Sukses

HEADLINE: Kasus Harian Covid-19 Indonesia Tembus 14 Ribu, Layanan Kesehatan Terancam Kolaps?

Liputan6.com, Jakarta - Grafik kasus positif covid-19 terus menunjukkan kenaikan. Dalam sepekan terakhir, jumlah orang yang terpapar covid-19 berada di atas angka 10 ribu kasus per harinya. Tercatat sejak Rabu 13 Januari 2021, jumlah pasien mencapai 11.278 kasus. Jumlah itu kian meningkat hingga pada Sabtu 16 Januari 2021, menembus rekor terbaru 14.224 kasus.

Jumlah kasus covid-19 yang melonjak ini, menurut Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Periode 2021 - 2024 dr Muhammad Adib Khumaidi, tidak terlalu menjadi persoalan serius jika hanya terjadi pada positivity rate-nya saja. Namun fluktuasi angka kasus harian ini, nyatanya juga berkorelasi dengan occupancy rate.

"Tingkatan kasus dirawat, mulai dari ringan, sedang, hingga ICU. Kalau kita lihat sekarang, kondisinya menghawatirkan. Itu adalah karena occupancy rate yang juga tinggi, ICU penuh, ruang isolasi udah di atas 90 persen. Itu cukup menghawatirkan. Itu menjadi perhatian," kata dr Adib saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Senin (18/1/2021).

Dia menambahkan, bila positivitye rate tinggi tanpa diikuti occupancy rate, seperti orang tanpa gelaja (OTG), dapat diatasi dengan melakukan tracing. OTG itu pun dapat melakukan isolasi mandiri tanpa dilakukan perawatan.

"Kalo hanya positivity rate angka kasus, katakanlah dia OTG (Orang Tanpa Gejala) itu enggak ada masalah, kita bisa tracing dan isolasi mandiri, tapi kalau diikuti dengan angka rawat yang meningkat dan kesulitan mencari rujukan, ini menjadi problem yang harus diwaspadai. Karena akan meningkatkan angka mortalitas juga," terang dia.

Kondisi ini yang menurutnya, dapat mengancam pelayanan kesehatan menjadi kolaps. Ditambah kondisi tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan melawan covid-19, jumlahnya kian hari menyusut setelah banyak yang gugur terpapar ganasnya virus tersebut.

"Peningkatan occupancy rate, kesulitan untuk kemudian mencari rujukan dan resiko paparan tinggi, bukan tidak mungkin (kolapsnya) kemampuan layanan kesehatan, bagaimana kemudian juga termasuk SDM-nya. Saya selalu sampaikan, mapping itu penting, bukan hanya di awal saja, tapi saat ini juga, karena sebenarnya rumah sakit atau berapa faskes (mana saja) yang masih mampu untuk melakukan pelayanan untuk saat ini," ujar dia.

Terkait dengan penambahan ruang isolasi maupun tempat tidur di rumah sakit, IDI menilai langkah itu tak salah dilakukan. Namun juga harus diikuti dengan kapasitas ruang perawatan yang memang digunakan untuk pasien covid-19. dr Adib menekankan, yang terpenting bukan penambahan tempat tidur tapi klastering rumah sakit yang diperuntukan khusus merawat pasien covid-19.

"Dan itu tidak mudah, kita tidak bisa seperti dulu kasus DBD, nambah ruang bisa di selasar, tapi kalau covid-19 kan enggak mungkin dirawat di selasar, harus di ruang bertekanan negatif, harus ada zonasi untuk wilayah covid-19 di rumah-rumah sakit, kemudian juga diikuti kemampuan alatnya, berapa jumlah oksigen dan berapa ICU-nya," ujar dia.

"Ini bisa menjadi pemikiran juga selain menambah faskes," imbuh dr Adib.

Sementara itu, Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamani menilai ada beberapa faktor yang jadi pendulang angka harian kasus covid-19 meningkat tajam. Yaitu adanya beberapa momen yang mengundang mobilitas massa pada akhir 2020 lalu.

"Banyak peristiwa besar. Ini sudah kelihatan," ucap dia kepada Liputan6.com, Senin (18/1/2021).

Laura mengungkapkan, ada banyak peristiwa besar di akhir 2020 seperti pilkada. Kemudian pada akhir-akhir Desember masyarakat juga dinilainya sudah mulai abai terhadap prokes.

"Ini yang kemudian menyebabkan terjadi peningkatan kasus. Tapi sebetulnya ini sudah masuk prediksi kita bahwa Januari pasti akan ada peningkatan. Tapi peningkatan sampai seberapa jauh, kita enggak tahu sebetulnya," ujar dia.

Laura menilai, dengan kondisi seperti ini, peningkatan kasus covid-19 merembet kepada fasilitas kesehatan yang semakin terbatas. Pelayanan kesehatan diserbu para pasien covid-19 hingga terisi penuh. Imbasnya, bila tidak diatasi secara cepat dan tepat, akan berakibat pada tingginya angka kematian.

