Sukses

Kisah Dokter Muda Indonesia di Garis Depan Penanganan Covid-19 Kota London

Liputan6.com, Jakarta - Ardito Widjono (26) merupakan seorang dokter muda asal Indonesia yang turut berada di garis depan untuk menangani pasien terpapar Covid-19 di salah satu rumah sakit di Kota London, Inggris. 

Putra pertama pasangan Argo Onny Widjono dan Endang Nurdin ini diketahui telah bertugas di Rumah Sakit Barnet di London utara sejak Maret lalu. Saat itu kasus infeksi Covid-19 di Inggris baru sekitar 17 ribu dengan jumlah meninggal sekitar 1.000 orang.  

"Tak ada yang bisa memprediksi kapan corona berakhir," kata Dito, sapaan akrabnya, seperti dikutip Antara London. 

Sebelum ditempatkan di RS Barnet, dokter muda yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di program studi kedokteran King's College London, awalnya bertugas di bagian ortopedi atau bedah tulang. Dia sempat bertugas sebagai dokter untuk anak-anak dan orang dewasa, sebelum akhirnya ditarik di bagian gawat darurat Covid-19.

"Menjelang akhir Maret 2020, setelah menghabiskan empat bulan bekerja di bedah ortopedi, saya menerima email dari direktur medis rumah sakit yang  menjelaskan bahwa saya akan dipindahtugaskan ke bagian gawat darurat," katanya.

Saat itu semua dokter junior di rumah sakit dengan berbagai spesialisasi medis dan bedah ditarik untuk menangani pasien Covid-19. Dito mengaku senang karena merasa berada di tempat yang paling dibutuhkan. 

"Dan saya bangga akan dapat menggunakan keterampilan saya untuk membantu para penderita penyakit yang belum ada obatnya," ujarnya. 

Di hari pertamanya bertugas, dokter muda ini ingat benar saat itu merupakan puncak kasus Corona tengah melanda Inggris. Dia bahkan merasa seperti tengah memasuki tugas militer sebelum pergi ke medan pertempuran.

"Banyak dari kami belum pernah melihat pasien dengan gejala Covid-19 sebelumnya dan beberapa dari kami tidak bekerja di bangsal medis selama bertahun-tahun," katanya.

2 dari 3 halaman

Deretan Kisah Pilu

Tak semua rencana kerja yang disusun berjalan lancar. Sepertiga tenaga dokter harus mengisolasi diri karena diduga tertular corona. Akibatnya, setiap pagi ada perombakan besar komposisi dokter yang bertugas. Semua ini untuk mengisi kekosongan dalam unit kerja dan memastikan bahwa setiap lingkungan satuan kerja memiliki staf yang memadai.

Saat berada di lingkungan para pasien Corona, Dito dan teman-teman sesama profesi ikut merasakan ketegangan. Terlebih saat mengetahui banyak rumah sakit di Inggris yang kekurangan alat pelindung diri (APD).

Namun, kekurangan itu segera diatasi oleh otoritas kesehatan di Inggris dengan mengimpor APD dalam jumlah besar dari China.

Setiap informasi baru yang diberikan mengenai penggunaan perangkat medis yang baru kadang menambah kebingungan dan diliputi rasa frustrasi akan kabar yang berkembang seputar kekurangan APD.

"Terlepas dari situasi keterbatasan APD, kami semua bertekad untuk memberikan pasien kami perawatan terbaik," ujar Dito yang meraih sarjana spesialisasi imaging sciences di tahun 2015 ini. 

Dito yang sempat jadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom dan pengurus Young Indonesian Professionals Association (YIPA) mulai terbiasa merawat pasien corona setelah beberapa hari bertugas.

"Kami merasa lega mendapati bahwa sebagian besar pasien kami membaik dan akhirnya dipulangkan. Tetapi bagi mereka yang memburuk, itu adalah pilihan yang sulit antara  perawatan intensif atau tinggal di bangsal untuk perawatan paliatif,  memastikan mereka bisa senyaman mungkin meskipun menjelang  akhir hidup mereka," katanya.

Dito mengaku jumlah kematian akibat Corona tidak seperti yang pernah disaksikannya sebelumnya dalam kariernya. Terlebih saat harus menyampaikan berita bahwa seorang pasien meninggal hampir setiap hari, bagi dokter muda ini, itu merupakan beban yang memilukan. 

"Kami menelepon kerabat pasien setiap hari untuk menginformasikan tentang perkembangan dan mencoba memberikan kepastian," katanya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: