Liputan6.com, Jakarta: Bila tak ada aral melintang, Jenderal TNI Endriartono Sutarto dipastikan akan menjabat Panglima TNI menggantikan Laksamana Widodo A.S. Sebab, dalam acara Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR, Rabu (22/5), anggota Dewan menanggapi positif pemaparan visi dan misi Endriartono [baca: Hari Ini, Tanya Jawab Komisi I-Endriartono].
Menurut Ketua Komisi I Ibrahim Ambong, rapat komisi menanggapi positif pencalonan Endriartono. Namun, ia tak mau mendahului keputusan sebab hasil rapat masih harus diserahkan ke pimpinan Dewan. Menurut rencana, Ibrahim Ambong akan membawa hasil fit and proper test ke pimpinan DPR, Kamis besok. Setelah itu, DPR-lah yang berhak menjawab surat Presiden Megawati Sukarnoputri soal pencalonan pria kelahiran Purworejo 29 April 1947 tersebut.
Secara pribadi, Ibrahim menilai Endriartono layak menjadi Panglima TNI. Sebab, dia dinilai memiliki pengetahuan cukup, memenuhi Undang-undang Nomor 23/2000 tentang Pencalonan Panglima TNI, dan mempunyai sikap profesional sebagai anggota prajurit.
Saat acara dengar pendapat, Endriartono banyak menjelaskan soal visi dan misi TNI [baca: Endriartono Sutarto: TNI Bukan Alat Kekuasaan]. Ia juga memaparkan sejumlah langkah yang akan dilakukan apabila dipercaya sebagai Panglima TNI. Menurut dia, nantinya para prajurit bukan hanya mampu menjalankan tugas pokoknya dengan baik, namun juga patuh terhadap penegakan hukum. Para prajurit juga akan menjunjung tinggi pelaksanaan hak asasi manusia.
Mengenai kemandirian TNI, Endriartono mengungkapkan, setiap anggota TNI pasti bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, asal tidak diintervensi. Ia mengambil contoh, seorang sersan yang kebetulan jago montir bisa saja membantah perintah jenderal berbintang empat yang tak mengerti soal otomotif. Sebab, pengetahuan jenderal soal montir, belum tentu sehebat sersan tersebut.
Dalam kesempatan itu, anggota DPR dari Fraksi PDI-P Permadi sempat menanyakan soal tinggi badan Endriartono. Bahkan, paranormal ini sempat bercanda, jika Endriartono menjadi Panglima TNI, maka ini adalah panglima terpendek di dunia. Meski begitu, Permadi berharap Endriartono bisa seperti Napoleon Bonaparte--yang juga bertubuh pendek. Pertanyaan yang mengundang senyum ini tak diteruskan karena bersifat pribadi.
Permadi juga menanyakan masalah utang TNI dalam penyelesaian kasus kriminal dan hak asasi manusia. Menurut dia, sejumlah kasus HAM seperti kematian Marsinah, Semanggi, Trisakti, Udin, dan 27 Juli belum juga tuntas. Ia meminta Endriartono menuntaskan kasus-kasus tersebut.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Ketua Komisi I Ibrahim Ambong, rapat komisi menanggapi positif pencalonan Endriartono. Namun, ia tak mau mendahului keputusan sebab hasil rapat masih harus diserahkan ke pimpinan Dewan. Menurut rencana, Ibrahim Ambong akan membawa hasil fit and proper test ke pimpinan DPR, Kamis besok. Setelah itu, DPR-lah yang berhak menjawab surat Presiden Megawati Sukarnoputri soal pencalonan pria kelahiran Purworejo 29 April 1947 tersebut.
Secara pribadi, Ibrahim menilai Endriartono layak menjadi Panglima TNI. Sebab, dia dinilai memiliki pengetahuan cukup, memenuhi Undang-undang Nomor 23/2000 tentang Pencalonan Panglima TNI, dan mempunyai sikap profesional sebagai anggota prajurit.
Saat acara dengar pendapat, Endriartono banyak menjelaskan soal visi dan misi TNI [baca: Endriartono Sutarto: TNI Bukan Alat Kekuasaan]. Ia juga memaparkan sejumlah langkah yang akan dilakukan apabila dipercaya sebagai Panglima TNI. Menurut dia, nantinya para prajurit bukan hanya mampu menjalankan tugas pokoknya dengan baik, namun juga patuh terhadap penegakan hukum. Para prajurit juga akan menjunjung tinggi pelaksanaan hak asasi manusia.
Mengenai kemandirian TNI, Endriartono mengungkapkan, setiap anggota TNI pasti bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, asal tidak diintervensi. Ia mengambil contoh, seorang sersan yang kebetulan jago montir bisa saja membantah perintah jenderal berbintang empat yang tak mengerti soal otomotif. Sebab, pengetahuan jenderal soal montir, belum tentu sehebat sersan tersebut.
Dalam kesempatan itu, anggota DPR dari Fraksi PDI-P Permadi sempat menanyakan soal tinggi badan Endriartono. Bahkan, paranormal ini sempat bercanda, jika Endriartono menjadi Panglima TNI, maka ini adalah panglima terpendek di dunia. Meski begitu, Permadi berharap Endriartono bisa seperti Napoleon Bonaparte--yang juga bertubuh pendek. Pertanyaan yang mengundang senyum ini tak diteruskan karena bersifat pribadi.
Permadi juga menanyakan masalah utang TNI dalam penyelesaian kasus kriminal dan hak asasi manusia. Menurut dia, sejumlah kasus HAM seperti kematian Marsinah, Semanggi, Trisakti, Udin, dan 27 Juli belum juga tuntas. Ia meminta Endriartono menuntaskan kasus-kasus tersebut.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389848/original/059413000_1793775328-WhatsApp_Image_2026-11-04_at_12.15.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377022/original/021863400_1760072132-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__88_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/373067/original/220502cEndriartono.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)