"Overcapacity, banyak kematian juga. Ini yang kemudian kita kalau bisa bagaimana kasus harian ditekan supaya dampak-dampak lanjutan tidak terjadi. Yang dikhawatirkan tingkat kematian yang juga akan meningkat. Atau fasilitas kesehatan meningkat banyak para nakes yang kemudian menjadi terpapar dan bahkan meninggal," kata dia.

Laura pun menilai penambahan rumah sakit maupun tempat tidur tidak memberikan dampak signifikan terhadap penanganan pasien covid-19. Hal ini lantaran jumlah tenaga kesehatan yang kalah jumlah dengan pasien covid-19 yang terus berdatangan setiap saat.

"Sehingga adanya overcapacity, overload dari fasilitas kesehatan, ya ini akan berdampak lagi pada keterlambatan penanganan kasus-kasus baru. Terutama yang terpapar dalam kondisi fatal, kritis, yang membutuhkan fasilitas kesehatan, alat bantu ventilator, ruang ICU. Karena sudah penuh mau masuk gimana. Sehingga ketika tidak tertangani dengan cepat atau bahkan terlambat, bisa menyebabkan kefatalan kondisi orang-orang itu sehingga kematian juga akan lebih tinggi," ujar dia.

Kalau sudah demikian, lanjut dia, pelayanan kesehatan bukan tidak mungkin akan ambruk tak kuat menahan laju covid-19 yang sudah semakin menggila. "Pelayanan kesehatan, iya pasti (kolaps), pasti itu ada. Ini kan isunya sudah banyak orang ditolak ke sana-sini," ujar Laura.

2 dari 5 halaman

Wisma Atlet Rawat Pasien Gejala Berat

Tingkat hunian RS Darurat covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta saat ini mencapai 82,73 persen, yang mana pasien covid-19 gejala berat ikut dirawat. Seiring perkembangan kondisi covid-19 di Tanah Air, RSD Wisma Atlet tidak hanya merawat pasien covid-19 gejala ringan dan tanpa gejala, melainkan juga merawat pasien gejala berat.

Koordinator RS Darurat covid-19 Wisma Atlet Tugas Ratmono merinci jumlah tempat tidur (bed) di RSD Wisma Atlet.

"Saat ini, hunian di RSD Wisma Atlet mencapai 82,73 persen. Pasien kami saat ini ada 4.959 orang. Dari bed yang kami siapkan sebanyak 5.994 bed, tinggal 1.035 bed yang ada," kata Tugas di Media Center Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/1/2021).

"Dan kapasitas bed digunakan untuk pasien bergejala ringan juga sedang. Bahkan ada bergejala berat, yang tentunya ini kami persiapkan untuk dirujuk ke RS Rujukan Covid-19 di DKI Jakarta."

Namun, saat ini, diakui Tugas, tidak mudah merujuk pasien covid-19 bergejala berat yang dirawat di RSD Wisma Atlet untuk dirujuk.

"Karena sekarang ya mulai banyak yang bergejala berat. Jadi, kami merawatnya di sana (RSD Wisma Atlet). Dan kami sudah siapkan untuk fasilitasnya. Ada ICU transisi 20 bed, HCU 27 bed, Intermediate Care Unit 94 bed dan untuk IGD sendiri," paparnya.

Keputusan RSD Wisma Atlet merawat pasien covid-19 bergejala berat juga melihat lonjakan pasien yang masuk sebesar 20 persen. Angka tersebut cukup tinggi, terlebih lagi pascalibur panjang Natal 2020 dan Tahun Baru 2021.

"Sejak sebelum libur panjang akhir tahun, kami memang sudah antisipasi. Karena di RSD Wisma Atlet sudah diingatkan, kira-kira 2 minggu setelah liburan akan terjadi lonjakan dan ternyata memang betul," terang Tugas.

"Jadi, ini (tepat) dua minggu terjadi suatu peningkatan kasusnya. Sebelumnya, kira-kira tingkat hunian 60 persen, lalu turun 50 persen, kembali lagi 60 persen. Saat ini sudah 80 persen, kira-kira 20 persen melonjaknya."

Menilik lonjakan pasien covid-19, RSD Wisma Atlet memutuskan merawat pasien covid-19 gejala berat. Untuk pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) dan gejala ringan diarahkan isolasi mandiri di Wisma Pademangan.

"Kami sudah antisipasi fasilitas juga perubahan jenis atau tipe penyakit yang kami rawat. Tadinya kami merawat pasien gejala ringan dan OTG, sekarang banyak yang ke arah bergejala (berat)," kata Tugas.

