Sukses

Dipastikan, Anggota Kopassus dan Kostrad Terlibat Pengeboman BEJ

Liputan6.com, Jakarta: Melihat proses rekonstruksi peledakan Gedung Bursa Efek Jakarta beberapa waktu silam, seperti untaian cerita pendek. Pasalnya, dari rekontruksi itu tergambar keinginan kaya mendadak para pelaku yang memanfaatkan suasana tak aman. Maklum, dengan memiliki sejumlah uang dolar Amerika Serikat, akan didapat jumlah rupiah yang cukup menggiurkan.

Itulah yang tergambar dalam rekonstruksi peledakan Gedung BEJ, Sabtu (4/11) pagi. Reka ulang yang dimulai pukul 10.00 WIB itu diawali dari bengkel Krueng Baru, Ciganjur, Jakarta Selatan yang menjadi tempat digelarnya diskusi pada 8 September 2000. Pertemuan di sana memang merencanakan aksi peledakan. Hadir saat itu, pemilik bengkel, Tengku Ismuhadi, juga Ibrahim Manaf, Ibrahim Hasan dan Sayed Mustopha.

Tindak lanjut pertemuan tersebut hari berikutnya 12 September, Sayed Mustopha dan Zulkifli membawa bahan TNT dan RDX untuk dirakit menjadi bom. Perakitan bom dilakukan tersangka Irwan, anggota Komando Pasukan Khusus yang dibantu Ibrahim Hasan anggota Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) di bengkel yang tidak jauh dari kediaman Gus Dur itu.

Selanjutnya, pada hari itu juga tepatnya pukul 10.00 WIB, bom diletakkan dalam bagasi sedan Mark Two warna merah oleh Nuryadin. Sedan tersebut dikemudikan Irwan dan diikuti mobil Suzuki Sidekick ungu yang dikendarai Ibrahim Hasan, di dalamnya ada Ibrahim Manaf dan Tengku Ismuhadi.

Sebelum mengarah ke tempat tujuan, rombongan singgah dulu di BNI dan BCA Cilandak untuk menukar uang milik Tengku Ismuhadi sebanyak Rp 325 juta dan Rp 100 juta milik Ibrahim Manaf ke dalam dolar AS. Dengan harapan, abapila usaha mereka berhasil, dolar akan melonjak.

Selanjutnya, sedan merah meluncur dan masuk ke lantai P2 (parkir) Gedung BEJ. Tersangka Irwan kemudian keluar meninggalkan kendaraan yang telah memuat bom. Irwan langsung menuju mobil Suzuki Sidekick yang telah menunggu. Ketika peledakan terjadi, para tersangka sempat menyaksikan. Bahkan, karena jalan tertutup mereka masuk ke halaman dalam Polda Metro Jaya untuk berbalik arah.

Dalam keterangannya di Polda Metro Jaya, Tengku Ismuhadi mengaku mengetahui peledakan pukul 12.00 WIB. Menurut dia, peledakan dilakukan pada pukul 15.30 WIB dengan alasan, bila dilakukan siang hari, akan banyak menelan korban. Kendati demikian, Ismuhadi menolak dituduh sebagai otak di balik kasus tersebut.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
    Loading