Sukses

4 Alasan Masker Scuba Tak Efektif untuk Tangkal Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pandemi saat ini, penggunaan masker saat melakukan aktivitas di luar rumah menjadi hal penting untuk mencegah terjadinya penularan virus yang disebabkan Covid-19.

Selain masker kain, tak sedikit masyarakat yang memilih untuk menggunakan masker scuba. Lalu, apakah scuba termasuk masker? Ternyata bukan. 

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, menjelaskan dua alasan mengapa masker scuba tak bisa mencegah Covid-19.

Pertama, karena berbahan elastis dan berpori besar. Selain itu, masker jenis ini juga dinilai tidak bisa memberikan ruang bagi bibir pada seseorang ketika sedang berbicara.

Selain masker scuba, pria yang akrab disapa Yuri juga mengungkapkan bahwa buff juga tidak bisa melindungi diri dari Covid-19.

"Buff itu bukan masker, itu jaring yang porinya jauh lebih besar," kata Yurianto dalam diskusi virtual, Kamis, 18 September 2020. 

Berikut deretan alasan kenapa masker scuba tidak dianjurkan dipakai selama pandemi Covid-19:

2 dari 6 halaman

Berbahan Tipis

Hal senada juga diungkapkan dr Muhamad Fajri Adda'i, seorang praktisi sekaligus relawan Covid-19.

"Masker scuba itu tipis satu lapis, tidak efektif, karena bahannya neoprene, cenderung elastis. Jika ditarik pori akan membesar. Padahal, kita butuh kemampuan filtrasinya," kata dia kepada Antara, Jumat (18/9/2020).

Hal ini seiring dengan pernyataan Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito yang mengungkapkan, masker dengan satu lapisan dan terlalu tipis memungkinkan virus penyebab Covid-19 bisa menembus.

3 dari 6 halaman

Tidak Memiliki Kemampuan Menyaring Partikel yang Lebih Kecil

Merujuk pada penelitian ilmiah dalam jurnal ACS Nano belum lama ini, Fajri mengungkapkan, kemampuan electrostatic atau menyaring partikel-partikel yang lebih kecil menjadi poin penting.

Bahan sutra atau silk empat lapis bisa menyaring banyak partikel, diikuti chiffon yang merupakan gabungan 90 persen poliester dan 10 persen spandeks. Lalu, flanel yang terdiri dari 65 persen katun dan 35 persen poliester.

Terkait ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Satgas COVID-19 merekomendasikan kain tiga lapis yakni lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah untuk menyaring, dan lapisan luar yang terbuat dari bahan seperti poliester.

 

4 dari 6 halaman

Tak Ada Ruang untuk Bibir

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, mengatakan masker scuba tidak memberikan ruang bagi bibir ketika seseorang berbicara.

"Tidak nyaman digunakan karena tidak memberikan ruang yang membuat bibir kita bebas bergerak saat bicara tanpa menyentuh dinding maskernya. Kalau ini dilakukan, sebentar-sebentar pasti kita akan disibukkan dengan memperbaiki letak masker yang turun dan sebagainya," ujar Yuri dalam sebuah diskusi virtual.

Karena sentuhan-sentuhan inilah virus Corona dapat masuk ke tubuh.

5 dari 6 halaman

Bukan Masker

Yurianto menyatakan, masker berbahan scuba memang bukan termasuk masker.

"Masker ya masker, titik. Kenapa melari-larikan ke scuba segala macam. Kan, disuruhnya pakai apa? Masker. Scuba itu masker bukan? Bukan," kata Yuri di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 16 September 2020.

Yuri menyebut pemakaian masker bukan sekadar menutupi hidung atau wajah dengan bahan seadanya. Dia meminta larangan scuba tidak dibuat polemik.

"Kenapa sih dibikin konflik? Masker, bukan penutup hidung. Kalau nutup hidung pakai kertas bisa kan. Tapi yang diminta apa? Masker," ucap Yuri.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: