Sukses

HEADLINE: 709 Pedagang Pasar Tradisional Positif Covid-19, Jadi Klaster Baru?

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah persiapan menuju new normal atau era kenormalan baru, sebuah kabar buruk menyeruak. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) dalam rilis datanya yang terbaru menyebutkan sebanyak 709 pedagang di pasar tradisional di Indonesia positif Covid-19.

Kabar ini seolah menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan masyarakat di sebagian daerah yang sudah mengizinkan pasar tradisional beroperasi, meski dengan sejumlah pembatasan.

Namun, pakar epidemiologi dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bony Wiem Lestari meminta tak buru-buru mengklaim semua pasar sebagai lokasi penyebaran Covid-19.

"Di beberapa pasar memang begitu. Tapi kan kita harus memastikan betul apakah data yang diberikan oleh Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) itu valid atau tidak. Kalau ternyata mereka punya data yang jelas ya tentu itu menjadi perhatian kita bersama," ujar Bony kepada Liputan6.com, Kamis (25/6/2020) malam.

Di sisi lain, dia bisa menerima jika pasar tradisional menjadi pusat penyebaran Covid-19. Sebab, karakteristik pasar tradisional itu sangat khusus, berbeda dengan pusat perbelanjaan, swalayan atau supermarket.

"Karakter pasar ini kan beda dengan mal. Pertama, manajemennya jelas berbeda. Pengalaman saya, mal punya manajemen yang lebih baik, sehingga hubungan antara manajemen dengan yang punya gerai itu jelas. Mereka bisa bayar dan mendapat fasilitas yang baik. Pasar tradisional juga begitu, tapi tidak seprofesional di mal," beber Bony.

Jadi, lanjut dia, kalau ditanya apa yang menyebabkan Covid-19 mudah menyebar di pasar tradisional, itu tak lain karena karakteristik tadi. Baik dari sisi manajemen, penyewa atau pedagang serta pembeli.

"Karakter pasar tradisional ini yang membuat dia lebih rentan. Karena manajemennnya lemah, maka dari sisi pengawasan ikut lemah. Kemudian, mungkin para pedagang ini juga kurang mendapat edukasi. Saya menduga tingkat sosial ekonomi dan pendidikan para pedagang ini berbeda, sehingga harus ada effort yang lebih lagi dari pemerintah untuk mensosialisaikan pencegahan," ujar Bony.

Edukasi dan sosialisasi itu, lanjut dia, juga butuh ketegasan. Jadi, kalau ada yang melanggar tak perlu segan memberi sanksi. Misalnya karena melanggar kententuan tentang jaga jarak atau menggunakan masker. Kesannya sepele, tapi kalau dibiarkan semua yang ada di pasar tradisional akan berperilaku seenaknya.

"Kalau pembeli punya pendidikan yang baik, tentu akan berpikir dua kali untuk berbelanja di tempat seperti itu (tak menerapkan protokol kesehatan). Pedagangnya memang butuh makan, karena itu dia berjualan. Maka semuanya berada di tangan pengelola pasar, untuk mengimplementasikan aturan main atau protokol kesehatan," papar Bony.

Dia menyebutkan, kalau ingin menghentikan penyebaran Covid-19 di pasar tradisional, maka unsur manajemen ini menjadi penting. Manajemen harus paham apa yang harus dilakukan untuk bisa menerapkan protokol kesehtaan. Mulai dari yang sederhana, seperti pedagang wajib memakai masker, face shield, dan sarung tangan saat menjual dagangannya.

"Seperti di Jakarta, ada pasar tradisional yang bukanya dibuat selang-seling. Di hari Senin untuk pedagang dengan nomor ganjil, hari Selasa untuk yang nomor genap, begitu seterusnya. Ini layak dicobakan karena prinsipnya bisa menjaga jarak antarpedagang dan pembeli," jelas Bony.

 

Infografis Hantaman Covid-19 di Pasar Tradisional. (Liputan6.com/Trieyasni)

Namun begitu, dia juga bisa memaklumi jika ada pemerintah daerah atau pihak manajemen yang menutup pasar tradisional lantaran ada pedagang yang dipastikan positif Covid-19. Bahkan, dia menilai itu perlu dilakukan guna melacak perjalanan dari virus itu.

"Penutupan pasar itu kan terjadi kalau ada yang terdeteksi, artinya saat seseorang terdeteksi maka secara epidemiologi kita kan harus melacak kontaknya siapa. Melacak kontaknya siapa itu butuh waktu, perlu memeriksa, bisa jadi juga dia ngobrol dengan pengunjung atau lainnya, itu yang harus diketahui," ujar Bony.

