Sukses

3 Rumah Sakit Ini Rawat Ratusan Korban Kerusuhan 22 Mei

Liputan6.com, Jakarta - Aksi 22 Mei menelan korban. Banyak korban luka akibat aksi 22 Mei yang rusuh. Bahkan, ada pula yang meninggal dunia.

Enam orang tewas dalam kerusuhan aksi 22 Mei. Mereka tercatat di beberapa rumah sakit di Jakarta. Meski demikian, belum diketahui penyebab pasti kematian para korban.

Hingga saat ini, ratusan korban luka masih dirawat di beberapa rumah sakit di Jakarta. Mereka tersebar setidaknya di tiga rumah sakit.

Ketiganya adalah Rumah Sakit atau RS Tarakan, RS Pelni, dan RS Budi Kemuliaan. Jumlah korban luka yang dirawat di masing-masing RS berbeda-beda.

Berikut tiga rumah sakit dan korban luka akibat aksi rusuh 22 Mei dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 5 halaman

1. RS Tarakan

Sebanyak 64 orang korban kericuhan aksi 22 Mei masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat hingga Kamis (23/5/2019) pagi pukul 09.30 WIB.

Sebelumnya tercatat jumlah korban yang sempat dirawat di rumah sakit tersebut adalah 168 orang, yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Adapun untuk korban paling muda usianya 13 tahun atas nama Rinaldi, sedangkan korban paling tua berusia 57 tahun atas nama Sutarno yang sudah dipulangkan.

Seperti dikutip dari Antara, hingga saat ini, pihak RSUD Tarakan belum bersedia memberikan keterangan resminya. Sejak Selasa, 21 Mei 2019 sore, RSUD Tarakan menerima korban kericuhan di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat.

Akibat dari kericuhan aksi 22 Mei yang terjadi dalam waktu berbeda di beberapa titik, para korban masuk ke RSUD Tarakan setidaknya sampai Kamis dini hari sekitar pukul 04.00 WIB.

 

3 dari 5 halaman

2. RS Pelni

Sebanyak 13 pasien korban kericuhan tanggal 21-22 Mei 2019 masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pelni, Jalan KS Tubun, Jakarta Barat, Kamis (23/5/2019) pagi.

Kepala Divisi Pengembangan RS Pelni, dr Didid Winnetouw, MPH mengatakan umumnya pasien yang dirawat merupakan korban yang mengalami luka berat dan luka sedang seperti terkena peluru karet, luka robek dan patah tulang.

"Sebagian besar pasien (korban) sudah kita pulangkan. Saat ini masih ada 13 pasien yang kita rawat inapkan," kata Didid.

Didid menyebutkan, total ada 82 orang korban aksi 22 Mei yang dirujuk ke RS Pelni. Dengan rincian, 61 orang luka ringan, 13 luka sedang, lima luka berat, satu orang sakit non trauma dan dua orang meninggal dunia.

Ia menjelaskan pasien luka ringan umumnya mengalami luka seperti lecet, memar dan sesak nafas akibat gas air mata. Sementara, korban luka sedang seperti luka terbuka yang harus melalui penanganan bedah minor.

"Untuk kategori luka berat itu patah tulang, luka robek yang memerlukan penanganan di meja operasi," katanya seperti dikutip dari Antara.

Didid mengatakan saat ini pasien korban kericuhan 21-22 Mei masih menjalani perawat di sejumlah kamar rawat inap di RS Pelni. Sebagian besar pasien tersebut merupakan warga setempat atau ber-KTP di wilayah Jakarta Pusat seputar Slipi, KS Tubun dan sekitarnya.

Menurut dia, pihak keluarga pasien sudah ada yang datang menjenguk dan juga menjemput korban aksi 22 Mei yang sudah membaik kondisi kesehatannya.

 

4 dari 5 halaman

3. RS Budi Kemuliaan

Rumah Sakit Budi Kemuliaan hingga Kamis dini hari (23/5/2019) telah menerima sebanyak 177 korban dari aksi 22 Mei 2019 yang berujung ricuh.

"Tidak ada yang rawat inap, ada tiga korban serius, tapi telah dirujuk ke rumah sakit lain, seperti RS Tarakan dan RSCM," ujar Direktur Pelayanan Medis RS Budi Kemuliaan Muhammad Rifky di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Ia merinci, tiga korban serius itu satu dia mengalami luka di bagian mata sebelah kanan akibat benda tumpul, satu korban lagi juga terkena luka serius di bagian mata akibat gas air mata, yang keduanya telah dirujuk ke RSCM. Satu korban lainnya dirujuk ke RS Tarakan akibat luka di kaki akibat peluru karet.

"Ada satu korban meninggal dunia kemarin pagi (Rabu 22 Mei) bernama Farhan asal Depok, yang juga dirujuk ke RSCM," kata dia.

Rifki juga mengatakan biaya pengobatan korban dari aksi demo 22 Mei ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Kita sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan sudah ada juga surat edarannya bahwa kalau ada pasien yang punya BPJS pakai BPJS, kalau tidak punya pakai dana pemprov," ujar Muhammad Rifki di Jakarta, Kamis dini hari.

Ia menambahkan, pihak RS Budi Kemuliaan menyiagakan sekitar 30 tenaga medis sebagai antisipasi. Namun, Rifki berharap situasi aksi 22 Mei ke depannya kondusif.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Komnas HAM Ungkap 10 Korban Tewas Saat Kerusuhan 22 Mei