Sukses

Perjuangan Pedagang Oleh-Oleh Pantura Bertahan dari Dampak Tol Trans Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Para pedagang di sepanjang jalur pantura mengeluhkan pendapatan yang menurun dua tahun terakhir. Itu terjadi setelah dioperasikannya Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang diikuti Tol Trans Jawa lainnya.

Meski demikian, para pedagang masih menaruh harapan. Salah satunya Joko, yang berjualan di pusat oleh-oleh di wilayah Pantura Jatisari, Karawang.

Dikatakan pria 58 tahun ini, seiring dengan banyaknya pemudik yang kembali menggunakan jalan non tol itu dia dan pedagang lain berharap bisa kembali menaikkan penjualan.

"Berharap masih ada penghasilan setelah adanya Tol Trans Jawa," katanya, Jumat (7/6/2019).

Joko mengaku penghasilan arus balik Lebaran tahun lalu, masih mampu mendapatkan omset sekitar Rp 5 juta dalam sehari dari penjualan oleh-oleh khas priangan, seperti dodol Garut, ubi cilembu, dan kerupuk miskin.

"Ya bisa dibayangkan sejak ada Tol Cipali terus sekarang nyambung dengan Tol Trans Jawa penjualan sudah semakin sepi. Pengasilan hanya untuk bertahan hidup sehari-hari," keluh Joko.

Joko mengatakan, telah 15 tahun berjualan oleh-oleh di pantura. Kegiatan ini menjadi satu-satunya sumber penghidupannya bersama keluarga.

"Hampir setiap hari saya merasakan tidak ada yang membeli sama sekali, karena sasaran pembeli kita adalah pengendara yang melintas," ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pemilik kios lainnya, Yuni (54). Ia mengaku mengalami penurunan jumlah pendapatan lebih dari 50 persen sejak adanya Tol Cipali.

Sebelum adanya Tol Cipali, setiap akhir pekan dia mampu menghasilkan hingga Rp 2 juta. Namun ketika ada tol, tidak lebih dari Rp 500 ribu.

"Kami jelas khawatir, mungkin saja usaha saya bisa bangkrut begitu juga pedagang lain. Kami ini hanya orang kecil," kata Yuni.

Loading