Namun dia menegaskan, penutupan pasar bukan berarti sumber infeksi menjadi hilang. Penutupan tak lain untuk memeriksa kontak dari pasien positif serta melakukan tes kepada semua pedagang dan pengunjung yang diketahui berisiko. Setelah itu pasar bisa dibuka lagi.

"Penutupan semata-mata untuk mempermudah petugas kesehatan. Kalau tetap buka nanti susah dilacak karena orang terus berjualan dan membeli," beber Bony.

Dengan melihat semua data yang ada serta karakteristik dari pasar tradisional, dia tak menutup kemungkinan lokasi jual beli ini telah menjadi klaster baru penularan Covid-19.

"Pasar tradisional sebagai klaster baru, ada kemungkinan ke arah sana. Dilihat dari pemberitaan juga ada potensi. Itu sebagai konsekuensi orang yang dibiarkan berkerumun tanpa menerapkan protokol Kesehatan," tegas Bony.

Indikasi lainnya menurut dia adalah kembali pada karakteristik, di mana pedagang di pasar tradisional umumnya berada di tempat yang sama dalam waktu cukup lama dan berinteraksi di antara mereka juga cukup lama. Sementara, penularan perlu kontak erat dan durasi yang cukup lama.

"Jadi, pasti ada risiko kalau nggak diatur. Kuncinya kembali pada manajemen. Pengelola harus paham pasar adalah tempat publik yang punya high risk dan high impact, jadi harus diterapkan protokol. Kalau pengelola nggak tegas ya sulit. Karena kalau ada orang batuk (pedagang atau pengunjung) terus masuk pasar dan dibiarkan, ya berat," Bony menandasi.

 

2 dari 3 halaman

Mencegah Bukan Menutup

Selain melansir data secara nasional, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) juga mencatat DKI Jakarta sebagai penyumbang terbesar angka pedagang pasar tradisional yang terpapare Covid-19. Menurut catatan IKAPPI, terdapat 152 pedagang yang positif Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

Bagi anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak, kabar ini bukan sesuatu yang mencengangkan. Bahkan, menurut dia, pasar tradisional sejak lama telah menjadi tempat penyebaran virus Corona.

"Sebenarnya mereka sudah lama itu tertular, tetapi tidak terdeteksi karena Pemprov DKI abai. Bahkan, sejak April lalu saya sudah bilang di media agar masyarakat bawah dididik," ujar Gilbert kepada Liputan6.com, Kamis (25/6/2020).

Dia juga menganggap langkah Pemprov DKI yang memutuskan menutup sejumlah pasar tradisional tidak akan efektif memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Alih-alih mencegah, langkah itu dinilainya bakal merugikan dari sisi ekonomi.

"Cukup pedagang yang positif dan di kiri kanannya diisolasi dua minggu. Menutup pasar tidak menjawab persoalan penularan, malah akan membuat ekonomi terpuruk. Yang penting pedagang dan pembeli ikuti protokol Covid-19, jaga jarak, tidak bersentuhan fisik, pakai masker dan sarung tangan atau cuci tangan," beber Gilbert.

Menurut dia, langkah tegas untuk menerapkan protokol kesehatan di pasar tradisional memang tak bisa ditawar, lantaran mereka kurang peduli terhadap kesehatan.

"Karena buat mereka yang penting bagaimana hidup, bukan soal kualitas hidup (sehat). Jadi, kegiatan di pasar itu harus diawasi ketat dan mengikuti prosedur. Ini sebenarnya tugas camat dan lurah, tapi terkesan mereka kurang aktif, sepertinya tanpa arahan dari pimpinan," ujar legislator yang juga seorang dokter ini.

Di sisi lain, dia meminta semua pihak untuk hati-hati melihat meningkatnya angka pasien positif Covid-19 dari kalangan pedagang pasar tradisional ini. Sebab, bukan tak mungkin angkanya bertambah karena semata-mata pengujian yang juga semakin diperbanyak.

"Kita harus waspadai apakah ini peningkatan atau karena tes yang diperbanyak. Kalau ini peningkatan, alamat kasus akan bertambah dan belum mencapai puncak," papar Gilbert.

Yang jelas, lanjut dia, data harian yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memperlihatkan kalau virus Corona masih jauh dari selesai di Ibu Kota. Dan dia yakin, pasar tradisional sudah menjadi klaster sejak lama.

"Saya khawatir DKI belum aman dan belum terkendali dari Covid-19. Pasar tradisional sendiri sebenarnya sudah lama terkena, namun terabaikan oleh Pemprov," dia menandaskan.

Sementara itu, pada Kamis 25 Juni 2020, 3 pasar tradisional di Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur ditutup sementara lantaran puluhan pedagang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona. Penutupan ini berlangsung selama tiga hari, yakni 25-27 Juni 2020.

"Kita terus lakukan upaya pencegahan penyebaran penularan Covid-19 di pasar hingga tiga hari ke depan dengan sterilisasi seluruh area pasar," kata Wakil Camat Pulo Gadung Agus Purwanto.

Penutupan Pasar Kampung Ambon atau Pasar Ampera itu dilakukan setelah 11 pedagang dinyatakan positif terinfeksi Corona berdasarkan hasil tes usap atau swab test pada Senin 15 Juni 2020.

"Dari total 300 pedagang yang menjadi peserta tes usap, sebanyak 11 pedagang di antaranya memperoleh hasil tes positif Covid-19," ujar Agus.

Selain Pasar Kampung Ambon, dua pasar lainnya di Pulo Gadung yang ditutup sementara adalah Pasar Enjo dan Pasar Rawamangun.

10 pedagang kios dan dua pedagang kaki lima di Pasar Enjo positif Corona berdasarkan hasil tes usap pada Selasa 16 Juni.

Sedangkan di Pasar Rawamangun ada satu pedagang yang tertular Covid-19 berdasarkan hasil tes usap pada Jumat 12 Juni.

3 dari 3 halaman

32 Pedagang Meninggal

Sebanyak 709 pedagang di pasar tradisional positif corona (Covid-19). Hal ini berdasarkan data terbaru Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI). Dari 709 pedagang tersebut, 32 orang di antaranya meninggal dunia.

Wilayah DKI Jakarta menempati urutan terbanyak para pedagang pasar tradisional yang dinyatakan positif corona, yaitu sebanyak 152 pedagang.

Kemudian diikuti oleh Jawa Timur dengan 127 pedagang, Sumatera Barat sebanyak 120 pedagang, Jawa Tengah senyak 72 pedagang, Kalimantan Tengah sebanyak 50 pedagang dan Jawa Barat 40 pedagang serta Bali 39 pedagang.

Sementara dari sisi titik pasar yang pedagangnya positif corona, Jawa Timur menjadi provinsi paling banyak dengan jumlah 37 pasar, Jawa Tengah sebanyak 21 pasar, DKI Jakarta 20 pasar, dan Jawa Barat sebanyak 16 pasar.

Sebelumnya, Ketua Bidang Keanggotaan DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Dimas Hermadiyansyah mengatakan DPP IKAPPI sendiri terus memantau perkembangan data kasus di Pasar Tradisional sambil terus melakukan penyadaran kepada para pedagang agar memperhatikan protokol kesehatan di pasar.

"Dan tentunya kami tidak bisa melakukan ini sendiri, sehingga perlu bantuan pemerintah dan stakeholder yang lain agar tidak ada lagi kasus penyebaran Covid-19 di pasar," kata dia.

Berikut daftarnya:

1. Babel 1 pasar, positif 1 orang, meninggal 1 orang

2. Bali 7 pasar, positif 39 orang

3. DKI 20 pasar, positif 152 orang

4. Jabar 16 pasar, positif 40 orang, meninggal 1 orang

5. Jambi 3 pasar, positif 4 orang

6. Jateng 21 pasar, positif 72 orang, meninggal 1 orang

7. Jatim 37 pasar, positif 127 orang, meninggal 14 orang

8. Kalbar 1 pasar, positif 1 orang

9. Kalsel 4 pasar, positif 27 orang, meninggal 2 orang

10. Kalteng 1 pasar, positif 50 orang, meninggal 2 orang

11. Kaltim 1 pasar, positif 2 orang, meninggal 2 orang

12. Kepri 1 pasar, positif 5 orang

13. Maluku 1 pasar, positif 18 orang, meninggal 2 orang

14. NTB 1 pasar, positif 1 orang, 1 orang

15. NTT 2 pasar, positif 4 orang, meninggal 1 orang

16. Papua 2 pasar, positif 13 orang

17. Sulsel 2 pasar, positif 3 orang

18. Sulut 3 pasar, positif 7 orang, meninggal 1 orang

19. Sumbar 6 pasar, positif 120 orang, meninggal 3 orang

20. Sumsel 2 pasar, positif 21 orang, meninggal 1 orang

21. Yogyakarta 1 pasar, positif 2 orang