Sukses

Begini Rasanya jadi ODP karena Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta Akhir pekan Sabtu 14 Maret 2020 suasana mendadak berubah waswas. Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengabarkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif terjangkit virus Corona atau Covid-19.

Rasa khawatir tersebut bukan tanpa alasan, dua pekan sebelumnya saya dan beberapa wartawan yang biasa bertugas di Istana Negara melakukan kontak dengan Menhub, bahkan sempat berfoto bersama. Menhub Budi Karya adalah kasus ke-76 yang terinfeksi virus Corona. Akhirnya, guna melawan rasa waswas itu, saya dan 20 rekan wartawan yang biasa bertugas di Istana mendatangi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin 16 Maret 2020.

Kami berinisiatif uji tes kesehatan terjangkit tidaknya tubuh kami oleh virus Corona. Rasa khawatir rupanya tidak hanya terjadi pada diri saya, sejumlah wartawan lain pun merasakan hal yang sama, terutama yang berkontak langsung dengan Budi Karya.

Saya sendiri sempat ikut berfoto bersama Menhub Budi Karya, 4 Maret 2020. Hal itu membuat saya dan para wartawan yang pernah berofoto atau mewawancarai Budi Karya pun masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Sebenarnya, tak semua orang yang masuk kategori ODP harus melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Namun, berhubung saya mengalami gejala pilek dan batuk serta pernah berkontak dengan pasien positif, maka saya bersikeras memeriksan diri ke RSPI Sulianti Saroso.

Sesampainya di sana, saya diarahkan untuk menuju Posko Pemantauan COVID-19 yang berada di luar rumah sakit. Antrean sudah mengular saat saya tiba pukul 10.47 WIB. Terlebih, petugas yang melayani hanya satu saja.

 

2 dari 6 halaman

Tahap Awal Pemeriksaan

Sambil menunggu nama dipanggil, saya pun mengisi formulir yang berisi identitas, gejala yang dialami, riwayat perjalanan atau kontak dengan pasien positif. Tahap awal ini dinamakan proses skrining.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, tiba giliran saya untuk skrining awal. Setelah menyerahkan formulir yang sudah diisi, petugas kembali menanyai kondisi kesehatan saat ini dan kapan terakhir kontak dengan pasien positif. Selain itu, saya juga diukur suhu tubuhnya.

Sebenarnya, pelayanan di rumah sakit itu sudah baik. Namun, rata-rata disarankan untuk self isolated bahkan yang ada gejala sekalipun. Saya termasuk salah satu orang yang disarankan untuk pulang dan melakukan self isolated.

"Mbak, tapi kelihatannya sehat-sehat aja. Kalau sehat isolasi mandiri aja," kata salah satu petugas yang berjaga di pos pemantauan kepada saya.

Padahal, saya memiliki gejala corona yakni pilek dan batuk serta riwayat kontak dengan pasien positif. Saya akhirnya terus meminta untuk diperiksa dan akhirnya saya diarahkan untuk ke poli Medical Check Up (MCU).

 

3 dari 6 halaman

Tes Swab atas Permintaan Dokter

Sesampainya di poli MCU, orang sudah ramai mengantre untuk diperiksa. Saya tak tahu dapat nomor antrean berapa. Petugas medis terlihat tampak kewalahan karena ramainya orang yang ingin tes kesehatan. Saya bisa menebak, bahwa hampir semua yang di MCU ingin tes Corona.

Nyatanya, MCU tak seperti tes COVID-19. Meski diberikan surat keterangan sehat, pemeriksaannya hanya mencakup cek darah, suhu tubuh, cek berat badan, sampai rontgen paru. Hasil pemeriksaannya bisa melihat gejala klinis saja.

Adapun untuk mengecek adanya Virus Corona yakni, dengan cara tes Swab atau mengambil sampel lendir dari saluran pernapasan. Saya tidak mendapat akses untuk tes Swab. Pasalnya, tes itu harus dilakukan atas permintaan dokter.

Artinya, saya tidak memiliki indikasi atau gejala klinis terjangkit virus Corona. Hasil tes saya dapatkan sehari setelah pemeriksaan berupa rontgen dan tes darah. Dokter menyatakan rontgen paru saya bagus namun tes darah leukosit saya terbilang cukup tinggi.

"Semua bagus. Tapi leukosit agak tinggi karena bakteri. Silahkan ke dokter Poli Paru atau Penyakit Dalam untuk resepnya," ucap dokter tersebut.

 

4 dari 6 halaman

Self Isolated

Saya pun diminta untuk self isolated selama 14 hari. Apabila timbul keluhan berat dalam beberapa hari ke depan, saya diminta untuk kembali memeriksakan diri.

Jauh dari itu, saya merasa takjub melihat petugas medis yang tak kenal lelah melayani orang-orang baik tanpa keluhan ataupun tidak. Mereka juga sangat cepat.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wartawan Istana berinisial S yang ikut tes bersama saya. Meski petugas medis melayani dengan baik, S menyatakan pasien yang banyak membuat alur pelayanan menjadi tak jelas.

"Di ruang MCU banyak sekali orang sehingga alur melayani tidak jelas. Ada yang disuruh ambil darah dan rontgen, ada yang tes fisik. Jadi kemarin itu agak keos karena pasien membludak," ujar S.

Saat memeriksakan dirinya, S mengaku mengalami gejala batuk, pilek, dengan suhu badan 37,5. Dia sempat ingin dilakukan tes swab karena merasa pernah berkontak dengan Menhub Budi Karya. Apa daya, S juga tak mendapatkan akses.

"Kenapa semua disarankan self isolated saya enggak tahu parameter yang digunakan petugas. (Padahal) hampir semua yang datang sudah kontak langsung dengan pasien COVID-19," ucapnya.

Menurut dia, seharusnya orang yang berinisiatif memeriksakan dirinya ke rumah sakit dilayani dengan baik. Sebab, pemerintah tak perlu lagi melakukan penelusuran (tracing).

"Sebenarnya harus dilayani dengan baik. Dia sudah sukarela (diperiksa) sehingga pemerintah tak perlu lagi tracing," tutur S.

Liputan6.com sudah bertanya kepada Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril, apa parameter seseorang harus dilakukan swab dan tidak. Namun, pesan yang dikirim Liputan6.com belum dibalas.

 

5 dari 6 halaman

Biaya Tes Kesehatan

Berapa biaya pemeriksaan tes kesehatan?

Adapun biaya yang saya keluarkan untuk tes MCU yakni, Rp 275.000. Berikut rinciannya:

1. Pemeriksaan dokter umum: Rp 50.0002. Karcis Rawat Jalan/Poliklinik: Rp 30.0003. Laboratorium (Tes Darah): Rp 72.0004. Radiologi (Rontgen Paru): Rp 123.000

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan berikut Ini: