Sukses

Special Content: Deteksi Corona Covid-19, Benarkah Tes Antigen Lebih Baik daripada Tes Antibodi?

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pandemi virus corona Covid-19, kekhawatiran masyarakat Indonesia kian meningkat setelah penyebarannya belum juga menunjukkan penurunan.

Untuk berusaha memastikan tubuh tidak tertular penyakit tersebut, masyarakat hanya bisa berpegangan pada tes Covid-19. Tes penting dilakukan demi mengetahui seberapa luas penyebaran virus corona.

Apabila informasi yang didapat dari tes Covid-19 akurat, pelayanan kesehatan bisa melakukan perencanaan dalam persiapan perawatan intensif. Selain itu, tes juga dapat mempengaruhi para pembuat kebijakan menentukan langkah pencegahan penyebaran virus corona di masyarakat.

Sebagai contoh, Korea Selatan (Korea Selatan) dianggap sebagai negara yang tergolong berhasil meredam penyebaran Covid-19. Korsel sempat masuk salah satu negara dengan kasus terbanyak pada akhir Maret 2020.

Tapi, setelah empat bulan kemudian, Korsel mampu meningkatkan angka pasien yang sembuh dan menurunkan laju penyebaran. Negeri Ginseng itu sukses melandaikan kurva pertumbuhan Covid-19.

Bahkan, tingkat kematian di negara tersebut pun sangatlah rendah. Sampai Kamis (30/7/2020), Korsel memiliki 14.305 kasus Covid-19, 301 orang di antaranya meninggal, dan 13.183 orang dinyatakan sembuh.

Pemerintah Korsel melalui KCDC (Korean Centers for Disease Control and Prevention) mampu merespons cepat dan terstruktur dalam menemukan pasien positif Covid-19. Mereka melakukan cara tes secara massal dan tracing kasus dengan rinci.

Korsel memakai cara drive-thru dan walk-thru untuk melakukan tes Covid-19 kepada masyarakatnya menggunakan tes swab antigen.

Cara ini menyita perhatian dunia dan diikuti sejumlah negara dalam melakukan tes Covid-19 kepada warganya. Tes Covid-19 tersebut juga dilakukan secara gratis.

 

 

2 dari 6 halaman

Keunggulan Tes Swab Antigen

Secara garis besar, terdapat dua macam tes untuk mengetahui apakah seseorang mengidap Covid-19. Yang pertama, tes swab dan yang kedua adalah tes kilat antibodi atau belakangan dikenal dengan rapid test.

Tes swab dilakukan dengan cara mengambil sampel pada bagian hidung atau tenggorokan. Lalu, sampel tersebut dikirim ke laboratorium untuk ditemukan tanda-tanda materi genetika virus.

Selanjutnya, dilakukan tes diagnostis menggunakan sampel atau swab untuk dianalisa di laboratorium memakai polymerase chain reaction (PCR), yang bisa diandalkan akurasinya.

Namun, tes swab PCR membutuhkan beberapa hari untuk mengetahui hasilnya. Selain itu, harga untuk tes swab tergolong mahal, berkisar dari Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta.

Mengingat pemerintah Indonesia tidak menggratiskan biaya tes virus corona, masyarakat perlu selektif memilih alat tes yang akurat dan terjangkau. Dalam situasi pandemi seperti sekarang, diperlukan waktu yang lebih singkat untuk mengetahui hasil tes.

Tes swab antigen pun diperkenalkan sebagai alat uji yang dianggap lebih memadai. Korea Selatan memulai pemakaian alat tes antigen, yang kemudian diikuti berbagai negara di dunia.

Antigen adalah protein yang dikeluarkan oleh virus, termasuk Covid-19. Antigen dapat terdeteksi ketika ada infeksi yang sedang berlangsung di tubuh seseorang. Karena itu, tes swab antigen dapat mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada orang yang sedang mengalaminya.

"Jadi, swab antigen seperti rapid test, tapi yang dideteksi itu antigen. Tentu kalau bisa mendeteksi antigennya, itu memang lebih baik daripada mendeteksi antibodi. Karena antigen itu langsung mewakili virusnya," ujar Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Prof Amin Soebandrio kepada Liputan6.com.

Korea Selatan dinilai mampu melakukan tes Covid-19 dengan cepat dan hasilnya terbilang akurat. Profesor Gye Cheol Kwon, selaku ketua Yayasan Laboratorium Obat Korea Selatan, percaya akurasi tes Covid-19 di negaranya sekitar 98 persen.

"Tetapi ada beberapa catatan, sampai saat ini belum ada tes antigen yang di-approve oleh WHO," ungkap Prof Amin Soebandrio.

"Oleh Kemenkes Korsel mungkin sudah boleh, karena setiap negara bisa mengembangkan policy sendiri. Tapi untuk digunakan di luar negeri, itu harus ada approval dari WHO," papar pria berusia 67 tahun ini.

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyebut, alat uji Covid-19 tes swab antigen memadai untuk tes diagnostis. Kecepatannya setara dengan tes antibodi sedangkan akurasinya hampir sama dengan RT-PCR.

"Itu seperti mendeteksi virusnya kalau antigen, bukan antibodinya. Jadi, misalnya seseorang terinfeksi, kita ambil swab tenggorokannya, mungkin bisa diperoleh antigennya, hanya saja sekarang belum ada metode yang di-approve oleh WHO," kata Prof Amin Soebandrio.

Prof Amin menjelaskan, "Untuk sensitivitasnya, kita belum mendapatkan angka yang pasti untuk antigen, tapi kalau antibodi itu baru terdeteksi setelah dua atau tiga hari setelah gelajanya muncul, sedangkan antigen, sudah bisa terdeteksi sejak adanya infeksi. Jadi misalnya belum ada gejala, itu bisa terdeteksi. Kalau antibodi kan tidak bisa terdeteksi kalau tidak ada gejala."

Menurut Prof Amin Soebandrio, antigen yang dideteksi adalah komponen protein dari virusnya. Tapi, ada bermacam-macam protein yang dapat terdeteksi, termasuk spike protein atau membran protein.

"Yang sekarang masih dikembangkan, makanya belum ada yang standar, bagian dari virus mana yang akan dideteksi sebagai antigen tadi," kata Guru Besar Kehormatan Universitas Sydney, Australia ini.

Senada dengan Prof Amin Soebandrio, Peneliti Utama dari Stemcell and Cancer Institute, Ahmad Rusjdan PhD, juga berpendapat jendela diagnostik antigen lebih akurat ketimbang antibodi. Sebab, antigen mendeteksi langsung keberadaan virusnya. Namun, Ahmad mengaku belum melihat data-data dari penggunaan tes swab antigen.

Tes antigen bukan dimaksudkan untuk menggantikan tes swab PCR, tapi dinilai dapat digunakan untuk menggantikan tes antibodi atau rapid test. Dari harga, tes swab antigen juga cukup terjangkau.

Dari hasil penelusuran Liputan6.com, harga alat tes swab antigen di sejumlah e-commerce berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Dengan akurasi lebih baik dibanding tes antibodi, swab antigen bisa menjadi pilihan masyarakat Indonesia untuk mengetahui apakah diri mereka terjangkit virus corona Covid-19.

"Sudah ada yang masuk ke Indonesia memang test kit antigen, tetapi sekali lagi belum menjadi protokol yang standar. Kalau antibodi kan sudah luas dipakai, yang antigen belum ada standarnya. Tapi, memang sudah banyak yang jual sih," ucap Prof Amin Soebandrio.

3 dari 6 halaman

Meragukan Akurasi Rapid Test

Sejak virus corona Covid-19 masuk Indonesia, pemerintah memutuskan mendatangkan alat rapid test atau tes kilat antibodi dari Tiongkok untuk mendeteksi penyebaran penyakit tersebut di masyarakat.

Pada Maret lalu, juru bicara pemerintah dalam penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengungkapkan, sebanyak satu juta alat rapid test disiapkan pemerintah. Selain rapid test, menurut Achmad Yurianto, pemerintah juga menggelar tes menggunakan analisa PCR.

Tes kilat antibodi atau dikenal dengan rapid test yaitu memakai setetes darah pada sebuah perangkat untuk mencari tanda-tanda kekebalan tubuh, agar bisa mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi virus corona.

Namun, rapid test banyak diragukan soal akurasinya. Menurut Peneliti Utama dari Stemcell and Cancer Institute, Ahmad Rusjdan, rapid test untuk mendeteksi virus corona tidak dapat dilakukan sembarangan.

Pria yang menjadi Konsultan genom di Laboratorium Kalbe ini menyatakan, sensitivitas rapid test antibodi sekitar 36 persen dari 100 kasus Covid-19. Ia juga mengungkapkan, rapid test berbasis antibodi secara biologis "selalu terlambat".

"Sebab, antibodi itu terbentuk perlu waktu dan untuk mencapai puncaknya sekitar dua minggu baru kelihatan jelas. Dalam masa itu, mungkin virusnya sudah hilang, sudah pergi," ujar Ahmad Rusjdan kepada Liputan6.com.

"Selain itu, kalau hasil tes antibodinya negatif, juga belum tentu aman. Dilemanya seperti ini, apa pun hasil tesnya, mau negatif atau positif, ujung-ujungnya tetap PCR," bebernya.

Seperti dilansir The Times, ilmuwan yang mengawasi tes Covid-19 di Inggris, Prof John Newton, menyebut, perangkat rapid test yang dibeli dari Tiongkok bisa mengenali antibodi para pasien, yang mengalami sakit parah akibat virus corona, namun tidak mampu mendeteksi kasus dengan gejala ringan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, juga mengakui rapid test ini tidak semuanya efektif. "Ternyata juga rapid test ini tidak semuanya efektif. Karena itu, ke depan kita lebih banyak mendatangkan PCR test," terang Doni dalam rapat dengan Komisi VIII DPR RI yang digelar secara virtual, Senin (06/04/2020).

Di Indonesia, walaupun Kementerian Kesehatan telah menetapkan harga rapid test paling tinggi sebesar Rp 150 ribu, tapi dari penelusuran Liputan6.com, masih banyak pihak yang menentukan harga lebih mahal.

Untuk mengikuti rapid test yang ditawarkan pihak swasta, Anda setidaknya harus merogoh kocek antara Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu. Nilai tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga paket tes swab antigen.

 

4 dari 6 halaman

Belum Ada Izin

Dengan kecepatan yang relatif serupa dengan tes antibodi dan tingkat akurasi yang lebih baik, tes swab antigen sebenarnya bisa menjadi rekomendasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui apakah tengah mengidap Covid-19.

"Saya hanya bilang, uji antigen itu lebih baik daripada antibodi, karena dia menunjukkan adanya virus. Setidaknya ada komponen virus di situ," tegas Prof Amin Soebandrio.

"Di Indonesia belum menggunakan swab test antigen. Beberapa masih berupaya mengembangkan, karena diharapkan tes antigen itu bisa menggantikan PCR. Artinya bisa lebih cepat dan punya sensitivitas cukup tinggi, walaupun masing-masing ada keterbatasannya," terang Guru Besar Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Sayangnya, walaupun sudah dijual di pasaran, paket tes swab antigen belum memiliki izin edar di Indonesia. Melihat kesuksesan Korea Selatan dalam penggunaan tes swab antigen, Pemerintah Indonesia diharapkan bisa mulai mempertimbangkan pemakaiannya.

"Untuk dianostik apapun, untuk bisa dijual di pasaran, harusnya ada izin edar dari Kemenkes. Nah, kalau alat diagnostik itu belum punya izin edar, maka masyarakat tidak disarankan untuk menggunakannya. Karena, belum tahu standarnya seperti apa," ucapnya.

Sementara itu, Ahmad Rusjdan mengatakan, walaupun secara teoritis tes antigen lebih akurat, terutama untuk mendeteksi orang-orang yang berpotensi menularkan ke yang lain, namun harus dipastikan kajian ilmiahnya.

"Apakah tes antigen telah dibandingkan secara langsung, head-to-head lawan PCR. Jadi orang yang sama, dites dua kali, memakai tes antigen dan PCR. Jadi, intinya perlu ada validasi, kecuali jika tes yang akan dipakai itu sudah terbukti ada kajian ilmiahnya," terang Ahmad Rusdan.

"Jadi, ketika sudah diterapkan di masyarakat, sudah ada dukungan akademisnya. Artinya, jangan mengulang seperti rapid test antibodi, sudah brand-nya banyak sekali, yang diproses antibodinya juga tidak pas. Harus hati-hati, karena kasihan nanti yang sudah tes, ternyata banyak yang negatif palsu," bebernya.

5 dari 6 halaman

Infografis

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Tes Antigen vs Tes Antibodi Berikut Ini