat tiang ini. Dulu pada 2018 para ulama berkumpul di sini untuk mencari tahu mana yang pemberian Sunan Kalijaga," tuturnya.

Satu persatu pilar tersebut diketuk, hingga mengeluarkan suara. Ada satu pilar yang memiliki suara berbeda dan diyakini sebagai pemberian Sunan Kalijaga. 

"Itu, yang berada di kiri belakang pemberian Sunan Kalijaga,"katanya.

Relief Khusus dari Sultan Ageng Tirtayasa

Lalu, Sultan Ageng Tirtayasa pun membuat relief khusus yang berada di atas genteng Masjid Jami Kali Pasir. Di sisi barat bangunan masjid, terdapat makam istri sang sultan yang bernama Ratu Negara.

Makam-makam yang berada di sisi barat masjid terdiri dari 'tiga maqam', yakni pendiri Masjid Kalipasir, ulama dan umaro atau pemimpin pemerintahan, serta masyarakat umum.

"Para pendiri masjid (yang dimakamkan di Masjid Kalipasir) di antaranya Tumenggung Aria Ramdon, meninggal tahun 1780. Lalu Aria Tumenggung Suta Dilaga, putra Tumenggung Aria Ramdon, dimakamkan di sini juga tahun 1823," ujar Ahmad Sjahrodji.

 

3 dari 3 halaman

Pemkot Tangerang Terus Lakukan Pemeliharaan

Untuk memelihara agar peninggalan sejarah tetap kokoh, Pemkot Tangerang pun selalu melakukan pemeliharaan secara berkala. Bagi Pemkot Tangerang, Masjid Jami Kali Pasir adalah roh Kota Tangerang. Pada momen-momen tertentu seperti HUT Kota Tangerang, Pemkot Tangerang rutin menggelar ziarah ke makam di sekitaran Masjid Jami Kali Pasir.

"Iya, masjid tua bersejarah di Kota Tangerang salah satunya Masjid Jami Kali Pasir. Kami pun melalui Dinas Pariwisata terus melakukan pemugaran dan pemeliharaan ," kata Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah.

Menurutnya, pemugaran dan pemeliharaan bukanlah sembarangan dilakukan, melainkan melibatkan para ahli cagar budaya. Agar nilai sejarah dan peninggalan yang banyak di area masjid tersebut tidak berubah.

Arief pun mengaku pernah beberapa kali mengunjungi dan juga berziarah ke Masjid Jami Kali Pasir. Seperti diketahui, wilayah Tangerang terkenal dengan akulturasi budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa. Tak heran, banyak bangunan, termasuk tempat ibadah di sini memiliki sentuhan budaya ketiganya. 

"Jadi, dalam satu kawasan masjid tersebut ada sejarah budaya juga. Ada unsur perpaduan Cina, Arab dan Eropanya, sungguh layak untuk dikunjungi," katanya.