"Sehingga kami putuskan juga fasilitas untuk merawat yang bergejala di RSD Wisma Atlet. Kami full-kan, sehingga fasilitas pasien tanpa gejala, kami arahkan di Tower 8 dan 9 dan sedang disiapkan di Wisma Pademangan. Saya pikir, strategi ini betul-betul membuat suatu penanganan (pasien) secara sistematis, khususnya di Wisma Atlet," pungkas dia.

3 dari 5 halaman

DKI-Jabar Saling Mengejar

Muhammad tak tahu harus kemana lagi membawa ibu dan bapak mertuanya, Sabtu 9 Januari 2021 lalu. Hari itu, sudah lima rumah sakit di DKI Jakarta Ia sambangi agar orangtuanya mendapatkan perawatan. 

Ibu dan bapak mertuanya tengah sakit parah. Sang Ibu sangat ditekankan untuk dirawat lantaran kadar oksigen dalam darah berada di bawah normal. Selain itu, kondisinya pun terlihat payah. Berjalan Ia sudah tidak sanggup sehingga harus menggunakan kursi roda. Sementara ayah mertuanya mengalami sesak napas serta nyeri di sejumlah bagian tubuh.

Satu per satu pintu UGD rumah sakit Ia ketuk. Namun kelimanya menutup pintu terhadap pasien baru yang datang. Perawat maupun sekuriti rumah sakit berdalih bahwa tiingkat keterisian tempat tidur sudah tidak ada lagi yang kosong. Mereka menyebut ruang perawatan telah penuh terisi pasien covid-19. Alhasil, Ia pun membawa kedua mertuanya kembali pulang ke rumah setelah memeriksakannya di sebuah klinik.

Dua hari berikutnya, Senin 12 Januari 2021, Muhammad kembali membawa ibu mertuanya ke rumah sakit di daerah Bekasi. Namun jawaban yang sama ia dapatkan. Bahkan untuk meyakinkan, perawat mempersilakannya untuk langsung masuk dan melihat ruang IGD.

"Kalau nggak percaya, bisa lihat langsung ke ruang IGD-nya," kata sang perawat tersebut.

Tak mendapatkan ruang perawatan, Ia langsung membawa ibu mertua ke rumah sakit di bilangan Jakarta Timur. Namun sesaat tiba di rumah sakit tersebut, sang Ibu tak dapat bertahan lagi dan kemudian meninggal dunia. Dia mengembuskan napas terakhirnya setelah ditolak oleh tujuh rumah sakit di DKI Jakarta dengan alasan sudah penuh.

Dalam beberapa hari terakhir, tren kasus covid-19 nasional menang meningkat tajam. Bahkan angka penambahan pasien positif terus bertengger di atas 11 ribu kasus. DKI Jakarta dan Jabar menjadi provinsi yang kejar-kejaran menyumbangkan angka positif covid-19 dalam tiga hari belakangan ini.

Dikutip dari data covid-19, pada 15 Januari, angka positif di DKI Jakarta mencapai 2.541 kasus, sedangkan Jawa Barat 3. 095 orang positif covid-19. Kemudan pada Sabtu 16 Januari 2021, DKI menyalip Jabar dengan angka 3.536 kasus. Jabar mencatat jumlah 3.460. Dan pada Minggu 17 Januari 2021, DKI masih memegang juara dengan angka 3.395 kasus. Sedangkan Jabar menurun menjadi 1.491 kasus.

Sementara data pada Senin 18 Januari, posisi DKI belum tergoyahkan. Provinsi ini menyumbangkan 227.365 kasus. Sedangkan Jawa Barat mencatat 112.587 kasus.

Meningkatnya kasus covid-19 tentu berimbas kepada pelayanan rumah sakit di Jakarta. Dari total seluruh rumah sakit di DKI, sebanyak 34 persen sudah dialokasikan untuk pasien covid-19.

"Kita tahu bahwa 13 RSUD kita sudah penuh untuk covid-19. Artinya jumlah tempat tidurnya sudah didedikasikan untuk COVID semua," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti di Balai Kota Jakarta, Jumat 16 Januari 2021 lalu.

Widyastuti menyatakan pihaknya terus mengupayakan penangan pandemi virus Corona di DKI Jakarta secara menyeluruh, salah satunya, menambah kapasitas ruangan isolasi mandiri bagi warga yang terpapar covid-19.

"Ada koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah melalui penyiapan hotel untuk tempat tempat isolasi terkendali yang kita koordinasi pemerintah. Juga ada beberapa hotel yang sudah secara mandiri. Kita tahu warga DKI sangat heterogen mulai dari kelas elite sampai yang perlu kita bantu, kita siapkan pilihannya, silakan warga memilih," tuturnya yang dikutip dari Antara.

Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga kini tengah mempersiapkan penambahan rumah sakit rujukan covid-19 hasil kolaborasi BUMN dan swasta yang nantinya manajemen maupun operasional rumah sakit akan diatur oleh ketiga unsur.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan, ada empat hal yang menyebabkan kasus covid-19 di DKI masih tinggi di tengah adanya pengetatan kegiatan. Pemprov DKI telah menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak tanggal 11 hingga 25 Januari 2021.

"Sekalipun angkanya masih cukup tinggi, itu karena disebabkan beberapa hal. Angka di Jakarta tinggi karena Jakarta sebagai ibu kota, tempat transit masuknya masyarakat dari dalam dan luar negeri, daerah dan sebagainya," kata Ariza Patria di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Senin (18/1/2021).

Riza menjelaskan banyaknya pendatang yang keluar-masuk Ibu Kota menjadi penyebab kasus covid-19 masih dilaporkan tinggi. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan kapasitas testing covid-19 hingga 10 kali lipat.

"Kemudian di Jakarta masih tinggi karena kami lakukan tes 10 kali lipat dari standar WHO. Ketiga disebabkan masih adanya rapelan dari sebelumnya," jelasnya.

Penyebab lainnya adalah akumulasi dari data pasien covid-19 di waktu sebelumnya serta adanya libur panjang Natal dan tahun baru yang turut berdampak pada kenaikan kasus covid-19.

"Mudah-mudahan, di minggu-minggu ke depan setelah tanggal 25 kita lihat ada perkembangan," harapnya.

 

4 dari 5 halaman

Jabar Gandeng TNI AD

Sementara itu, peningkatan kasus covid-19 di Jawa Barat juga diakui Gubernur Ridwan Kamil. Untuk mengantisipasi lonjakan pasien covid-19, Ia menggandeng TNI AD yang menyediakan Rumah Sakit Darurat Covid-19 Secapa AD di Hegarmanah, Kota Bandung, Jawa Barat.

"BOR (Bed Occupancy Rate) di Jabar memang sedang meningkat walau minggu ini turun sedikit. Oleh karena itu, kesiapan ini kami cek karena standar penanganan Covid-19 adalah hal yang sangat khusus," kata Emil, sapaan akrabnya, saat meninjau Rumah Sakit Darurat Covid-19 Secapa AD di Kota Bandung, Selasa 12 Januari 2021 lalu.

RS Darurat Covid-19 Secapa AD sendiri berada di kompleks Barak Brigjen Katamso. Terdiri dari empat barak, tiga di antaranya dikonversi menjadi ruang perawatan bagi pasien gejala ringan dengan kapasitas masing-masing 30 tempat tidur sehingga total kapasitas di RS Darurat Covid-19 Secapa AD adalah 180 pasien.

Satu barak lainnya digunakan sebagai UGD, tempat dokter, dan administrasi lain. Tim dokter spesialis di RS Darurat Covid-19 Secapa AD berasal dari Rumah Sakit Dustira Cimahi sebagai rumah sakit pengampu serta bekerja sama dengan Kesdam III/Siliwangi, Secapa AD, dan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar.

Totalnya, terdapat sekitar 32 orang tenaga kesehatan yang bertugas di RS Darurat Covid-19 Secapa AD. Dalam kunjungan ini, Emil pun meninjau ruang perawatan, IGD, hingga toilet.

"Setelah melihat langsung, tempatnya sangat memadai penuh cahaya matahari dan pepohonan sehingga seharusnya orang yang kesini sembuh lebih cepat karena suasana rileks," ujarnya.

Mekanisme penyelenggaraan RS Darurat di Secapa AD sendiri merujuk RS darurat lain di Wisma Atlet Jakarta dan di Surabaya. RS Darurat ini dikhususkan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala ringan (hijau) serta yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

Pasien yang diterima merupakan rujukan dari rumah sakit atau puskesmas dengan hasil swab test positif metode PCR. Di RS Darurat Covid-19 Secapa AD, juga tersedia ambulans yang siaga 24 jam.

"Komite Penanganan Covid-19 sedang menyiapkan prosedur, karena rumah sakit darurat ini bukan hanya untuk wilayah Bandung tapi minimal Priangan, Tasikmalaya, Garut, dan sebagainya. Silakan datang ke sini dengan fasilitasi transportasi dari kami secara gratis," katanya.

Nantinya, pasien beraktivitas sesuai jadwal, termasuk melakukan olahraga dan hiburan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pasien juga akan rutin dipantau baik tanda vital fisik maupun saturasi oksigen.

"Titip ke pengelola, bikin acara kreatif yang bikin tertawa, bahagia. Kegiatan outdoor olahraga dengan jaga jarak sehingga naik imunitas. Kemudian tadi saya titip internet segera dipasang agar pasien tidak bosan. Sambil terus dinasihati hal-hal yang positif. (Kebutuhan) lain-lain sudah diatur sesuai peraturan," pesan Emil.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: